Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 92


__ADS_3

Alena mendapati Al yang tengah melamun di depan jendela kamarnya. Alena menatap penuh kasihan melihatnya. Dirinya sangat merasa bersalah dengan keadaan terpuruknya pria itu. Al menatap kosong ke arah luar jendela. Alena mendekati perlahan berharap kedatangannya tak mengejutkan pria itu.


"Kau mau jalan-jalan di luar?" tanya Alena lembut sudah berdiri di samping Al yang tak merespon kedatangannya.


Dia tetap menatap ke luar jendela tanpa menjawab ucapan Alena. Entah apa yang dipikirkannya.


"Ayo, biar kubantu!" ajak Alena dengan suara lembut.


Hari itu hari minggu, Alena ingin di rumah saja. Pekerjaannya yang menumpuk ditinggalkannya begitu saja. Dia sedang tak ingin mengerjakan pekerjaannya. Dia akan menyerahkan segalanya pada Riko orang yang dipercainya dan orang kepercayaan keluarganya juga.


Makanya keluarga sangat antusias ingin menjodohkannya dengan pria itu karena berpikir Riko orang yang tepat untuk meneruskan bisnisnya nanti jika sudah menikah dengan Alena. Meski keduanya sepupu tapi sepupu jauh.


Yang masih memungkinkan untuk mereka bersatu. Dan itu artinya mereka tak memiliki hubungan darah secara langsung. Hanya putra dari sepupu papa Alena dari kerabat ipar jauhnya.


"Tinggalkan aku sendiri!" ucap Al saat merasakan kursinya hendak didorong. Alena membatalkan niatnya untuk mendorong.


"Kau tak pernah keluar dari kamar setelah sadar dari koma. Bahkan keluar kamar pun juga tak pernah. Cobalah untuk mencari udara segar di luar. Aku akan menemanimu." ucap Alena lembut masih belum menyerah.


"Tinggalkan aku sendiri!" bentak Al semakin kencang saat merasa kursinya hendak didorong lagi.


Alena sedikit terkejut meski pernah dibentak Al juga. Namun Alena mencoba bersabar untuk tidak ikut berteriak juga. Dia tak mau menyakiti lebih dalam pria yang tidak sengaja dilukainya ini.


"Udara sangat cerah diluar. Siapa tahu bisa menyegarkan tubuhmu." bujuk Alena lagi masih dengan nada lembut.


"Apa kau tuli? Apa kau tak dengar? Tinggalkan aku sendiri!" bentak Al lagi menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


Alena menggeram, mengepalkan tangannya erat, dia sudah tak sabar.


"Apa kau hanya bisa membentak dan berteriak. Kau laki-laki bukan. Kenapa kau sangat lemah, mana laki-laki yang seharusnya gagah dan perkasa. Pantas saja kau tak dibuat sembuh oleh Tuhan. Kau orangnya sangat lemah, egois dan menyebalkan. Kalau kau tak mau terserah. Mau duduk di kursi roda itu selamanya? Rasakan saja. Aku sudah lelah untuk membujukmu. Kalau kau memang tak menginginkan pulih dari awal. Seharusnya kau mati saja sekalian agar tak meratapi kondisi tubuhmu sekarang." teriak Alena di depan Al, menuding-nuding wajah Al kesal.


Alena sungguh sudah diambang batasnya, dia tak peduli lagi apa yang akan dilakukan pria ini. Kalau dia mau bunuh diri karena kata-kata kejamnya silahkan saja. Alena sudah tak peduli. Al yang tak mengira akan diteriaki bahkan dibentak oleh wanita yang selama ini menolongnya.


Sebenarnya dia pun tak mau melakukan hal ini, dia sudah terlalu putus asa dengan keadaan dirinya. Bahkan dia malu untuk pulang ke rumah dengan keadaannya. Takut jika keluarga dan istrinya menolaknya karena keadaan buruknya. Dan Al tak mau merepotkan siapapun dan tak mau menunjukkan sisi buruknya pada siapapun terutama pada istrinya, orang yang sangat dicintainya.


Al bengong, pikirannya blank mendengar teriakkan Alena yang menohoknya. Alena segera meninggalkan kamar itu setelah meluapkan segala emosinya.


Ucapan Alena terus terngiang di benaknya. Membuat Al banyak berpikir dan membuka sedikit pikirannya sempitnya.


Apakah dia memang seburuk itu hingga Tuhan memberikan rasa sakit yang tak kunjung sembuh karena merasa tak bersyukur dengan keadaannya yang masih hidup meski cacat karena kecelakaan itu. Apalagi cacatnya bukan permanen, dokter pun mengatakan ada kemungkinan sembuh untuknya jika dia berusaha.batin Al merenungi segala hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dia sering meratapi nasibnya, terpuruk dengan keadaannya. Bahkan selalu menyerah dan putus asa.


***


Dion akhirnya mengiyakan permintaan Karina meski dengan berat hati. Dion menatap lekat wajah istrinya berharap istrinya membujuk Karina untuk memohon padanya tentang hal ini namun Vio malah ikut serta membujuknya. Dion menghela nafas panjang.


"Kau capek menemaniku?" tanya Angel saat mendengar helaan nafas berat Dion.


"Bukan itu. Aku hanya memikirkan pekerjaanku." elak Dion beralasan.


"Ini hari minggu. Apa kau harus kerja juga?" tanya Angel.


"Aku harus membuktikan kinerjaku selama sebulan ini pada para pemegang saham untuk bisa menggantikan posisi papaku." jelas Dion yang merasa lega mendapat elakan alasannya.

__ADS_1


"Ah, begitu ya? Kau menjadi CEO menggantikan papamu?" tanya Angel antusias menghentikan langkahnya.


"Benar." jawab Dion singkat.


"Kau pintar, pasti kau bisa membuktikan pada mereka." ucap Angel tersenyum.


"Tentu."


"Ayo duduk disini!" ajak Angel menarik lengan Dion duduk di gazebo samping rumah itu.


Dion hanya menurut. Dia merasa tak nyaman berdua saja dengan Angel, apalagi tatapan mata Angel menyiratkan hal yang tak mau dilihatnya lagi. Tatapan memuja dan kerinduan yang pernah dilihatnya dulu. Ingin Dion mengatakan sebenarnya status dirinya dan siapa dirinya.


Tapi Dion takut jika itu berimbas buruk pada Angel. Apalagi dokter mengatakan untuk tidak membuatnya shock karena akan mempengaruhi kondisi dirinya bahkan buruknya akan terjadi hal buruk pula pada janinnya. Itulah sebabnya Dion masih menahan diri untuk bersabar mengatakannya.


Vio menatap interaksi keduanya sejak awal mereka di taman. Sakit, sesak di dada itulah yang dirasakannya saat ini. Vio sungguh keberatan dan tak mau membujuk suaminya. Tapi permintaan Karina membuatnya tak sanggup menolak.


Apalagi saat ini Derian papanya sedang sibuk dengan bisnisnya yang sudah mulai berjalan setelah pembukaan hotel cabang mereka. Derian juga sedang sibuk berusaha untuk mencari keberadaan Al menantunya yang entah sekarang ada dimana.


Vio mencoba bersabar dan melapangkan hatinya. Bahwa dia melakukan semua itu untuk kakaknya. Dan tak mungkin suaminya akan jatuh terjerat lagi oleh cinta pertamanya itu. Vio mencoba percaya pada suaminya tak akan ada apapun yang terjadi pada mereka.


Vio masuk , ke kamarnya mencoba beristirahat dan menenangkan dirinya saja. Tubuhnya sangat lelah begitu juga dengan pikirannya. Dia ingin beristirahat sebentar saja.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2