
Karina mengikuti langkah lebar Derian dengan berlari kecil, pergelangan tangannya masih dicekal Derian yang sedang emosi. Karina memegangi perutnya yang dirasa nyeri dibawah perutnya.
Dengan menahan rasa sakit Karina tetap mengikuti Derian tanpa protes. Akan lebih baik diam saat Derian emosi, itu tak akan memperparah kemarahan Derian. Baru kali ini Karina melihat Derian sangat marah, biasanya dia tak pernah menunjukkan kemarahannya di hadapan Karina.
Derian menarik paksa pergelangan tangan Karina dengan kasar, menyeretnya ke dalam kamar mereka. Menarik dres Karina hingga sobek dan melepas seluruh pakaian Karina.
"Dimana dia menyentuhmu,ha? Jawab! Disini... disini...disini...?"teriak Derian mengecupi setiap tubuh Karina yang ditunjuk.
Setelah Karina terdorong telentang di ranjang. Karina hanya menangis meratap menggelengkan kepalanya mencoba mencegah Derian melecehkan dirinya.
Tapi Karina lebih memegangi perut bawahnya yang semakin mengejang, sakit.
Tapi Derian yang sedang dibutakan cemburu tak menghiraukan kesakitan Karina. Dia semakin brutal dan kasar menggauli istrinya.
Karina menahan diri mencoba melindungi janinnya. Meski kata dokter sudah cukup kuat untuk janinnya jika mereka berhubungan intim tapi kekasaran dan kebrutalan Derian karena kecemburuan membuat Karina ragu dan berniat melindungi janinnya.
Dua jam Derian menggauli Karina dengan kasar dan brutal, Karina terlelap, rasa sakit di perut bawahnya sudah perlahan hilang. Derian menutup tubuh Karina dengan selimut. Mengecupi seluruh tubuh Karina dengan lembut tak kasar seperti tadi. Sungguh menyesal dirinya telah mngkasari istrinya.
Berulang-ulang kata maaf didengungkan di telinga Karina. Yang membuat Karina yang awalnya terlelap bangun tapi pura-pura tidur dan mendengar semua permintaan maaf Derian. Tak terasa air mata Karina menetes membasahi keningnya. Derian masuk dalam selimut mendekap tubuh Karina masuk dalam pelukannya. Ikut terlelap di dalam pelukan Karina.
Pagi sekali Derian sudah berangkat ke kantor, sedang Karina masih terlelap. Derian tak tega membangunkannya. Setelah mengecup pipi Karina Derian pamit pergi.
Karina membuka matanya setelah terdengar pintu depan keluar apartemen tertutup. Karina segera bangun, dirinya memang berniat pura-pura masih tidur karena tak ingin melihat wajah Derian, Karina masih marah dan kecewa atas sikap Derian padanya kemarin.
Tanpa mendengar penjelasan darinya, Derian langsung melampiaskan kecemburuannya dengan melecehkannya secara kasar dan brutal tanpa belas kasihan sedikitpun tak memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Meski setelahnya membisikkan kata-kata maaf di telinganya.
"Bagaimana proses perceraiannya?"tanya Derian tak sabar pada Noah yang mengikuti Derian masuk ke dalam ruangannya membawa setumpuk berkas dokumen.
"Hakim belum bisa memutuskan karena nona memohon diberikan kesempatan."jawab Noah ragu melihat suasana hati tuannya terlihat tidak baik.
"Apalagi itu? Kau tak bisa menunjukkan bukti kesalahan-kesalahannya di masa lalu?"
"Seperti nona sudah benar-benar berubah dan kedua putri anda sangat menginginkan nona tetap menjadi ibu mereka."
"Shit..." Derian mengumpat kesal, kata-kata kotor sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Aku harus segera mengikat Karina lebih lagi, Karina bukan wanita yang dengan mudahnya mau bersamanya dalam waktu lama jika dia tau aku masih terikat dengan pernikahan lamaku. batin Derian memejamkan mata bersandar di kursinya.
Aku tak mau Karina berpikir untuk lari lagi dariku, tapi bagaimana lagi aku mengikatnya, kami sudah menikah biarpun cuma menikah siri tapi Karina seakan ingin lari dariku, dan kudengar mantan suaminya sudah bercerai. Apa sekarang dia mengincar Karina lagi? Derian berpikir keras.
Karina bangun dari tidurnya sudah tak terasa sakit lagi di bawah perutnya. Saat akan menyibak selimut, terdapat darah yang mengalir dari pahanya.
__ADS_1
"Aaarg..."Karina menjerit berlari masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan pergi menuju rumah sakit tempat memeriksakan kandungannya.
Karina antri cukup lama, setelah giliran tiba, Karina masuk dan mengatakan keluhannya pada dokternya.
Karina diperiksa dengan teliti oleh dokter itu.
"Alhamdulillah...bayi anda sehat, dia sudah melewati masa trisemester awal, lihat... detak bayi anda sangat kuat."jelas dokter itu membuat Karina tersenyum lega.
"Tapi tadi keluar darah dok?"
"Itu hanya sisa darah kelebihan selama berhubungan beberapa waktu sebelumnya."
"Selanjutnya apa ada yang harus saya hindari dok?"
"Akan lebih baik jika dilakukan dengan lembut, jangan terlalu kasar. Kalau terjadi lagi mungkin akan sedikit berbahaya."jelas dokter, Karina mengangguk mengiyakan.
"Karina!"panggil Reno saat bertemu Karina di luar rumah sakit.
"Mas Reno. Maaf atas kejadian kemarin?" ucap Karina menunduk saat melihat wajah Reno memar di beberapa bagian wajahnya.
"Ah tak apa, kau sendiri tak apa?Apa kemarin dia memperlakukanmu dengan baik? Dia terlihat sangat marah kemarin? Akulah yang seharusnya minta maaf."balas Reno serba salah.
"Ini sudah tak apa.Oh ya sedang apa? Periksa kandungan?" tanya Reno terdapat nada getir di akhir kalimatnya.
"Iya... dan keadaan sehat."
"Sudah berapa bulan?"
"Ah baru 7 minggu jalan."
"Semoga selalu sehat."
"Terima kasih.Oh ya mas sendiri?"
"Oh, Dion jatuh dan kepalanya bocor tapi sudah dijahit tak apa, aku dihubungi saat di kantor."
"Ya ampun kasihan sekali. Boleh aku melihatnya?"
"Tentu... ayo!" Mereka jalan bersisian menuju ruang rawat Dion. Dion sedang bersama bibi pengasuh yang menangis karena kesakitan.
"Sayang .. mana yang sakit."
__ADS_1
"Wawawa...Hua..Hua.. "teriakan tangisan Dion semakin kencang saat melihat Reno datang dibawa ke gendongannya. Seolah mau mencari perhatian papanya. Karina tersenyum melihat Reno yang begitu telaten mengurus Dion dan menenangkannya.
"Sayang...cup cup cup.. Dion kan anak baik."Dion pun diam dan terlelap dalam gendongan Reno mungkin karena habis diberi minum dan obat bius dokter.
Reno meletakkan Dion ke ranjang ruang perawatan di kamar itu.
***
Karina mendatangi kantor Derian setelah lama berpikir setelah pulang dari rumah sakit. Adelia menghubunginya lagi dan memohon kalau kedua anaknya ingin menemui papanya dan sangat merindukan papanya. Karina merasa kasihan bukan pada Adelia tapi kepada dua gadis kecil cantik itu yang ikut berbicara pada Karina saat di telpon tadi, meski kedua gadis kecil itu belum tau siapa dirinya.
"Nona mau bertemu siapa?"tanya resepsionis itu saat Karina hendak masuk ke gedung itu.
"Pak direktur ada?"
"Ada sudah buat janji?"Karina menggeleng.
"Tidak bisa Bu, pak direktur sibuk, kalau belum ada janji tidak bisa menemuinya."
"Begitukah?" Karina terlihat kecewa.
"Nona?"seru Noah dari kejauhan seperti melihat Karina dan ternyata memang Karina istri siri tuannya. Karina berbalik merasa ada yang memanggilnya.
"Tuan Noah!"seru Karina senang melihat Noah sekretaris Derian yang dia kenal.
"Apa anda ingin bertemu pak direktur?"tanya Noah melirik resepsionis itu dengan tatapan tajam. Resepsionis itu menunduk ketakutan saat sadar bahwa dirinya telah membuat kesalahan terhadap wanita yang ternyata mengenal pak sekretaris dan pak direktur.
"Mari saya antar?"pintanya. Karina mengikuti Noah.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1