Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 42


__ADS_3

Reno terduduk melamun di depan jendela kaca ruang kerjanya. Sudah seminggu sejak dirinya pulang dari rumah sakit mendengar hasil dari pemeriksaan tubuhnya. Dan ternyata dirinyalah yang salah selama ini.


Bayangan ibunya dulu mengolok-olok, menghina, bahkan menyudutkan Karina terlintas dalam pikirannya. Reno sungguh merasa bersalah pada Karina. Kenapa dulu dirinya begitu bodoh tidak mendengarkan ajakan Karina, mungkin terlalu malu dirinya saat itu diajak ke dokter.


"Maaf... berdasarkan atas hasil pemeriksaannya anda dinyatakan kurang subur, hasil produksi sel ***** anda terlalu sedikit dan encer. Sebenarnya bisa diobati tapi karena faktor usia mungkin akan lama atau agak sulit..."dokter berhenti menjelaskan melihat wajah pasiennya yang berubah pias. Wajahnya terlihat kecewa dan pucat.


"Apa...bisa dilakukan pengobatannya?" tanya Reno ragu.


"Bisa. Tapi mungkin tidak bisa 100% sembuh. Karena faktor usia tadi dan pola makan sehat." jelas dokter lagi dengan hati-hati.


"Apa kemungkinan saya bisa punya anak dok?"


"Itu....hanya keajaiban dari Tuhan, manusia hanya bisa berusaha dan berharap."


Reno meninggalkan ruangan dokter itu dengan penuh penyesalan. Yang intinya dari kata-kata dokter itu adalah dirinya sudah sangat terlambat untuk mengetahui keadaannya. Dan mungkin seandainya dulu dirinya menuruti apa kata Karina, mungkin belum terlambat dan mereka bisa mempunyai anak dari keluarga kecil mereka dulu.


Kenapa aku sungguh bodoh, kenapa aku baru tahu sekarang, Kenapa penyesalan selalu datang terlambat. batin Reno*.


Reno pulang ke rumahnya, rencananya dirinya mau melakukan tes DNA secara diam-diam pada putranya dan Irene, Dion. Reno masih berharap kalau Dion merupakan darah dagingnya. Walau kemungkinan itu sangat kecil.


"Mas,mas sudah pulang?Mas kemana saja selama ini mas?" berondong Irene dengan banyak pertanyaan yang mengikuti langkah Reno ke kamar. Reno tak menghiraukan ocehan Irene, dirinya masih marah dan kecewa pada wanita itu. Yang kemungkinan membohonginya tentang anak mereka Dion. Tapi Reno tak mau gegabah, dirinya ingin membuktikan dulu dengan tes DNA secara diam-diam.


"Mas, jawab pertanyaanku mas? Dari mana saja selama ini? Apa mas menemui mantan istri mas yang j****g itu?"teriak Irene emosi karena tak dihiraukan suaminya.


"Cukup. Jangan berani kau menghinanya jika tak tau apapun!!"bentak Reno membuat Irene tersentak karena tak menyangka Reno membentaknya.


"Mas membentakku?"teriak Irene tak terima, air matanya mulai menetes. Reno pergi ke kamar tamu dan menguncinya dari dalam. Dirinya enggan masuk ke kamar mereka.


Teriakkan Irene tetap tak dipedulikannya. Selama ini dirinya mendengar Irene selalu menjelek-jelekkan Karina di depannya, tapi Reno hanya bisa diam. Dirinya tak punya alasan untuk menyangkal perkataan Irene. Bahkan ibunya juga sudah menghina, mengolok dan dulu pernah mengusirnya dengan kasar saat Karina berusaha mendekatkan diri pada ibunya. Yang kemungkinan Karina tak bersalah sama sekali. Tapi dirinya tak bisa membela Karina, harusnya dia lebih mempercayai Karina daripada ibunya. Yang jelas-jelas tau sifat ibunya.


**


Karina berjalan di sepanjang trotoar jalan setelah keluar dari cafe. Pikirannya melanglang buana memikirkan perkataan Adelia. Karina mencintai Derian, Karina juga menginginkan Derian disisinya demi dirinya juga demi anak yang masih ada dalam kandungannya. Tapi dia juga tak ingin membuat sakit hati anak-anak Derian yang lain, karena membuat mereka berpisah dari orang tua kandung mereka.


Karina bisa menyayangi mereka seperti orang tua kandung mereka, tapi alangkah lebih baik jika anak-anak bersama orang tua kandung mereka. Tapi saat mendengar cerita kedua anak itu dulu Karina menjadi tak yakin jika Adelia akan memperlakukan dengan baik kedua anaknya.


Deringan ponsel mengejutkan Karina dari pikirannya. Karina melihat layar ponsel, ragu untuk menjawab.


"Halo..."


"..."


"Aku masih dijalan."jawab Karina ragu karena tadi dia lupa untuk pamit dengan Derian apalagi untuk bertemu dengan Adelia. Dari cerita Derian, dia sangat membenci Adelia, bahkan dia tak mau membahasnya jika mereka sedang bicara. Apalagi setelah perlakuan Adelia pada Karina saat itu, kalau dia pamit pasti Derian menolaknya mentah - mentah.

__ADS_1


"..."


"Ah,aku ingin menemui anak-anak di tempat kerjaku dulu."


"..."


"Iya, setelah selesai aku langsung pulang."


"..."


"Baiklah. Aku juga."


Karina menutup ponselnya, menatap ponselnya lama.


"Bu Karin...lama tak kesini? Sudah sembuh? Sudah lebih baik?"tanya Ajeng memberondongi pertanyaan melihat Karina muncul dari gerbang sekolah.


"Bu Ajeng?Sakit ... ah ya sudah baik-baik saja."


Karina keheranan dengan pertanyaan Ajeng.


Apa Derian yang bilang pada mereka kalau aku sakit? Dia hanya mengatakan akan mengurus izin sekolah tempatku bekerja. batin Karina.


"Aku ingin menemui Angel dan Putri?"tanya Karina celingukan mencari sosok kedua gadis kecil itu.


"Oh mereka, akhir-akhir ini mereka jarang dititipkan, katanya ibu mereka menyuruh mereka langsung pulang setelah pelajaran sekolah. Katanya ibu mereka akan mengurus mereka setelah pelajaran selesai. Jadi mungkin sebentar lagi mereka keluar. Itu sopirnya sudah datang."jelas Ajeng.


"Terima kasih bu Ajeng." jawab Karina tersenyum.


Bel berbunyi tanda anak-anak yang ingin pulang langsung ke rumah berhamburan. Karina mencari keberadaan Angel dan Putri. Ajeng sudah pergi mengurus anak-anak saat semuanya keluar kelas.


Karina melihat Angel dan Putri menenteng tas sekolah mereka bersiap hendak pulang dan melambai pada keduanya.


"Bu guru..."


"Bu gulu.."


Teriak mereka bersamaan berlari menghampiri Karina.


"Bu guru kok lama gak masuk sekolah?" tanya Angel dan Putri hanya mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya.


"Ah, ibu izin sebentar karena ada perlu.Kalian langsung pulang?"tanya Karina mengalihkan pembicaraan sebelum mereka bertanya lebih lanjut.


"Kami langsung pulang bu setelah kelas selesai. Mama sekarang banyak di rumah dan menemani kami bermain dan belajar."cerita Angel dengan suka cita. Wajah Karina berubah pias, juga senang tapi hatinya terasa terjepit dengan rona kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Ibu traktir makan es krim mau?"ajak Karina ingin berbincang sebentar dengan mereka. Mereka mengangguk antusias.


"Pak,saya ajak mereka makan es krim sebentar ya?"pamit Karina pada sopir mereka.


"Iya bu?"jawab sopir itu menunduk.


Mereka sudah duduk di cafe es krim dekat sekolah. Setelah memesan, mereka duduk dengan tenang di kursi mereka. Karina belum mulai bicara. Setelah beberapa menit, pesanan mereka tiba, mereka makan dengan lahap dan sangat antusias.


"Enak?"tanya Karina tersenyum lembut.


"Enak."jawab Putri mengangguk diikuti Angel dengan mulut yang penuh es krim


"Ehm.. kalian langsung pulang setelah kelas selesai?"tanya Karina hati-hati.


"Iya bu guru, mama menyuruh kami langsung pulang setelah kelas selesai. Dan mama sudah ada di rumah saat kami pulang sekolah."jawab Angel antusias.


"Oh..."Karina hanya mengangguk-angguk.


"Mama sekarang selalu di rumah,mama gak pernah pergi-pergi lagi. Mama juga selalu bermain sama kita, baca dongeng, main boneka, belajar. Pokoknya mama lebih sering di rumah."jelas Angel dengan wajah polosnya. Dan Putri hanya mengangguk.


"Wah... kalian pasti senang?Kalian pasti bahagia."


"Iya bu,,aku sekarang bahagiaaaa banget."jawab Angel dengan polosnya dan tersenyum bahagia.


Karina ikut senang mendengar mereka.


"Kalau papa?"


"Papa masih sibuk dengan pekerjaannya. Tapi sekarang sering pulang tapi cuma sebentar. Tapi gak pernah tidur di rumah."


"Oh ya,kenapa?"tanya Karina memancing.


"Kata mama, papa punya mama balu." jawab Putri yang diangguki Angel.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2