
Al menepuk dadanya berulang kali, entah kenapa rasanya sangat sesak dan berdebar-debar. Perasaannya sejak berangkat ke rumahnya semalam tak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal dan mengganggunya.
Al masih menaiki bus malam jurusan kota tujuannya. Dia mencoba menenangkan diri dan berharap tak ada hal yang buruk terjadi. Sejak menerima panggilan telpon dari keluarganya, dia sudah tak nyaman. Entah firasatnya ini tentang keluarganya atau seseorang yang sedang dekat dengannya.
Al mencoba memejamkan mata untuk tidur sebentar karena perjalanan menuju rumahnya masih 2 jam lebih. Al ingin mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 11 malam. Ingin dia menghubungi kekasihnya, tapi Al tak mau menggangunya. Pasti sekarang dia sedang tidur nyenyak dalam mimpinya.
Sementara Angel, tak bisa memejamkan matanya. Dia bimbang dalam hatinya. Setelah pembicaraan dengan mamanya tadi tentang permintaan perjodohan dari relasi papanya tadi semakin tak tenang saja.
**
Flashback on
"Kau mau bicara sesuatu sayang?" tanya Karina lembut setelah mereka masuk ke kamarnya dan duduk di sofa kamarnya.
Sementara Derian memilih kembali ke ruang kerjanya melanjutkan pekerjaannya serta menunggu kedua wanita beda usia itu berbicara.
"Mama..." ucap Angel mengawali bicaranya agak ragu.
"Ya sayang?" jawab Karina menatap Angel lekat penuh perhatian.
"Aku... akan menerima keputusan papa." jawabnya meski dadanya terasa sesak dan berdegup kencang. Karina tersentak. Kembali menguasai dirinya.
"Aku tahu papa melakukannya karena demi kebaikanku, juga... demi kebaikan keluarga dan perusahaan papa." ucap Angel agak gemetar karena gugup dan Karina tau itu.
"Sayang ..."
"Setidaknya biarkan aku berbakti untuk kalian." ucap Angel dengan mata berkaca-kaca, mengedipkan mata mencegah air matanya turun.
Karina memeluk tubuh Angel erat, mencoba memberikan ketenangan meski Angel bukanlah putri kandungnya. Tapi Karina sudah merawatnya sejak kecil. Dia menyayangi anak-anaknya tanpa syarat dan dia juga tau betul sekarang putrinya sedang menahan diri untuk menjadi anak yang berbakti.
Karina juga tau Angel sangat menyayangi papanya bahkan tak jarang Angel ingin menarik perhatian papanya lebih lagi agar sedikit di perhatikan papanya.
"Tidak. Mama tidak akan menyetujuinya. Kau berhak menentukan hidupmu, masa depanmu juga pendamping hidupmu. Papamu perlu memahami itu. Apa dia tak berkaca pada dirinya sendiri. Bagaimana kehidupan pernikahannya dulu?" omel Karina setelah melepas pelukannya dari putrinya.
__ADS_1
Angel menatap Karina lekat, hatinya kembali tersentuh dengan pembelaan dan kasih sayang Karina yang bahkan tak ada darah yang sama mengalir dalam diri mereka. Angel kembali tersenyum, dirinya bertekad asal itu bisa membahagiakan mamanya, Angel akan lakukan apapun untuk menuruti semua keinginan mereka.
"Anggap tidak ada pembicaraan apapun. Mama tetap menentang keputusan papamu. Dan kau juga berhak menentang keputusan papamu meski harus membantahnya. Ini menyangkut kehidupan masa depanmu. Kau yang tau mana yang terbaik untukmu sendiri. Dan mama tak memaksa untuk kau harus dengan siapa. Lagipula kau baru mulai kuliah, lebih baik fokus belajarmu dulu dan raih cita-citamu. Dan siapa tadi kekasihmu yang kau sebutkan tadi...?" jelas Karina panjang lebar.
"Kak Al..." tanpa sadar Angel menyebut nama yang ternyata hanya pancingan mamanya agar dia jujur.
Angel seketika menutup mulutnya menunduk malu. Tanpa sadar dia mengakui kalau sedang pacaran dengan seseorang yang disebutkan namanya tadi.
"Namanya Al?" goda Karina tersenyum menatap Angel. Angel hanya tersipu malu.
"Mama..." manja Angel.
"Ajak dia menemui mama. Mama ingin bertemu dengannya dan melihatnya dari dekat. Dan mama pasti bisa menilai lelaki itu baik atau tidaknya untukmu." ucap Karina membuat Angel tersenyum senang atas pengertian mamanya.
"Tapi...tapi... dia tidak tahu siapa aku sebenarnya ma? Sebenarnya di sekolah aku tak pernah mengatakan siapa nama lengkapku. Yah, walau hanya seorang yang tau." jelas Angel menatap Karina meminta pendapat.
"Baiklah, kita temui dia di luar. Jika dia serius denganmu, dia pasti tak akan menolak bertemu dengan mama."
"Iya ma tentu." jawab Angel antusias mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya ma."
"Apa maksudmu ingin bertemu laki-laki tak jelas itu sayang?" sela Derian yang sudah menunggu diluar kamar.
Saat kembali ke ruang kerjanya dia tak tenang dan penasaran dengan pembicaraan kedua wanita yang disayanginya itu. Dan pembicaraan tentang kekasih Angel membuat Derian geram, niatnya menunggu mereka selesai bicara tapi malah mendengar anaknya berpacaran dengan anak laki-laki yang tak jelas.
"Siapa yang menyuruhmu masuk." seru Karina.
"Jawab pertanyaanku dulu!" seru Derian tak suka.
"Mereka pacaran dan apa salahnya pacaran, mereka masih muda, masih punya kehidupan yang panjang. Biarkan mereka bersenang-senang." jawab Karina.
"Dia bahkan tak berani jujur siapa dirinya sebenarnya pada laki-laki itu. Apa itu baik?" ngotot Derian.
__ADS_1
Angel menatap kedua orang tuanya berdebat panik, tapi entah kenapa perdebatan mereka membuatnya tersenyum senang karena mata keduanya menyiratkan cinta yang terpancar dari kedua mata mereka masing-masing.
"Itu bagus kan? Kita bisa menilai laki-laki itu. Apa laki-laki itu benar-benar tulus menyukai putri kita atau hanya menyukai putri kita karena harta." jelas Karina membuat Derian bungkam tak bisa membalas ucapan istrinya. Dalam hatinya membenarkan ucapan istrinya dan juga tak terima jika perkataannya disalahkan.
"Itu...itu..." ucap Derian ragu bingung ingin menjawab apa.
"Untuk masalah besok..." sela Angel yang melihat situasi mulai tenang.
"Aku akan mencoba menemuinya untuk menghormati tamu papa." usul Angel.
"Betul... itu keputusan baik. Kita tinggal bilang, keputusan ada di tangan mereka yang menjalaninya. Jika Angel tak menginginkannya kita tinggal mencari alasan kalau putri kita tidak cocok dengan putranya. Masalah selesai." putus Karina.
"Tapi sayang..."
"Sayang... masih mau tidur di kamar lain? Sendiri." sela Karina menyindir suaminya. Angel hanya tersenyum atas ancaman mamanya menatap papanya salah tingkah.
"Tentu tidak... jadi begitu saja kalau begitu." jawab Derian menyerah demi tidak disuruh istrinya tidur di kamar lain...sendirian.
Flashback off
TBC
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
Abaikan typo...☺️☺️
.
.
__ADS_1
.