
"Kenapa? Kenapa aku harus membiarkanmu tidur sendiri?Kenapa aku harus menurutinya? Tidak!"
"Aku butuh sendiri. Biarkan aku berpikir."
"Tanyakan padaku? Jangan membuat kesimpulan dengan pikiranmu sendiri! Tanyakan!Bagian mana yang kau ingin aku jelaskan!Akan kujelaskan disini, tak dimanapun,"frustasi Derian memegangi kedua lengan Karina, yang masih setia tak mau menatap Derian mendekap tubuhnya sendiri.
"Jangan berpikir sendiri, langsung tanyakan dan katakan padaku, akan kujelaskan, akan kukatakan apa yang akan kau ingin aku katakan. Semuanya!Tapi jangan katakan kau ingin sendiri malam ini aku tak setuju,"ucap Derian, kecemasannya mulai timbul seolah Karina meminta izin untuk pergi darinya dan tak akan kembali.
Derian memang mulai parno dengan setiap kata-kata Karina yang berhubungan dengan pergi atau sendiri, seolah Karina akan meninggalkannya.
Derian memaksa Karina masuk ke dalam pelukannya, memeluknya erat sangat erat memastikan Karina benar-benar ada di pelukannya. Karina menolak tapi tak benar-benar menolak, memukul dada bidang Derian tapi hanya perlahan. Dia mulai terisak.
"Kau tau bagaimana sakitnya ditelantarkan, kau tau bagaimana rasanya tak diperhatikan. Aku mengalaminya, aku pernah melalui itu semua, aku pernah mengalami itu semua dan itu sangat sakit, sakit sekali. Dan kau...kau melakukan itu semua pada mereka, anak-anakmu..."ucap Karina disela isakannya yang sudah berhenti memukuli dada Derian. Derian menghela nafas lega, saat Karina mulai mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Maaf..."bisik Derian.
"Kau tau aku yang begitu menginginkan seorang anak tak bisa mendapatkannya, tapi kau... kau yang sudah diberi dua orang putri tak seharusnya kau menelantarkan mereka, mereka masih kecil, mereka butuh kasih sayang, mereka membutuhkan perhatian darimu. Jangan jadikan alasan kau sibuk pekerjaanmu dan kau tau...lebih sakit lagi.. aku yang membuatmu menelantarkan mereka karena kau terlalu sering bersamaku... kau sungguh tega membuatku merasa bersalah sebesar ini?" Isak Karina semakin kencang menumpahkan segala tangisnya, tangisan tadi masih belum cukup untuk ditumpahkan.
"Maaf... maafkan aku... aku takut kehilanganmu, hingga aku tak mau jauh darimu atau meninggalkanmu terlalu lama, aku takut karena terlalu lama tak disisiku, kau akan tiba-tiba menghilang," lirih Derian memeluk lebih erat Karina. Karina membalas pelukan itu lebih erat. Tangisannya perlahan mereda.
**
Karina dan Derian masih terlelap, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi, akhir pekan membuat mereka semakin terlelap, apalagi semalaman Karina menangis dalam pelukan Derian. Sepertinya keduanya kelelahan setelah sama-sama saling jujur dan terbuka tentang keadaan keluarga Derian yang membuat Derian terobsesi pada Karina.
Dering ponsel Derian membuat Derian membuka matanya meraba-raba meja nakas tempatnya meletakkan ponselnya. Menatap nama yang tertera di layar ponselnya. Derian mengumpat saat nama Noah tertera di ponselnya.
"Hmm..."
"..."
__ADS_1
"Tak bisakah aku libur hari ini?"
"..."
"Buls***"
Derian menutup ponselnya, menatap Karina yang masih tertidur pulas. Derian melepaskan tangannya yang dijadikan bantal Karina perlahan, berharap Karina tetap terlelap.
Karina bergerak menggeliat tapi tidak bangun, meraba-raba ranjang menarik tangan Derian kembali saat mendapatkannya, menjadikannya bantal lagi sembari memeluk pinggang Derian untuk dipeluknya lagi. Masih tetap terlelap.
Derian tersenyum geli melihat tingkah Karina yang tumben sekali sangat manja. Derian kembali masuk dalam selimut ikut mendekap tubuh Karina ke dalam pelukannya. Dan dia ikut terlelap, persetan dengan pekerjaan, panggilan Noah sudah dia lupakan.
Tiga jam kemudian Karina merasa sakit di perut bagian atasnya, segera bangun berlari kecil ke kamar mandi. Derian ikut terbangun melihat Karina berlarian ke kamar mandi.
"Sayang... kau tak apa?" Karina mengunci pintu kamar mandi membuat Derian panik.
"Tak apa..aku hanya merasa datang bulan.." sahut Karina muncul kepalanya saja di pintu.
"Kau membuatku cemas?Kau butuh sesuatu?"tanya Derian.
"Bisa minta tolong ambilkan handuk baru?"pinta Karina. Derian menuju walk-in closet mengambil di laci dekat lemari dan menyerahkan pada Karina yang masih menyembulkan kepalanya saja.
"Makasih.." Karina masuk kamar mandi lagi dan membalutkan handuknya di bawah perutnya. Keluar kamar mandi menuju walk-in closet mencari-cari pembalutnya yang mungkin masih tersimpan di salah satu laci kecil lemari.
"Apa yang kau cari?"
"Pembalut. Sepertinya dulu aku pernah menaruhnya di sini."jawab Karina masih berusaha mencari tanpa menatap Derian.
Derian masuk kamar mandi membersihkan dirinya. Ponselnya tak henti-hentinya berdering, Derian sudah bisa menebak siapa, pasti Noah,dia pasti sedang mengomel karena telponnya pagi tadi.
__ADS_1
Derian menghadiri rapat meski terlambat. Setelah pamit pada Karina, Karina juga bersiap untuk datang ke undangan ulang tahun putra Reno, mantan suaminya. Dia sudah janji mau datang, saat bersiap dia merasakan sakit teramat melilit di perutnya. Kening Karina mengeluarkan keringat dingin. Setiap datang bulan, perut Karina selalu nyeri, tapi rasa sakit ini sedikit berbeda. Karina mencoba membaringkan tubuhnya sejenak, mereda rasa sakitnya berharap sedikit lebih baik. Setelah berbaring kurang dari 10 menit nyeri perutnya sedikit mereda, segera dirinya bergegas untuk bersiap kembali.
Kurang lebih setengah jam Karina sudah tiba di rumah baru Reno, dengan menenteng kantong untuk kado anak Reno. Selain merayakan ulang tahun putranya,Reno juga merayakan kepindahannya ke rumah baru.
Terlihat sudah banyak orang yang datang, anak-anak dan orang tuanya juga tetangga mereka mungkin. Karina berdiri di depan pintu ragu untuk menyapa.
"Mbak Karin,"sapa Irene sebelum Karina menyapa. Irene datang dari luar menyambut Karina ramah?Entah benar-benar ramah atau pura-pura ramah. Karina hanya tersenyum senang. Di belakang Irene ada mantan ibu mertua Karina, Hesti. Saat Karina hendak meraih tangan Hesti, segera Hesti melengos menghindari dan masuk ke dalam rumah.
"Ayo mbak!"ajak Irene tersenyum seringai yang tak dilihat Karina. Karina ikut masuk terlihat Reno menggendong putranya.
"Karina,"sapa Reno tersenyum tulus. Karina balas tersenyum, semua tamu hening menatap mereka berkumpul. Semuanya tau tentang cerita kehidupan keluarga Reno.
Hesti menatap Karina tak suka, merasa malu atas kedatangan Karina. Semua tetangga pasti membicarakan tentang keluarganya. Karina yang diam juga merasa tak enak dengan suasana canggung itu.
"Duduklah!" ucap Reno yang tak peduli kecanggungan diantara tamunya, banyak yang berbisik-bisik di belakang tentang keluarga Reno. Irene yang memang berniat mengundang Karina untuk mempermalukan Karina yang sebenarnya tak berharap dia akan datang malah semakin sebal. Suaminya memang mengatakan masih mencintai Karina, meski mereka sudah bercerai. Irene menghentakkan kakinya melihat Reno semakin memperhatikan Karina karena tak ada yang mempedulikan Karina.
TBC
Mohon dukungannya kakak...
Kasih like,rate dan vote nya...
Makasih udah kasih vote๐๐
.
.
.
__ADS_1