Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 89


__ADS_3

Bruk...


Al tanpa sengaja mendorong tubuh Alena yang mencoba membujuknya untuk mengatakan jati dirinya. Al yang sudah putus asa akan keadaannya tak bergeming untuk menjawabnya. Dia sudah merasa menjadi yang tak berguna karena tak bisa melakukan apapun.


Bahkan untuk hanya sekedar makan pun dirinya tak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Bagaimana dirinya akan berani pulang menampakkan dirinya yang sudah sangat tidak berguna ini. Bukannya akan membuatnya bahagia malah akan membuat orang yang dicintainya kerepotan dan terbebani dengan dirinya.


Itulah sebabnya Al tak mengatakan yang sebenarnya siapa dirinya yang sebenarnya. Al tetap saja bungkam jika Alena menanyakan siapa dirinya sebenarnya.


"Buang saja aku ke jalanan jika kau sudah tak mau mengurusku." seru Al kasar, dengan nada yang sedikit membentak.


"Bukan maksudku seperti itu Al, sudah lama kau tidak pulang, dan aku tak tahu siapa dirimu. Aku tak menemukan identitasmu saat kecelakaan itu. Bagaimana jika keluarga atau mungkin istrimu mencarimu? Aku akan sangat merasa bersalah pada keluargamu karena tak segera memberikan kabar pada mereka jika salah satu keluarganya sedang dirawat di tempatku." jelas Alena tanpa sadar air matanya menetes masih dalam keadaan berlutut tak jauh dari tempat Al duduk di kursi rodanya.


"Biarkan aku pergi dari sini. Akan kuurus diriku sendiri." seru Al masih tak menghiraukan Alena.


Memalingkan wajahnya serta kursi rodanya meski tampak kesulitan karena hanya menggunakan tangan kiri. Alena sungguh tak tega melihatnya. Dia ingin membantu tapi harga diri Al sungguh tinggi. Membuatnya tak tega memaksakan kehendaknya.


Alena tahu dan mengerti bagaimana putus asanya Al terhadap keadaannya saat ini. Siapa yang mau bertemu dengan orang yang dicintainya dengan keadaan dirinya yang tidak sangat baik-baik saja. Tapi menurut saran para dokter yang menangani terapi Al, Alena disarankan untuk mencari keluarganya sebagai penyemangat hidup untuk kesembuhan pasien sendiri.


Karena tak ada penyemangat hidup selain orang terdekat baik itu keluarga, istri atau suami atau orang yang kita cintai. Itulah sebabnya Alena mencoba membujuk Al untuk mengatakan jati dirinya. Dia sangat merasa bersalah dengan keadaan yang terjadi pada Al.


Karena dirinyalah Al menjadi cacat tapi dokter masih mengatakan bisa disembuhkan dengan catatan si pasien pun harus punya kekuatan untuk bangkit dari keterpurukannya.


Namun Al tak memiliki semangat itu, awal mula terapi dia tampak bersemangat tapi lama kelamaan hingga tiga bulan terapi merasa usaha dan semangatnya tak menampakkan apapun membuat Al semakin kehilangan semangat untuk sembuh seperti sedia kala.


Bahkan setiap hari Al selalu menolak dan membanting apapun di sekitarnya. Tak urung pula Al sering kedapatan menangis terisak di setiap malamnya yang merasa menjadi orang yang tidak berguna.

__ADS_1


"Al..." panggil seorang pria yang diketahui bernama Riko, sekretaris Alena yang juga kakak sepupu Alena.


Keduanya menoleh kearah sumber suara begitu juga dengan Al menoleh merasa namanya disebut.


"Ah, maksudku Alena. Satu jam lagi kita meeting dengan klien yang sudah lama kita minta menjadi investor." ucap Riko menatap wajah Alena dan Al bergantian.


Al langsung memalingkan muka tak menghiraukan keduanya. Alena mengusap air matanya, membenahi penampilannya.


"Aku harus meeting sebentar. Aku akan segera kembali jika meetingnya selesai." ucap Alena lembut mengusap pelan bahu Al. Yang diusap bahunya tak bergeming sama sekali.


Alena meninggalkan kamar itu, dia ingin disana lebih lama, tapi keadaan perusahaannya memaksanya untuk kembali ke kantor.


Al menerawang menatap keluar jendela yang ada di kamar itu. Memikirkannya dirinya yang entah apa yang harus dilakukannya. Dia juga ingin pulang, pulang ke tempat istrinya berada. Dia juga sudah sangat merindukan istrinya yang baru menjadi istrinya beberapa hati waktu itu.


Seandainya dia menuruti keinginan istrinya untuk menunggu sampai restoran hotel itu buka, mungkin hal ini tidak akan terjadi dan dirinya saat ini masih bersama dengan istrinya. Tanpa sadar air mata Al menetes di pipinya meski tak bersuara.


"Bagaimana kalau kita menunggu restoran hotel buka?" saran Angel saat Al sudah memakai jaketnya sebagai penghangat tubuhnya.


"Tunggulah sebentar, aku akan membelikan makanan untukmu, beberapa blok di depan ada restoran dua puluh empat jam." jawab Al memegang kedua lengan Angel meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Tapi..."


"Kau pasti lapar, aku tak mau membuatmu kelaparan. Semalaman setelah kita sampai, kita hanya menghabiskan waktu di ranjang. Jadi aku tak mau menunggu lagi sampai kelaparan."


"Biarkan aku ikut." pinta Angel memohon.

__ADS_1


"Aku tak akan lama. Tunggu aku di kamar. Ok?" ucap Al mengecup bibir istrinya sekilas dan keningnya.


"Hati-hati..." ucap Angel memelas merasa berat untuk melepaskan suaminya.


Al keluar menuju lift turun ke bawah menuju lobbi. Saat dirinya mencari informasi pada resepsionis dimana restoran dua puluh empat jam yang beroperasi saat ini.


Petugas resepsionis dengan ramah menunjukkan restoran yang dimaksud. Lima ratus meter tak jauh dari hotel itu. Al segera bergegas hanya jalan kaki menuju restoran itu.


Setelah selesai menunggu makanan yang dipesannya jadi, Al berniat melihat ponselnya namun ternyata ponselnya tertinggal di kamar hotel. Al mengurungkan niatnya langsung beranjak ke arah kasir untuk membayar tagihannya.


Al tersenyum senang mendapatkan apa yang diinginkannya. Menenteng dua kantong plastik berisi makanan yang dibelinya berjalan di trotoar hendak menyeberang namun saat dirinya belum setengah jalan, mobil yang lumayan berkecepatan tinggi datang dari arah kanan dirinya dan langsung menghantam tubuh Al hingga terpental dan berguling-guling di pinggir jalan.


Makanan yang dibawa langsung hancur berantakan berceceran di jalanan. Mobil langsung berhenti setelah menabrak pohon di dekat tubuh Al terpental. Wanita yang dikenali sebagai Alena turun dengan wajah panik dan ketakutan karena telah menabrak seseorang yang sedang menyeberang.


Alena segera menghubungi Riko mengatakan apa yang sedang dialaminya. Riko secepat kilat tak sampai lima belas menit karena hotel tempat mereka menginap tak jauh dari tempat kecelakaan itu terjadi. Riko langsung menghubungi ambulan dan mengurus semua hal yang terjadi saat itu juga.


Alena terlihat shock dan ketakutan serta kecemasan dengan apa yang akan terjadi pada orang yang ditabraknya itu. Alena takut jika pria yang ditabraknya itu sampai meninggal. Itu artinya dia akan dicap sebagai pembunuh.


Alena dan Riko ikut masuk ke dalam mobil ambulan yang membawa pria yang sudah berlumuran darah itu yang bisa dikatakan tipis untuk pria itu hidup. Dan entah bagaimana dompet Al jatuh tertinggal tak jauh di pinggir trotoar.


Flashback off


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2