
"Nona,tuan menyuruh saya untuk menjemput anda?"ucap Noah menundukkan kepala pada Karina saat Karina muncul dari dalam tempat kerjanya. Karina memang sedikit pulang terlambat, untuk mengurus sesuatu dan dia juga sudah menghubungi Derian untuk tidak menjemputnya karena ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi Karina tak menyangka jika Derian meminta sekretaris- nya untuk menjemputnya bukan sopirnya.
Karina tak banyak bicara,saat semua rekan kerjanya menatap heran pada Karina dan bertanya-tanya siapakah orang yang menjemput Karina.
Saat Derian yang menjemputnya, dia pasti menunggu agak jauh dari tempatnya bekerja, demi menghindari kesalahpahaman yang mungkin terjadi. Tapi ini Noah yang seorang sekretaris Derian menjemputnya pulang kerja langsung menunggunya di luar pintu ruang ruangannya. Karina yang merasa canggung tanpa bantahan segera mengikuti Noah masuk ke mobil mewah yang dibawanya yang terparkir di halaman gedung sekolah tempat- nya bekerja.
"Apa Derian tak mengatakan sesuatu padamu?"
"Tuan menyuruh saya untuk menjemput anda dengan selamat."jawab Noah masih dengan serius memegang kemudi.
"Maksutku,apa dia tak bilang jangan menjemput, tidak maksutku...ah sudahlah..."Karina bingung menjelaskan, biasanya sekretaris Derian selalu peka apa yang mesti dilakukannya tanpa dijelaskan apapun.
Sesampainya di depan gedung apartemen, Karina belum turun dari mobil.
"Aku harus pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti?"kata Karina sebelum Noah turun dari mobil.
"Tuan sudah menyiapkan semuanya di apartemennya nona!"jawab Noah masih duduk di belakang kemudi. Karina hanya menghela nafas.
"Dan tuan menitipkan ini,"ucap Noah sambil menyodorkan dua buah kartu pada Karina, yang diingat Karina kartu yang sama yang diberikan Derian dulu saat dirinya tinggal di apartemen itu, masih tetap sama warna dan bentuknya dan mungkin...
"Semuanya masih sama seperti dulu."lanjut Noah seperti tau apa yang dipikirkan Karina.
Karina ragu untuk menerimanya.Noah segera pergi setelah Karina lama menerima kartu-kartu itu yang sudah turun dari mobil.
**
"Aku butuh uang!"seru Adelia saat tiba di ruang kantor Derian dengan gaya sombongnya mendekati Derian di tempatnya duduk,tapi Derian segera berdiri sebelum Adelia berbuat macam-macam.
"Aku sudah memberikan apa yang kau butuhkan!"jawab Derian ketus tanpa menatap Adelia. Adelia yang di belakangi Derian tak menyerah, memepetkan dadanya kepunggung Derian merayu Derian lebih dalam. Tapi Derian langsung berbalik menghindari Adelia yang menempel seperti lintah berdiri jauh dari Adelia.
"Tentu saja kurang.Kau sudah memblokir semua kartu kreditku.Bagaimana itu cukup." seru Adelia tak menempel lagi, mencoba mengalihkan pandangan ke sekitar meja kerja Derian.
__ADS_1
"Pergilah!Aku tak akan memberikan apapun lagi,aku sudah memberikan cukup padamu dan tidak akan lagi,"seru Derian emosi dan semakin jijik melihat Adelia yang memakai baju kekurangan bahan,meski baju itu berkualitas tinggi.
Tak menyerah Adelia mendekati Derian yang sudah berbalik membelakanginya menatap keluar jendela di ruangannya itu. Adelia langsung mendekat memeluk Derian dari belakang,mendekap erat. Derian tersentak segera berusaha melepaskan diri dari dekapan Adelia. Saat Derian berusaha menoleh berusaha melepas pelukannya,suara blitz kamera ponsel mengambil gambar mereka yang sedang berpelukan erat. Adelia segera melepas pelukannya dan berlari berdiri agak jauh dari Derian. Derian mengumpat kesal setelah melihat kelakuan Adelia.
"Kau ingin aku mengirimkan kemana?"pamer Adelia menunjukkan hasil jepretannya di tempatnya berdiri jauh dari tempat Derian dekat pintu,berharap jika Derian mengejarnya, dia bisa segera berlari.
"Shitt,,"umpat Derian langsung berusaha mendekati Adelia tapi...
"Eit... kalau kau berusaha mendekat,foto ini akan terkirim."
Derian langsung berhenti tidak jauh dari tempat Adelia.
"Akan aku berikan uang itu, hapus foto itu,"
"Kirimkan dulu uang itu,aku akan segera menghapusnya!"ancam Adelia.
Derian mengambil ponselnya mengirimkan sejumlah uang ke rekening Adelia.
Tanda bunyi notifikasi pada ponsel Adelia berbunyi,tanda uang masuk di rekeningnya.
"Cepat hapus!"perintah Derian tak sabar.
"Baiklah.Trima kasih sayang,"Derian menatap jijik kiss bye Adelia. Derian mengumpat kesal dan berteriak setelah Adelia meninggalkan ruangannya. Bahkan sekarang Adelia sudah berani mengancamnya. Kalau saja dia bisa menyingkirkan Adelia pasti tak akan seperti ini.Adelia pernah diberi kartu kredit limit dari Derian tapi begitu melihat pengeluaran yang sangat fantastis dan diluar kewajaran, Derian segera memblokir akses kartu kredit Adelia, semuanya. Derian hanya memberikan beberapa melalui ATM pribadi Adelia.
Dirinya tak henti-hentinya mengumpat kesal, mengendurkan dasinya, mengendalikan emosinya, karena kedatangan Adelia dirinya tak bisa menjemput Karina,jika dia tidak meladeni Adelia pasti dia akan berbuat macam-macam, Derian terpaksa meminta Noah untuk menjemput Karina saat Karina mengirimi pesan padanya terlambat pulang dan akan menghubunginya lagi jika sudah pulang dan saat Karina menghubunginya sudah siap untuk pulang, Adelia datang merusak moodnya.
Dering ponsel Derian berbunyi, tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Derian menjawab dengan sedikit kesal.
"Halo.."seru Derian emosi.
"Apa...aku mengganggumu?"tanya Karina yang menghubungi Derian tapi mendengar suara emosi dari nada suara Derian, Karina sedikit ragu. Derian yang sedang emosi langsung meredam kemarahannya, bersikap lembut menjawab panggilan Karina. Derian menatap nama yang tertera di layar ponselnya bernama 'my love' sedikit terkejut dan terhibur.
__ADS_1
"Maaf... tak apa,aku tak tau telponmu sayang, meeting hari ini membuatku sedikit emosi,"jawab Derian mencari alasan.
"Aku akan menghubungimu nanti saja jika kau...."
"Tidak...tak apa?Ada perlu apa?Kau butuh sesuatu?"seru Derian mencegah Karina berpikir macam-macam, Derian tak ingin Karina tau kalau dia membohonginya, Derian bukan tak mau memberi tahunya, hanya saja bukan sekarang. Hubungan mereka masih kritis, sedikit saja masalah Karina pasti akan memilih pergi darinya. Derian tak mau itu terjadi,dia hanya perlu segera memberes- kannya sebelum Karina mengetahuinya. Dan sekarang Karina malah menutup ponselnya.
Derian semakin mengumpat lebih lagi saat Karina memutuskan telponnya tanpa bicara apapun. Derian meraih jasnya, segera meninggalkan ruangannya untuk pulang ke apartemennya. Dirinya semakin cemas jika sesuatu terjadi pada Karina.
Bunyi tit pintu apartemen Derian.Dia tergesa melangkah masuk ke dalam apartemennya, pikirannya sudah parno sendiri. Berpikir macam-macam apapun tentang Karina. Derian selalu kehilangan kewarasannya jika berhubungan dengan Karina.
"Sayang..."seru Derian tak sabaran tak mendengar jawaban.
"Sayang..."serunya lagi semakin cemas ketakutan.
"Karina...Karina..."teriak Derian lebih kencang lagi,Derian sudah mencari di semua tempat apartemennya tapi belum menemukan Karina. Rasa cemas, ketakutan dan bayang - bayang dirinya dulu saat ditinggalkan Karina terlintas di benaknya.Derian terduduk luruh di lantai kamarnya, tempat terakhir yang mungkin adanya Karina tapi tak ada siapapun.
Derian terlintas untuk menghubungi ponsel Karina tapi ponselnya tak aktif, berulang kali Derian menghubungi tapi tetap tak ada jawaban. Derian berteriak emosi menyapu semua barang yang ada di meja rias di kamarnya hingga jatuh berhamburan. Derian mencari-cari nomer Noah di ponselnya mencoba bertanya mungkin mereka masih belum sampai mampir ke suatu tempat, tapi Noah tadi sudah menghubunginya kalau Karina sudah sampai dengan selamat di depan gedung apartemennya.Memang Derian melarang Noah untuk mengantarkannya ke dalam apartemen,Noah tinggal memberikan kartu-kartu tadi pada Karina tanpa mengantarkan sampai ke dalam apartemen.
Pikiran buruk Derian segera terlintas, bayangan Karina melarikan diri darinya meninggalkannya semakin menambah kecemasan Derian. Derian mondar mandir tak jelas di kamarnya,mencoba berpikir kemungkinan keberadaan Karina.
TBC
Mohon like dan rate nya..
Terimakasih juga jika memberikan vote nya..
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.