Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 23


__ADS_3

Tok tok tok


Suara pintu kamar ruang perawatan Dion.


"Masuk!" seru Dion, Angel membuka pintu lebar.


"Ah, kakak yang waktu itu di bus ya?" seru Belina menunjuk Angel yang baru tiba.


Senyum manis Angel berubah canggung saat mendapati Dion ada bersama Belina. Entah kenapa dada Angel sedikit berdenyut karena bukan hanya dia yang memperhatikan Dion.


"Masuk kak, duduk!" ucap Belina ceria. Menarik tangan Angel sok akrab mendekati kursi di dekat ranjang Dion.


"Gimana kata dokter?" tanya Angel menatap wajah Dion tersenyum canggung.


"Besok udah boleh pulang kak, nunggu infusnya habis." sela Belina menjawab pertanyaan Angel.


"Oh ya?" ucap Angel beralih menatap Belina.


"Dion, makanlah... masih beberapa sendok." ucap Belina menyodorkan suapan makanan yang memang tadi sempat terhenti karena kedatangan Angel.


"Aku sudah kenyang Bel..." tolak Dion mendorong suapan Belina yang memaksanya untuk makan.


Dion menatap Angel malu, seandainya bersedia, dia mau makan disuapi Angel. Angel hanya tersenyum kikuk melihat segitu perhatiannya Belina pada Dion. Angel bingung apa yang mesti dilakukannya karena merasa canggung seperti mengganggu aktivitas sepasang kekasih.


"Lebih baik aku..."


"Kakak tadi baru pulang kuliah?" sela Dion karena merasakan Angel canggung berada di antara dirinya dan Belina.


Dan Dion tak menginginkan Angel segera pergi karena kecanggungan itu. Angel yang hendak mengangkat pantatnya dari kursi duduk kembali demi menjawab pertanyaan Dion.


"Ah iya, tadi aku masih di perpustakaan mengerjakan tugas sampai lupa waktu dan ponselku aku silent." jawab Angel tersenyum canggung.


"Sendiri?" tanya Dion lagi.


"Ayo Dion, habiskan makanmu. Mamaku bilang agar kau cepat sembuh." bujuk Belina masih belum menyerah menyuapi sisa makanan tadi. Angel lagi-lagi tersenyum canggung melihat Belina dengan pantang menyerah menyuapi Dion.


"Ah, sudah malam, aku lebih baik pulang. Apalagi ada Belina yang menungguimu." pamit Angel tak mau merusak keromantisan kedua muda-mudi itu.


"Kak... tunggu..." cegah Dion tapi Angel keburu keluar ruangan. Terlalu gerah di dalam, membuat sesak dadanya, apalagi mendengar suara Belina yang tak pernah ada habisnya untuk bicara.


Dion mendengus kecewa sekaligus kesal pada Belina. Saat dirinya ingin istirahat tadi sambil menunggu kedatangan Angel yang katanya sedang bersiap menemuinya tadi.


Tapi, kedatangan Belina lebih dulu bersama-sama beberapa teman sekelasnya yang membuat Belina masih tinggal untuk menemani Dion. Padahal niatnya untuk segera mengusirnya pulang agar dia bisa berduaan dengan Angel.


"Bisa tinggalkan aku sendiri!" seru Dion kesal menatap Belina yang tak merasa bersalah sama sekali.


"Kau mengusirku?" ucap Belina sedih, memasang tampang sendunya.

__ADS_1


Menundukkan kepalanya. Dion menatap kasihan tapi juga kesal, dia sudah hapal betul sikap Belina yang seperti itu.


"Sudah malam, pulanglah! Besok sekolah kan?" hibur Dion mengusir dengan halus tapi kata-katanya sudah tak sekasar tadi. Membuat Belina kembali tersenyum ceria seolah tak ada yang terjadi.


"Kau tak marah padaku kan?" tanyanya lagi antusias dengan dengan senyum lebarnya.


"Aku... ingin istirahat." ucap Dion tak menjawab pertanyaan belina. Bergerak mundur membaringkan tubuhnya untuk tidur dan pura-pura tidur agar Belina segera pergi.


"Baiklah. Selamat malam. Besok aku akan datang lagi." pamit Belina meninggalkan ruang perawatan Dion. Dion menghela nafas setelah melihat Belina benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.


'Kakak sudah sampai rumah?' isi pesan Dion pada Angel begitu Belina pergi dari kamarnya.


'Ya, aku sudah di rumah.' isi pesan Angel disertai emoticon senyum.


'Maaf... pasti kakak terganggu ya karena Belina?' balas Dion.


'Tak apa. Aku yang malah tak enak merasa ganggu.' balas Angel.


'Kami hanya teman tak lebih, dia yang selalu mengusikku, sungguh?' balas Dion lagi dengan cepat.


'Hmmm.. kau tak perlu menjelaskan padaku. Tapi, selamat ya besok pulang.' balas Angel lagi.


'Iya kak. Apa kakak tak mau mengantarku pulang?' balas Dion disertai emoticon memohon dengan deraian air mata.


Angel yang di seberang tersenyum membaca pesan Dion. Dirinya yang awalnya ingin tidur malah semakin bersemangat untuk meladeni pesan Dion.


"*Kau dimana?" tanya Al di telpon saat dirinya pergi dari depan rumah Angel.


"..."


"Ah, tak apa. Aku hanya ingin memberikan kabar kalau aku baru pulang dari tempatku magang." ucap Al mencoba menyembunyikan kegelisahannya mendengar perkataan satpam penjaga gerbang rumah Angel tadi sore.


"..."


"Angel..."


"..."


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Al ragu.


"..."


"Begini... ehm... kapan-kapan saja aku ingin mengatakan langsung padamu." ucap Al akhirnya.


"..."


"Akhir pekan aku libur. Bagaimana kalau kita kencan?"

__ADS_1


"..."


"Baiklah. Tak apa. Hubungi aku kita bertemu jam berapa nanti." ucap Al lagi.


"..."


"Baiklah. Selamat malam. Aku... merindukanmu." ucap Al entah kenapa dia gugup.


"..."


Al menutup ponselnya*.


Flashback on


"*Maksud adik, non Angel?" kata satpam itu.


"Iya pak." jawab Al membenarkan.


"Dia anak majikan kami dek, adik teman kuliahnya ya?" tanya satpam itu sudah tidak curiga lagi pada Al, karena Al memang tak mencurigakan, anaknya pun santun, begitu yang dilihat satpam itu.


"Iya pak, hanya beda semester. Jadi ini benar rumahnya ya?" tanya Al lagi untuk meyakinkan lagi


"Betul dek."


"Lalu, rumah minimalis di sebelah itu rumah siapa ya?" tanya Al kepo.


"Oh, itu rumah bi Ani pelayan rumah ini. Memang non Angel sering main di rumah itu. Karena selain menganggap bi Ani pelayan tapi sudah dianggap seperti nenek bagi anak-anak majikan kami sama adik-adik non Angel juga." jelas satpam itu.


"Ah, makasih pak. Biar nanti saya telpon aja nanti kalau sudah pulang. Kalau begitu saya pamit pak. Makasih." ucap Al pamit setelah apa yang ditanyakannya cukup.


Al pergi dari komplek perumahan itu dengan langkah gontai. Pernyataan yang begitu mencengangkan yang baru didengarnya.


Apa maksudnya dia berbohong kalau rumahnya ada di sebelah rumah besar dan mewah ini? Apa dia takut aku memanfaatkan kekayaan orang tuanya? Hahaha... Al tertawa sinis, menertawakan kebodohannya. Apakah dia malu dengan diriku yang miskin ini? entah kenapa hatinya sakit merasa dikhianati dan tak dipercayai bahkan sekarang dia dibohongi*.


Flashback off


TBC


Mohon dukungannya


Beri like rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2