Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 54


__ADS_3

Derian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, suasana hatinya benar-benar buruk, sangat buruk. Kekecewaannya terhadap Adelia yang sudah buruk malah semakin buruk, membuatnya semakin marah.


Sorot matanya tajam dan dingin seolah mampu menembus dan melubangi kaca mobilnya. Saat seperti ini dia ingin melihat Karina. Karina lah obat kemarahannya. Bertemu Karina lah yang bisa membuatnya berpikir manusiawi.


Mobil yang dikendarainya yang awalnya tak tau tujuannya langsung berbalik arah menuju apartemennya. Selain ingin menenangkan pikirannya, dia juga ingin melepas perasaan rindunya yang sudah berhari-hari tak bisa menemui Karina.


Ponselnya berdering nyaring membuat Derian terkejut menyambungkan earphonenya karena dirinya masih menyetir mobil.


"Halo..."


"..."


"Aku sedang perjalanan pulang ke apartemen?"


"..."


"Sekarang? Mereka sudah sampai?Di kantor?"


"..."


"Baiklah, aku akan langsung menemui mereka di kantor. Kalau kau sudah tiba langsung bergabung di ruang meeting!"seru Derian menutup ponselnya. Kedatangan kliennya dari Sing*Pur* membuat urung untuk menemui Karina di apartemennya.


Derian langsung berbalik arah kembali. Dia bisa menemui Karina nanti meski rasa rindunya sudah tak bisa dibendung lagi. Apalagi suasana buruk yang dialami tadi setelah bertemu ibunya kedua putrinya.


Derian sampai di kantor langsung menuju ruang meeting sudah terdapat beberapa orang perwakilan dari kliennya dari Sing*Pur*. Setelah bertegur sapa menanyakan kabar dan berjabat tangan, Derian langsung mulai meetingnya. Yang lumayan menyita waktunya.


Telpon dari rumah sakit tempat putrinya dirawat pun diabaikan. Setelah mengetahui tentang kebenaran putri sulungnya, Derian agak sedikit kecewa. Dia masih belum memutuskan untuk bertemu dengan putrinya itu.


Sejak dulu entah kenapa saat menatap wajah si sulung terlihat mirip Adelia. Dulu dia pikir karena Adelia adalah ibu mereka tentu saja sangat mirip dengannya. Tapi setelah mengetahui kebenaran itu, Derian butuh waktu untuk menerima anak itu. Bukan karena membenci anak itu tapi dia benci ibunya karena dengan melihatnya secara tidak langsung mengingatkan pengkhianatan Adelia saat masih berstatus istrinya.


Jika itu terjadi sebelum menikah mungkin Derian bisa lebih memaklumi tapi kebenaran itu sungguh mengguncang akal sehatnya. Sejahat itukah dirinya menjadi suami sampai istrinya bisa hamil anak pria lain yang bahkan pernikahan mereka sudah menginjak satu tahun.

__ADS_1


Meski dirinya saat menikah dengan Adelia tidak disertai cinta, Derian menerima Adelia dengan tangan terbuka, mau belajar untuk mencintainya meski itu sulit dan bahkan sampai saat ini Derian tak pernah mencintainya sama sekali. Hanya perasaan tanggung jawab sebagai seorang suami lah yang membuatnya tidak bisa mengabaikan istrinya.


Satu jam kemudian, Noah tiba dan langsung masuk ke ruang meeting menggantikan Derian untuk menjelaskan tentang proyek mereka, karena Derian berulang kali melakukan kesalahan dalam penjelasannya karena faktor pikirannya sedang tidak di tempatnya, tapi setidaknya Derian masih menyimak meeting itu meski masih belum paham sepenuhnya.


Tapi dirinya percaya dengan kemampuan Noah. Dia percaya Noah mampu menyelesaikan pekerjaannya saat dirinya sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaannya.


Meeting berakhir setelah 5 jam, diakhiri dengan makan siang bersama. Sepertinya penjelasan dari Noah dapat dipahami dan diterima oleh para kliennya. Terlihat mereka mengangguk-angguk tersenyum penuh kepuasan. Bahkan memuji-muji Derian yang memiliki orang kepercayaan seperti Noah yang berada di sisinya.


Derian segera menuju rumah sakit kembali setelah menerima panggilan dari putrinya yang merengek menangis untuk bertemu dirinya. Untungnya para klien tadi sudah pamitan untuk kembali ke hotel sebelum kembali ke negara mereka.


"Papa!!"tangis Angel pecah saat melihat Derian muncul dari pintu ruang perawatannya menghambur memeluk papanya erat.


"Kenapa sayang?Papa masih ada meeting dan baru berakhir."jawab Derian balas memeluknya. Meski enggan Derian memaksakan diri untuk bisa menerima putrinya itu. Putrinya tak bersalah, orang tuanya yang salah, anak lahir dalam keadaan suci tanpa dosa apapun.


"Angel kangen papa? Kenapa papa pergi gak balik-balik?"tangis Angel masih dalam pelukan Derian.


"Maaf.. papa kerja sayang? Dan tadi tidak bisa ditinggal sayang?"hiburnya masih memeluk Angel sesekali mengecup keningnya.


Angel berhenti menangis setelah banyak cara dilakukan Derian untuk membujuknya. Malah sekarang dirinya tidur di sisi Angel demi menuruti keinginannya agar tidak ditinggal lagi.


**


Baju semua kebutuhan Karina masih ada, hanya Karina yang tidak ada. Derian sempat frustasi dan tak percaya, dia menyuruh Noah berulang kali memeriksa mungkin Karina sedang belanja atau sedang ada perlu dan mungkin akan segera kembali.


Dokter mengatakan kalau putrinya sudah boleh pulang dalam dua hari kedepan. Itupun putrinya benar-benar tak mau lepas darinya. Alasannya hanya takut ditinggalkan oleh Derian. Derian mencoba bersabar tetap berada di sisi putrinya untuk tak mencari Karina terlebih dulu. Meski hatinya tak tenang sedikitpun.


Dia mencoba menghibur diri dengan meyakinkan diri bahwa mungkin Karina ada urusan yang tidak bisa ditinggal dan lupa menghubunginya dulu.


Derian mengantar putrinya pulang ke rumah setelah dokter mengizinkan untuk pulang setelah kondisinya benar-benar sehat. Asal jangan terlalu banyak bergerak dulu, perbanyak istirahat. Derian segera menuju apartemennya setelah mengantar putrinya pulang dan memastikan putrinya bisa ditinggal.


***

__ADS_1


Bunyi tit, kunci apartemennya terbuka. Derian perlahan masuk, tempat kosong dan lengang. Seperti tak berpenghuni saja.


"Sayang..."seru Derian hati-hati, masih berharap mendapati Karina ada di apartemennya.


"Sayang..."ulangnya beberapa kali.


Kecemasan dan ketakutan mulai datang menghantuinya. Membayangkan Karina pergi meninggalkannya.


Wajah Derian berubah memerah, kecemasan menyelimuti wajahnya. Derian masuk kamar mereka, masuk ke dalam walk-in closet, membuka lemari Karina tempat menyimpan pakaiannya. Masih utuh.


Derian beralih keluar menuju ranjang, mendudukinya, dingin. Ranjang itu terasa dingin, seolah tak pernah dipakai dalam beberapa hari dan itu artinya Karina tak tidur disini dalam 2 atau 3 hari mungkin juga lebih.


Derian menengok menatap meja nakas samping ranjang. Terdapat dua kartu dan ponsel Karina, ponsel Karina yang dibelikannya saat mereka baru menikah siri. Ketakutan dan kecemasan kembali datang padanya, dadanya tiba-tiba sesak tak bisa bernafas.


Kepalanya berdenyut kesakitan merasakan pusing dan mual perutnya. Gejala yang selalu dialaminya dulu saat Karina menghilang darinya.


Dinyalakan ponsel itu dan menyala... Terdapat pesan pada kalender ponsel Karina.


Maaf...aku tak bisa menepati janjiku untuk tetap disisimu... aku mencintaimu... jaga kesehatanmu selama aku tak ada disisimu. Maaf... maaf... aku lelah... Biarkan aku istirahat.


Isi pesan itu membuat Derian luruh berlutut memeluk ponsel Karina... menangis di keheningan kamar itu, terisak duduk di sisi ranjangnya.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2