Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 75


__ADS_3

"Bas..." Vio menatap Dion terkejut dengan perkataannya yang baru saja dikatakannya.


Reno hanya terdiam menatap putranya belum menjawab. Reno menatap lekat Dion dengan intens mencoba membaca raut wajah putranya. Yang entah kenapa sangat bersemangat mengatakannya. Reno menghela nafas panjang.


"Kau yakin?" tanya Reno menatap Dion lekat setelah lama saling terdiam.


"Aku bahkan tidak pernah seyakin ini." jawab Dion tegas.


Reno beralih menatap Vio yang gelisah dengan pernyataan Dion yang tak membicarakan terlebih dahulu dengannya.


"Vio..." panggil Reno.


"Ya? Ah..." jawab Vio spontan menatap Reno yang menunjukkan raut wajah datar meski tidak dingin.


"Maaf..." ucap Vio menunduk tak berani menatap wajah Reno lagi.


"Kau mencintainya?" tanya Reno menatap Vio lekat yang ditatap segera mendongak menatap Reno.


Vio diam mencerna kembali pertanyaan Reno dan beralih menatap Dion yang ikut menatapnya dengan senyum penuh harapnya.


"Kenapa papa menanyakan hal yang sudah sangat jelas sekali. Bukan begitu kah Vivi?" ucap Dion menyela kembali menatap Vio.


Vio masih terdiam belum menjawab, dibenaknya masih bertarung pikiran tentang perasaannya terhadap Dion. Vio memang begitu besar mencintai Dion tapi begitu mengingat masa lalu Dion, Vio menjadi ragu tentang perasaan Dion.


Apakah Dion benar-benar sudah mencintainya ataukah dia hanya dijadikan pelarian dari cintanya pada kakaknya atau hanya karena sekedar tanggung jawab pada anak yang masih dalam kandungannya.


"Vio, aku tak akan merestui pernikahan kalian jika kau merasa terpaksa menikah dengan Dion?" tanya Reno lagi masih menatap Vio lekat yang belum menjawab pertanyaan tadi.


"Pa, apa maksud papa?" sela Dion tak terima.


"Kau tahu Dion, menikah tanpa cinta itu menyakitkan. Lebih baik batal menikah daripada akhirnya kalian berpisah karena tak ada cinta diantara kalian." ucap Reno tegas menatap Dion dengan wajah penuh intimidasi.


"Pa, itu tak mungkin, sekarang Vivi sedang hamil anakku. Aku tak mau anak kami lahir di luar nikah?" ucap Dion membela diri.

__ADS_1


"Papa tahu." jawab Reno membuat Vio tersentak terkejut mendengar perkataan Reno yang sudah mengetahui kehamilannya. Reno beralih kembali menatap Vio intens.


"Aku sudah tahu kau sedang hamil anak Dion. Dan aku juga tahu bahwa itu juga kesalahan Dion karena terbawa nafsu pergaulan bebas disana. Aku hanya...."


"Pa, itu tidak benar. Kami saling mencintai, kami melakukannya atas dasar saling suka." sela Dion.


"Aku tahu siapa kau Dion, jadi jangan coba menyela ucapan papa." tegas Reno.


"Pa, tapi itulah kenyataannya, kami saling mencintai dan melakukannya saling suka satu sama lain, tanpa ada paksaan, bahkan kami juga melakukannya dalam keadaan sadar. Dan itu... itu... merupakan pertama kalinya untukku." jelas Dion pelan di akhir kalimatnya, seketika wajahnya memerah tersipu malu menundukkan wajahnya.


Vio sontak beralih menoleh menatap Dion karena tak percaya, malam itu juga pertama kalinya Dion kehilangan keperjakaannya, seketika dada Vio menghangat merasa senang dan bangga dengan pernyataan Dion tadi.


Dia pun tanpa sadar tersenyum senang. Reno ikut beralih menatap Dion dan sesekali melirik ke wajah Vio yang tersenyum menatap wajah Dion yang tersipu. Itulah yang ingin dilihat Reno, wajah bahagia tersenyumnya Vio. Karena itu perasaan yang ditunjukkan Vio pada Dion benar-benar cinta setulus hati.


"Aku... aku mencintainya." jawab Vio menyela percakapan antara dua pria beda usia itu. Keduanya sontak menoleh bersamaan menatap Vio.


"Aku bersedia menikah dengannya." ucap Vio lagi.


"Papa dengar itu." ucap Dion tersenyum senang.


Reno hanya menggeleng menyaksikan drama romantis keduanya. Vio yang tak mengira perlakuan Dion tersipu malu, wajahnya merona menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah Reno.


"Tak bisakah kau tahan saat berdua saja." ucap Reno jengah berdiri dari sofa menuju kursi kebesarannya.


"Bilang saja papa iri." ucap Dion tersenyum lebar menatap Reno yang memutar bola matanya malas.


"Ya... ya .. terserah kalian." ucap Reno.


"Besok kami akan menikah, akan kupersiapkan semua hari ini juga." ucap Dion beranjak dari sofa.


"Apa maksudmu besok Dion? Apa kau harus diajari bagaimana tata cara lamaran pernikahan?" ucap Reno.


"Pa, kami ingin menikah secara siri dulu, baru tahap lamaran setelah orang tua Vio pulang." jelas Dion.

__ADS_1


"Apa maksudmu orang tua Vio pulang?" tanya Reno berdiri dari kursinya.


"Papa tak dengar apapun?"


"Apa?" tanya Reno mendekati Dion penuh penasaran.


"Kak Al menghilang..." lirih Dion.


"Apa? Al menghilang? Suami Angel?" Dion mengangguk.


"Putri bilang kedua orang tuanya menuju pulau B untuk menemui Angel yang sedang kebingungan mencari keberadaan kak Al." jelas Dion.


"Oh astaga, bagaimana hal itu terjadi?" tanya Reno mengusap wajahnya kasar.


"Entahlah, Putri tak menjelaskan detailnya, orang tuanya mendapat kabar dari pihak hotel karena keadaan Angel yang lemah." ucap Dion dengan nada getir.


"Kak Al kecelakaan, dan saat kakak mencarinya ke rumah sakit, katanya seseorang yang menolongnya membawanya berobat entah kemana." ucap Vio yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Kau yang sabar nak." hibur Reno mengusap pundak Vio menunduk sedih.


"Itulah sebabnya aku ingin menikah secara siri dulu baru mengurus segalanya setelah keadaan tenang. Aku tak mau berlama-lama menunggu juga karena keadaan kehamilan Vio yang perlahan akan membesar." ucap Dion.


"Baiklah, lakukan yang terbaik. Papa merestui kalian." ucap Reno mengangguk.


"Makasih pa." Dion dan Vio pamit pergi meninggalkan kantor ruang kerja Reno, bergandengan mesra yang membuat semua pegawai yang melihat mereka iri dan tersenyum.


Tak sedikit yang menyapa Dion karena tahu siapa Dion yang mungkin saja dia penerus Reno nantinya jika pimpinan yang sekarang mengundurkan diri.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2