
Rapat pemegang saham pagi itu masih berjalan alot. Dion mendesah kesal karena belum bisa menemukan jalan keluar para pemegang saham, sebagian belum percaya sepenuhnya kepadanya untuk memberikan jabatan CEO meneruskan papanya.
Dion diminta untuk membuktikan terlebih dahulu kinerjanya selama mengelola perusahaan papanya dipandu oleh papanya sendiri. Keputusan sementara Dion disuruh membuktikan kinerjanya selama satu bulan ke depan. Jika dia berhasil menaikkan harga saham bulan depan, maka mereka akan setuju mengangkat Dion sebagai CEO pengganti Reno.
Dion terpaksa menuruti kemauan keputusan para pemegang saham. Itu terpaksa dilakukan karena keinginan Reno.
Jam makan siang rapat dihentikan. Dion melirik ponselnya mendapat panggilan dari istrinya. Dion tersenyum senang menerima panggilan itu.
"Halo sayang."
"..."
"Ada apa istriku tiba-tiba menghubungiku?" canda Dion tersenyum lembut.
"..."
"Tentu. Ada hal penting apa?"
"..."
"Papa? Papa Derian? Baiklah. Aku akan segera kesana. Aku merindukanmu."
"..."
Dion menutup ponselnya, tersenyum senang mendengar kabar ayah mertuanya mengundangnya untuk bertemu. Menurut tebakan Dion, sepertinya ayah mertuanya itu sudah mengetahui tentang pernikahannya dengan putri kesayangannya itu.
Apalagi pernikahan itu tanpa lamaran dan tanpa kehadiran kedua orang tua dari pihak mempelai perempuan. Walau hanya ada Putri sebagai saksi dari pihak Vio.
Dion segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mertuanya. Dion akan menerima apapun yang akan dilakukan oleh ayah mertuanya asal dia merestui pernikahan kami.
Dion mengakui kalau caranya menikahi istrinya salah, dia melakukan hal itu untuk mencegah istrinya itu kabur lagi. Dan lagi kedua mertuanya sedang sibuk mengurus hilangnya menantu mereka yaitu kak Al, suami Angel.
__ADS_1
Dion tiba disambut pelayan rumah itu yang membukakan pintu untuknya dan memintanya untuk menemui ayah mertuanya di ruang kerjanya.
Pengalaman masa lalu mengingatkannya kejadian dulu saat melamar putri Derian yang lain, dia juga menemui ayah mertuanya itu di ruang kerja itu juga. Sehingga Dion tak perlu diantar pelayan rumah untuk menuju ruang kerja yang dimaksud.
Tok tok tok
Dion mengetuk pintu ruang kerja dan dia langsung membukanya begitu mendengar perintah masuk dari suara bariton dari dalam ruangan yang dikenalnya itu suara ayah mertuanya.
Cklek
Pintu terbuka, kedua orang di dalam ruangan yang diketahui istri dan ayah mertuanya membuat Dion tersentak meski sudah menebaknya.
"Sayang..." sapaan spontan dari mulut Dion mendapat tatapan tajam dan dingin dari sang ayah mertuanya yang melihatnya tak suka dengan panggilan yang ditujukan pada putri kesayangannya, yang tak lain sudah menjadi istrinya.
Ayah mertuanya menyuruh istrinya untuk menunggunya di kamarnya, meski sempat dibantah istrinya, Dion segera membujuk istrinya dengan gelengan kepalanya yang langsung dituruti oleh istrinya.
**
"Aku tak apa." jawab Dion dengan masih sambil memejamkan matanya menghibur istrinya yang menangis karena luka-lukanya.
Tak dipungkiri, pukulan bertubi-tubi di wajahnya yang diberikan sang ayah mertuanya sangatlah sakit. Dion sempat mengaduh saat ingin menggerakkan tangannya sedikit saja. Ayah mertuanya benar-benar memukulinya dengan sungguh-sungguh tanpa belas kasihan.
"Mas masih bilang tak apa, dengan tubuh babak belur seperti ini?" tanya Vio kesal melihat suaminya sok kuat.
"Dengan begini, tak ada alasan papamu untuk tidak merestui pernikahan kita."
"Itu..."
"Aku rela menerima hukumannya untuk memperjuangkan istriku." ucap Dion tersenyum meski terlihat meringis, karena saat tersenyum sudut bibirnya yang membengkak terasa perih.
"Terima kasih mas." ucap Vio sambil menghapus air matanya yang mulai berhenti mengalir. Dion menggenggam erat jemari tangan istrinya yang dibalas lebih erat juga oleh istrinya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." bisik Dion lirih yang masih didengar Vio.
"Aku juga... sangat mencintaimu." balas Vio meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya yang direngkuh oleh suaminya, mengelus perlahan rambut lembut istrinya.
**
Di kamar mewah yang sudah di sulap seperti ruang ICU rumah sakit, lengkap dengan peralatan medis yang sudah memadai. Terbaring lemah tubuh pasien yang dipasangi berbagai macam alat rumah sakit untuk menunjang kehidupan pasien itu.
Namun tubuh itu tetap diam tak bergerak meski dokter sudah melakukan segala macam upaya untuk membuat tubuh pasien itu bangun. Namun usahanya selama sebulan pasien dipindahkan ke ibukota ini tak membuahkan hasil sama sekali.
"Apa tak ada perkembangan sama sekali?" tanya wanita itu dengan tatapan wajah sedih dan merasa bersalah.
"Maaf nona, kami sudah melakukan semaksimal mungkin." jawab salah satu dokter yang diyakini sebagai ketua para dokter yang dibayarnya untuk merawat pasien yang ditabraknya satu setengah bulan lalu.
"Kalian itu dokter, bukannya tugas kalian untuk menyembuhkan orang sakit? Buang saja lisensi kedokteran kalian jika tidak bisa mengobati orang sakit." teriak wanita itu penuh emosi, pasalnya seolah dia merasa percuma membayar lima dokter spesialis itu untuk mengobati pasien itu.
"Al, bersabarlah!" seru pria itu menyentuh kedua pundak wanita yang dipanggilnya Al itu yang selalu mendampinginya di setiap langkahnya, yang sudah seperti kakak, teman dan asisten pribadinya.
Di sisi lain, pasien menggerakkan tangannya lagi, seolah merespon teriakan wanita yang dipanggil Al itu. Al langsung berbalik menyandarkan wajahnya ke dada bidang pria itu yang dibalas dengan dekapan dari pria itu menghibur wanita itu yang perlahan mulai terisak mengendalikan emosinya. Pria itu melambaikan jemari tangannya ke udara mengharapkan para dokter itu meninggalkan keduanya.
"Yakinlah dia akan sadar. Dan kita akan tahu siapa dia dan mengantarnya pulang." hibur pria itu menepuk punggung wanita itu yang hanya terisak tak menyahuti ucapan pria yang mendekap tubuhnya.
TBC
Maafkan typo
.
.
.
__ADS_1