
Kini kehidupan keluarga Dion dan Vio berjalan dengan damai. Dan mereka pun juga sudah pindah ke rumah mereka yang sudah selesai di renovasi. Apartemen bukan tempat yang cocok untuk keluarga kecil seperti mereka. Putra mereka membutuhkan kehidupan sosial yang bisa mengenalkan putra mereka pada masyarakat.
Sudah lebih dari seminggu mereka menempati rumah barunya. Kehidupan mereka baik-baik saja dengan kehadiran putra mereka yang diberi nama Reymond Arka Sebastian. Yang mereka panggil Rey, yang berharap bisa menjadi putra kebanggaan mereka.
Reno sering mengunjungi rumah mereka untuk melihat cucunya. Karina jarang mengunjungi mereka karena ada putrinya Angel yang harus dia dampingi tapi dia berusaha menyempatkan diri datang setiap hari ke rumah Vio meski hanya sebentar.
Angel seperti kehilangan semangat hidupnya duduk di sofa kamarnya menatap ke arah luar jendela. Pandangannya kosong, dia merasa sudah tak ada yang menyayanginya lagi. Dia sudah sering menghubungi Dion tapi tak juga diangkat panggilannya. Bahkan pesan chat nya tak dibalas meski di read.
Angel sempat melempar ponselnya di ranjang karena kesal. Karina berusaha menenangkannya meski berakhir dengan tangisan tersedu-sedu dari Angel yang merasa dirinya tak diperhatikan.
Kini kandungannya sudah memasuki tujuh bulanan. Angel menghampiri Karina yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Ma, aku mau jalan-jalan ke mall." pamit Angel yang ditahan Karina.
"Dengan siapa nak?" tanya Karina lembut memegang tangan Angel.
"Sendiri ma, aku suntuk di rumah, toh tak ada yang menemaniku." sindir Angel berlalu.
"Biar mama yang temani ya?" Angel menghentikan langkahnya berbalik menatap Karina.
"Bener ma?" tanya Angel antusias.
"Mama ganti baju dulu ya?" ucap Karina tersenyum lembut. Angel mengangguk dan duduk di sofa menunggu Karina.
**
Kini mereka sudah tiba di mall, jalan-jalan di luar rumah membuat Angel sedikit melupakan kesedihannya. Angel memasuki hampir semua toko di dalam mall meski hanya membeli beberapa barang yang menurutnya menarik.
"Ma, kita lihat perlengkapan bayi yuk!" ajak Angel menarik lengan Karina masuk ke dalam toko perlengkapan bayi yang ada di mall itu.
Matanya berbinar-binar bahagia melihat-lihat perlengkapan bayi di toko itu. Dia beralih dari tempat perlengkapan bayi itu dengan antusias. Karena antusiasnya dia tak sengaja menyenggol seseorang yang membawa barang-barang dan berhamburan di lantai.
"Maaf ... maafkan saya..." ucap Angel menundukkan kepalanya.
"Dion.." sapa Karina yang ternyata Dion lah yang disenggol Angel. Angel langsung mendongak menatap wajah Dion yang berdiri tegak di depannya.
__ADS_1
"Mama..." sapa Dion balik yang langsung menutup bibirnya karena keceplosan dan beralih menatap Angel yang kebingungan.
"Mama?" tanya Angel yang menatap Karina dan Dion bergantian dengan penuh tanda tanya.
Selama ini Dion selalu menolak memanggil Karina mama meski Karina tak keberatan, toh dulu keduanya sudah akrab, tapi Dion tetap tak mau memanggil Karina mama, dan kini lama tak bertemu Dion sekarang memanggilnya mama.
"Dulu kau kuminta memanggil mamaku mama kau keberatan sekali tapi sekarang sepertinya kau sudah fasih ya memanggil mama pada mamaku?" tanya Angel tersenyum senang melihat Dion di mall.
Belum juga Dion menjawab pertanyaan Angel, tatapan Angel beralih ke lantai tepat pada barang bawaan Dion yang jatuh berhamburan. Dion lekas memungutinya menyadari tatapan Angel.
"Kau belanja perlengkapan bayi?" tanya Angel membantu Dion memunguti barang-barang yang terdiri dari baju-baju bayi yang baru lahir beberapa bulan lalu.
"Sayang, kasihan perutmu, jangan berjongkok terlalu lama!" saran Karina sambil mengalihkan perhatian pertanyaan Angel.
Angel berdiri dengan memungut salah satu baju bayi belanjaan Dion. Merentangkannya mencoba memperkirakan untuk bayi umur berapa.
"Sayang, kita makan siang dulu yuk, sejak tadi kita jalan-jalan mengelilingi mall, pasti kamu lapar?" saran Karina menatap Dion mencoba memberi kode pada Dion.
"Di, kau beli pakaian bayi untuk siapa?" tanya Angel menatap Dion tak menjawab ucapan Karina.
"Itu... itu... untuk bayi temanku." jawab Dion gugup belum berani jujur karena Karina yang memohon di depannya untuk belum mengatakannya.
"Dua bulanan kurang lebih." jawab Dion merujuk pada putranya.
"Wah, umurnya sama dengan putra Vio adikku. Iya kan ma?" ucap Angel menoleh menatap Karina.
"I..iya sayang.." jawab Karina gugup yang terkejut tiba-tiba diajak bicara putrinya.
"Ikut makan siang dengan kami yuk? Lama kita tidak bertemu?" ajak Angel bergelayut mesra di lengan Dion.
Dion yang tak mengira Angel memperlakukannya seperti itu tak bisa menolak. Selain tak enak dengan Karina dia juga bingung untuk alasan apa lagi agar dia bisa lepas dari Angel. Dion terpaksa menuruti keinginan Angel ikut makan siang bersama. Setelah membayar belanjanya.
Dion mengikuti langkah kedua wanita beda usia itu dengan menenteng paper bag menuju restoran yang ada di mall itu. Dion menghela nafas panjang. Padahal selama ini Dion sudah bisa menghindari Angel dengan baik tanpa harus bertemu.
Bahkan Angel tak datang ke rumah Dion untuk melihat putranya setelah putranya lahir. Dion mensyukuri hal itu, sehingga hubungan mereka belum diketahui oleh Angel.
__ADS_1
"Duduklah!" pinta Angel menarik kursi di sebelahnya agar diduduki Dion yang berada di sisinya.
Dion hanya menurut tak banyak bertanya. Dia sungguh ingin mengatakan yang sebenarnya pada Angel, tapi tatapan Karina yang memohon padanya membuatnya urung dan dia hanya diam. Tak sampai setengah jam makanan yang dipesan mereka sampai. Mereka menikmati keduanya dengan senang. Dion mencoba ikut tersenyum meski dipaksakan.
"Mama ke toilet sebentar, titip Angel dulu ya Dion?" pinta Karina beranjak dari tempat duduknya.
"Iya ma." jawab Dion disertai anggukan. Karina pun pergi menuju toilet.
"Dion..." ucap Angel setelah Karina pergi.
"Ya?" jawab Dion menoleh ke arah Angel.
"Kau membenciku ya?" tanya Angel sendu.
"Eh, tentu saja tidak, kenapa aku harus membenci kakak?" ucap Dion balas bertanya.
"Selama ini kau selalu menghindariku, benarkan?" ucap Angel lagi sambil mengaduk-aduk makanannya tak berselera.
"Eh, bukan begitu maksudku. Aku merasa tak enak dengan kak Al, bagaimana pun juga sekarang kakak adalah kakak iparku." jelas Dion tersenyum gugup.
"Ah, sepertinya hanya aku yang baper sendiri ya. Padahal aku seperti merasa suamiku ada dengan kehadiranmu. Entah kenapa kalian mempunyai aura yang sama. Apalagi itu membuat kandunganku lebih baik." ucap Angel lirih, tersenyum getir.
Dion merasa bersalah mendengar ucapan Angel. Dia memang tak berharap Angel perasaan masa lalu Angel ada lagi. Tapi, demi mencegah hal itu Dion berusaha menghindar karena juga ingin menjaga perasaan istrinya.
"Kalau kakak membutuhkanku, kakak bisa menghubungiku, aku usahakan untuk datang. Kemarin-kemarin aku sibuk mempersiapkan diri untuk mengganti jabatan papaku sebagai CEO di perusahaan papa." jelas Dion tersenyum, dan Angel balas tersenyum sumringah.
Angel menggenggam erat jemari tangan Dion mereka pun tersenyum bersama. Di kejauhan tampak seorang pria yang terkepal erat tangannya, melihat interaksi keduanya yang begitu mesra, meski tak dapat mendengar ucapan keduanya, dia bisa menyimpulkan kalau kedua orang yang dikenali dan disayanginya itu sedang berbahagia.
Apalagi setelah kedatangan wanita paruh baya yang dikenali sebagai seorang ibu juga ikut tersenyum senang berbaur pada interaksi dua orang tadi.
Tatapan mata pria itu terlihat sedih dan penuh kerinduan yang kini hanya bisa ditepisnya merasa ragu untuk mendatangi mereka yang serasa akan mengganggu kebahagiaan mereka. Pria itu berbalik meninggalkan tempatnya.
TBC
.
__ADS_1
.
.