
Seorang wanita muda berjalan di lorong kantor tempatnya bekerja dengan anggun dan elegan. Dengan diikuti seorang pria yang memegang tablet di tangannya sedang membacakan agenda kegiatan bosnya.
Dengan langkah ringan dan santai keduanya menuju lift yang membawa keduanya ke ruangan mereka. Wanita itu menaikkan sebelah tangannya menghentikan pria itu untuk mengatakan lebih lanjut jadwal mereka hari itu.
"Apa kakak benar-benar menyuruhku untuk melakukan semuanya itu?" seru wanita itu kesal.
Dia menyedekapkan kedua tangannya di dada sambil cemberut dengan sikap sepupu jauhnya yang juga merangkap sebagai sekretarisnya itu. Dia dipercayakan untuk menjadi sekretarisnya atas kemauan orang tuanya.
Wanita itu baru saja memulai kariernya setelah setahun yang lalu lulus kuliah yang diminta papanya untuk meneruskan perusahaan papanya karena dia putri tunggalnya. Bahkan perjodohan diantara keduanya sedang dilakukan meski mendapat penolakan dari putrinya yang katanya hanya menganggapnya sebagai kakak saja.
"Iya nona." jawab pria itu bersikap formal. Wanita itu langsung menoleh melotot pada kakak sepupunya itu.
"Aku sudah berkali-kali bilang pada kakak, jangan bersikap formal padaku. Apalagi saat kita sedang berdua, aku sungguh tidak nyaman." omel wanita itu kembali menghadap ke depan.
Pintu lift pun terbuka, keduanya keluar menuju ruangannya yang bersebelahan dengan wanita menjadi CEO perusahaan itu dan pria itu sebagai sekretarisnya.
**
Para dokter di ruangan itu hanya saling menggelengkan kepalanya melihat keadaan pasien yang belum ada perubahan sama sekali sejak kurang lebih dua minggu lalu. Tadi mereka merasakan pergerakan dari tangan pasien yang bebas dari infus tapi saat diperiksa itu hanyalah gerakan dorongan dari alam bawah sadarnya pasien.
Setelah diperiksa dengan seksama, tak ada perubahan apapun pada tubuh pasien itu, masih tetap sama saja. Para dokter segera meninggalkan kamar pribadi yang disulap sebagai tempat perawatan seseorang yang sudah koma kurang lebih dari dua minggu yang lalu itu.
**
"Ada apa kak?" tanya wanita itu melihat pria sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Tidak jadi." wajah sumringah sekretarisnya itu kini telah berubah menjadi sendu kembali setelah menutup panggilan ponselnya.
"Ada apa?" seru wanita itu yang sudah penasaran beranjak dari kursinya mendekati sekretarisnya.
"Menurut informasi, dia sempat bergerak dan ternyata itu semua palsu." ucap sekretarisnya itu, membuat wajah penasaran wanita itu juga berubah sendu. Dia kembali ke kursinya menatap kosong ke depan.
__ADS_1
"Apa dia akan bangun?" tanya wanita itu sendu entah pada siapa.
"Yakinlah dia akan bangun, kita akan berdoa semoga dia baik-baik saja." hibur sekretaris itu.
"Kakak benar, aku sangat merasa bersalah sekali."
"Semua bukan salahmu, itu adalah kecelakaan." hiburnya.
"Tapi, seandainya aku dengan sabar menunggu kakak, mungkin hal itu tak akan terjadi. Aku terlalu terburu-buru dan tak sengaja...."
"Cukup, kau juga sudah berusaha melakukan yang terbaik untuknya." potong pria itu.
Wanita itu menunduk sendu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membuat air mata penyesalan menetes di pipinya.
"Kau harus yakin Al, dia pasti akan segera sadar." hibur pria itu mendekap bahu wanita yang dipanggilnya Al itu.
**
"Aku menginap di rumah teman, ada proyek yang harus aku selesaikan." jawab Vio sedikit gugup sambil minum teh yang disediakan pelayan tadi.
"Apa rencanamu ke depannya?" tanya Karina.
Setelah kepulangan Vio dari London, dia belum bertemu dengan putrinya ini secara pribadi. Dia terlalu sibuk mengurus pernikahan putri sulungnya. Sehingga lupa membicarakan apa saja tentang putri kecilnya ini.
"Entahlah ma, aku belum memikirkannya. Aku fokus membantu mama mengurus kakak. Kak Angel butuh kita dan dukungan kita. Bagaimana pun juga mereka baru beberapa hari menikah dan harus berpisah entah berapa lama dan dimana keberadaan kak Al." ucap Vio membuat Karina semakin sendu dan terharu mendengar ucapan ketulusan putri kecilnya yang begitu menyayangi kakaknya meski bukan kakak kandung.
"Kau benar, kita harus memberinya semangat untuk tetap bertahan." jawab Karina tanpa sadar dia kembali menangis mengingat nasib Angel, membuat Vio dilema dan merengkuh tubuh mamanya memeluknya memberikan semangat.
"Vio." ucap Putri saat dia baru pulang dari butiknya untuk makan siang bersama menemani mama dan kakaknya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kak Putri." sapa balik Vio.
__ADS_1
"Kau sudah pulang nak?" tanya Karina lembut menatap Putri.
"Iya ma, aku mau makan siang di rumah menemani mama dan Kak Angel." jelas Putri ikut duduk di sofa.
"Terima kasih sayang, kalian memang Putri mama yang paling mengerti mama." ucap Karina terharu.
"Apa hanya aku yang ketinggalan sesuatu disini." sela suara bariton yang tiba-tiba ikut muncul di ruang keluarga.
"Sayang, kau juga pulang untuk makan siang?" tanya Karina lembut.
"Tentu saja." jawab Derian menatap wajah Vio yang serba salah dan salah tingkah mendapat tatapan intens dari Derian.
"Aku akan suruh pelayan menyiapkan makan siang dan mengajak Angel untuk makan siang bersama." ucap Karina setelah menyambut kedatangan suaminya yang tentu saja dengan peluk cium mesra.
Putri merasa jengah, apapun situasinya kedua orang tuanya selalu menampilkan kemesraan tanpa melihat dimana putrinya saat ini. Putri beranjak dari duduknya untuk ke kamarnya berganti pakaian. Sedang Vio...
"Vio..." panggil Derian menatap wajah Vio yang menegang.
"Iya pa." jawab Vio terpaksa menatap wajah Derian sedikit gugup.
"Ikut papa ke ruang kerja papa, sekarang!" perintah Derian tegas berlalu menuju ke ruang kerjanya diikuti Vio tanpa banyak bicara.
Vio meremas kedua jemari tangannya gugup. Vio bisa menebak dari tatapan mata Derian kalau dia tahu sesuatu tentang dirinya. Vio hanya bisa pasrah dengan apapun nanti yang dikatakan Derian. Jika harus dilakukan sekarang dia akan mengatakan semuanya meski resiko yang ditanggungnya tidak main-main, dia tahu betul siapa Derian.
Papanya orang yang tegas dan disiplin. Meski perempuan, Derian tak membeda-bedakan perlakuannya pada setiap anak-anaknya. Jika terbukti salah, dia akan menghukumnya. Dan jika memang terbukti benar, dia akan mempercayainya.
TBC
.
.
__ADS_1
.