
Angel menunggu di bangku taman tempat biasanya dia makan siang. Sudah hampir setengah dirinya duduk sendiri menunggu. Tapi, tak ada tanda-tanda kalau Al akan segera datang.
Pesan chat yang dikirim sejak akan istirahat tadi masih belum dibaca. Apa dia sibuk? batin Angel melirik lagi ponselnya berharap pesannya dibaca meski tak dibalas. Angel menghela nafas panjang, entah kenapa raut wajahnya berubah kecewa melihat ponselnya tak ada notif pesan apapun.
"Wah, padahal mereka kan akan wisuda, kok sampai berantem begitu?"
"Pasti karena cewek?"
"Apalagi emangnya?"
"Harusnya malu dong, sudah dewasa juga."
"Apalagi kak Al, diakan biasanya pendiam banget, anak beasiswa prestasi lagi."
"Pasti beasiswanya bakal dicabut."
"Untung sudah mau wisuda."
"Apalagi lawannya berantem anak pemilik kampus."
"Iya ya."
Kasak kusuk semua mahasiswa dan mahasiswi yang melintas taman tempat biasanya duduk Angel saat makan siang membuat Angel terperangah. Dia segera mendekati mahasiswi yang baru melintas.
"Ada apa? Apa maksudmu? Apa yang sedang terjadi?" berondong Angel dengan banyak pertanyaan yang mengejutkannya dan dia ingin memastikan gosip yang sedang mereka bicarakan.
"Kak Al dan kak Bryan mereka berkelahi di depan kelas mereka saat bubar kelas."
"Iya, sampai babak belur keduanya."
"Yang paling parah kak Bryan."
"Mereka sekarang di ruangan rektor untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka."
"Kak Bryan bisa lolos tak bersalah karena anak pemilik kampus, tapi gimana dengan kak Al."
Kasak kusuk mereka makin santer terdengar, sesama mahasiswi itu saling menimpali ucapan teman-temannya.
Angel langsung berlari menuju tempat yang mereka maksud. Ruang rektor. Ruang rektor sudah dikerubungi oleh mahasiswa dan mahasiswi berbagai jurusan fakultas yang mengetahui dan menyaksikan langsung drama perkelahian antara Al dan Bryan.
__ADS_1
Mereka memang terkenal saling membenci dan saling bersaing dalam meraih peringkat kampus dan kepopuleran mahasiswa dan mahasiswi kampus. Al selalu meraih peringkat pertama dalam setiap mata kuliahnya. Sedang Bryan menang dalam kategori mahasiswa paling populer sekampus karena wajah tampan dan kaya.
Dan sekarang entah apa yang terjadi pada keduanya hingga bertengkar hebat. Bahkan Al yang pendiam dan selama ini tak pernah sekalipun menghiraukan ejekan-ejekan Bryan sebelumnya, kini Al mungkin benar-benar sudah diambang batas kesabaran hingga sampai membuat mereka berkelahi.
Awalnya mereka saling diam, tak tau bagaimana mulainya dan siapa yang memulai adu mulut terjadi saat Bryan mengucapkan sesuatu yang membuat Al naik pitam dan langsung menghantam wajah Bryan.
Bryan yang belum siap terhuyung jatuh ke belakang tanpa aba-aba mengumpat kesal dan terjadilah adu jotos antara keduanya yang sama-sama tak mau mengalah, hingga salah seorang geng Bryan memisahkan keduanya baru perkelahian itu berakhir. Keduanya kini terduduk di ruang rektor yang sudah dikelilingi banyak dosen, karena memang waktunya istirahat.
"Boleh aku dengar alasan kalian berkelahi?" tanya kepala rektor itu sekali lagi, meski sudah ke tiga kalinya dia bertanya, tapi tak ada yang mengeluarkan perkataan apapun dari mulut mereka. Malah Bryan tersenyum seringai menatap Al, yang membuat Al semakin geram ingin menghajarnya lagi. Nafas ngos-ngosan mereka kini sudah mulai tenang.
"Jika kalian diam, aku akan menghukum kalian berdua." seru rektor itu yang masih saja membuat keduanya bungkam. Kepala Rektor yang sudah berumur separuh baya itu menghela nafas panjang.
"Apa kalian benar-benar tidak ada yang mau menjelaskan?" tanya kepala rektor itu sekali lagi.
Keduanya tetap bungkam. Baik Al dan Bryan masih saling mempertahankan ego masing-masing.
"Permisi pak." sela Angel diantara keheningan itu.
"Siapa?" seru kepala rektor itu semakin emosi yang padahal tadi dia sudah dibuat emosi oleh kedua mahasiswa yang mempunyai pengaruh di bidang masing-masing.
"Saya pak ..." Angel mengangkat tangannya. Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh menatap Angel lekat.
Angel mendekati kepala rektor dan berbisik perlahan pada kepala rektor yang tak punya rambut di sisi atas kepalanya alias botak meski di atas telinganya sedikit tipis rambut.
"Siapa kamu?" tanya kepala rektor itu setelah Angel berbisik padanya.
"Benarkah?" ucap pak kepala rektor itu. Angel mengangguk tersenyum berusaha membuat pak kepala rektor itu percaya.
"Mau saya beri tahukan?" tanya Angel meyakinkan sekali lagi. Pak kepala itu memang pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Angel padanya, meski dia belum bertemu langsung.
"Baiklah! Anggap tak terjadi apapun. Kalian, saya anggap masalah ini selesai. Sekarang, bubar!" seru pak kepala dan semuanya ikut buyar setelah pak kepala pergi dari ruang sidang itu.
Semua bertanya-tanya apa yang dikatakan Angel sehingga membuat pak kepala melewatkan begitu saja masalah yang sedang terjadi. Biasanya pak kepala akan mengusut tuntas setiap kasus.
Angel mendekati Al dan Bryan, bergantian menatap keduanya bergantian. Keduanya juga sama-sama menatap Angel menunggu reaksi yang ditunjukkan Angel.
"Biar kuobati lukamu kak!" pinta Angel menarik lengan Al yang diikuti dengan tatapan tajam dari Bryan merasa marah dan kecewa karena Angel lebih peduli pada Al. Al hanya mengikuti tarikan tangan Angel menurut tanpa banyak bicara.
**
__ADS_1
"Aduh..." rintihnya saat Angel mengolesi luka di wajahnya secara telaten saat mereka sudah tiba di klinik kesehatan kampus yang sepi, dokter jaga sedang entah kemana.
"Sakitkah?" tanya Angel menghentikan gerakannya untuk mengolesi obat pada setiap luka Al. Al mengangguk masih belum bicara.
"Sudah puaskah setelah adu jotos seperti ini?" tanya Angel menyindir mulai lagi mengobati luka Al secara merata. Al tetap diam menatap Angel lekat.
"Kalian kan bukan anak kecil lagi, sudah mau wisuda lagi." ucap Angel lagi. Al tetap menatap Al lekat.
"Benar kau bertunangan dengannya?" tanya Al yang akhirnya membuka suara. Angel menghentikan gerakannya menatap Al lekat.
"Kak Al lebih percaya siapa? Aku atau kak Bryan?" jawab Angel balik bertanya.
"Dia bicara dengan yakin dan itu terbukti saat kalian berangkat bersama pagi tadi." jawab Al menatap Angel lekat menuntut penjelasan.
"Kemana kak Al saat aku meminta untuk bicara di bangku taman tadi?" Al diam.
"Kak Al tak membaca pesanku?" tanya Angel lagi. Al masih tetap diam.
"Aku mau menjelaskan tadi, tapi kak Al keburu berantem." ucap Angel lagi, Al menatap Angel merasa bersalah.
"Hatiku sakit saat melihatmu berangkat bersama Bryan. Sudah kukatakan aku tak suka kau bersama Bryan. Aku sudah katakan kau harus menolaknya jika Bryan memaksamu." jelas Al menatap Angel lekat dengan nada keposesifannya.
Angel menghela nafas, dia bingung ingin menjelaskan semuanya pada Al dari mana. Sedang situasinya kini tak memungkinkan jujur. Angel memeluk tubuh Al dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Al.
"Maaf..." ucap Angel dalam pelukan Al. Al membalas pelukan itu dan dada sesaknya perlahan lega, perlakuan Angel seketika membuatnya luluh. Al mencintai Angel melebihi apapun.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1