
"Non, ada den Bryan sudah nunggu di depan." kata bi Ani yang sudah di pintu kamar Angel.
"Siapa bi?" tanya Angel meyakinkan pendengarannya.
"Den Bryan non." Angel berdecak kesal. Baru kemarin diiyain udah datang lagi? batin Angel kesal.
"Dimana dia sekarang bi?" tanya Angel.
"Diajak sarapan nyonya non?"
"Apa? Diajak sarapan mama?" tanya Angel tak suka.
"Iya non." mengangguk.
"Iya bi, Angel turun." jawab Angel.
"Selamat pagi." sapa Bryan melihat Angel sudah muncul di ruang makan.
Derian dan Karina ikut menoleh. Menatap Angel penuh tanda tanya.
"Pagi pa, pagi ma... pagi adik-adikku..." sapa Angel mencium pipi Derian dan Karina tak lupa mengusap rambut Arthur, adiknya yang paling menggemaskan. Bryan hanya melihatnya, tersenyum.
"Pagi juga." sapa Angel menatap Bryan sekilas berusaha acuh, dia tak mau ditegur papanya karena tak sopan. Dan langsung duduk di kursi tempatnya biasa makan yang berhadapan dengan Bryan.
**
Dion sudah mulai masuk masa kuliah, setelah menetapkan pilihan, dia kuliah di tempat yang sama di kampus yang sama dengan Angel. Beruntung kampus itu juga menawarkan beasiswa untuknya juga. Pagi itu sudah sebulan dia kuliah, tapi belum bertemu Angel sama sekali, karena di semester kedua ini Angel sering mendapat kelas siang.
Selalu berselisih waktu dengan Dion. Sehingga sangat tidak pernah bertemu. Dan pagi itu Dion men stalking jadwal Angel yang ternyata mulai bulan ini, kelasnya sering pagi.
Dion menunggu di gerbang kampus. Angel belum tau kalau dirinya juga kuliah di kampus yang sama dengannya. Dion sengaja memberi kejutan. Dion melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Menunjukkan pukul 7 pagi, sebentar lagi pasti datang. batin Dion terus melirik jam tangannya.
Mobil mewah berhenti di depan kampus. Tak sengaja Dion menatap mobil itu berusaha acuh. Tapi saat melihat siapa gadis yang keluar dari mobil itu adalah Angel, Dion terbelalak. Dion menatap mobil itu lagi yang tak dikenali milik keluarga Angel. Dion seperti familiar dengan mobil mewah itu.
Sopir mobil itu ikut turun meski sepertinya sudah ditolak oleh Angel. Senyum seringai menggoda terbit di bibir pria itu, membuat Dion mengepalkan tangannya marah. Dion tau betul, pria itu punya niat buruk pada Angel.
Angel tak menghiraukan sapaan Bryan langsung bergegas menuju gerbang kampus.
"Dion?" sapa Angel terkejut mendapati Dion ada di gerbang kampusnya dengan pakaian rapi seperti anak kuliahan dan tak ketinggalan ransel yang bertengger di punggungnya.
"Kak." sapa balik Dion melambaikan tangan melupakan kekesalannya pada pria yang mengantarkan Angel tadi.
"Kok disini?" tanya Angel berhenti sebentar menghadap Dion.
"Iyalah." jawab Dion enten tersenyum lucu melihat keterkejutan Angel.
"Kok bisa?" tanya Angel lagi masih belum paham.
"An..." sapa Dinda yang baru datang dari arah luar gerbang.
"Hai.." sapa balik Angel kembali menatap Dion masih penasaran.
"Ayo ke kelas!" ajak Dinda.
__ADS_1
"Bentar."
"Lho Dion?" sapa Dinda ikut menatap Dion yang balas tersenyum saja.
"Lo kenal Din?" tanya Angel semakin bingung.
"Lah, dia kan yang katanya adik Lo saat di cafe?" jawab Dinda.
"Betul."
"Sekarang dia kan mahasiswa baru kampus kita?" jelas Dinda.
"Apa tadi? Mahasiswa baru?" tanya Angel terkejut.
"Ah, Lo kan kelasnya sering siang, jadi gak ketemu mahasiswa dan mahasiswi baru." jelas Dinda.
"Benar kak." ucap Dion memastikan, yang sejak tadi hanya menyimak kedua teman itu.
"Kau nakal ya... tak mau bilang padaku?" maki Angel pada Dion dengan sambil tersenyum.
"Haha...aku ingin mengejutkan kakak." jawab Dion tersenyum senang.
"Ayo masuk An!" ajak Dinda.
"Ayo Dion, masuk!" ajak Angel, Dion pun mengikuti mereka.
Di dalam kelas, dosen belum datang.
Tunggu, kenapa aku bisa lupa ada kejadian seperti itu, aku sudah berusaha menjauhi Dion selama ini karena malu kejadian itu, tapi sekarang dia satu kampus denganku. Bagaimana bisa? batin Angel mengusak rambutnya dengan kedua tangannya beralih mengusak wajahnya yang tiba-tiba memerah.
Aku pasti canggung dengannya nanti. batin Angel lagi. Ponsel Angel berdenting, ada pesan masuk.
'Kak, nanti makan siang bersama ya?' isi pesan dari Dion.
Eh, makan siang, sama-sama, pasti jadi canggung kan? batin Angel.
'Nanti, ajak aku melihat-lihat kantin sekolah ya kak?' isi pesan Dion lagi ditambah emoticon memohon di akhir pesannya.
'Baiklah.' jawab Angel tak tega menolaknya, bagaimanapun Dion yang menolongnya saat dirinya terpuruk saat itu meski menjadikan Angel canggung.
"Kak." sapa Dion sudah menunggu di depan kelas. Ah, aku lupa Dion tadi ngajak makan siang. batin Angel.
"Hai." sapa balik Angel.
"Ayo kak ke kantin!" ajak Dion menarik jemari tangan Angel, spontan Angel menatap tangannya yang ditarik dan entah kenapa dadanya berdebar.
"Eh, aku sudah bawa bekal." jawab Angel tersenyum, tak mau mengecewakan Dion.
"Ah, aku beli dikantin dan kita makan siang bersama." jawab Dion enteng masih memegang jemari tangan Angel tersenyum senang di setiap jalannya.
"Kau kan sudah kuliah sebulan disini. Kenapa tak mencari teman?" tanya Angel basa-basi sambil berjalan.
"Banyak kak yang mau temenan. Tapi, mereka munafik. Mereka berteman karena aku pintar bukan tulus. Apalagi aku termasuk anak orang kaya. Jadi, aku malas berteman dengan mereka yang hanya pura-pura saja." jelas Dion.
__ADS_1
"Ah, kau benar. Tak ada yang tulus pada kita." ucap Angel menambahkan.
"Kakak setuju denganku kan? Gadis-gadis juga selalu menempel padaku tiap hari, aku kan risih kak. Saat aku sudah tidak sabar lagi, aku bentak mereka. Dan setelah itu tak ada yang berani menempel padaku secara terang-terangan meski mereka masih memperhatikanku dari jauh." jelas Dion lagi.
Ah, pantas tatapan para cewek tajam banget padaku, seakan bisa melubangi tubuhku saja. batin Angel yang sejak perjalanan ke kantin semua mahasiswi berbisik dan entah apa yang dibisikkan.
"Aku beli dulu kak." pamit Dion yang diangguki Angel mencari tempat duduk yang sudah penuh. Hingga dia memilih berdiri dan memutuskan makan siang di bangku taman saja.
"Kak, penuh ya?" Dion datang sambil menenteng makan siangnya.
"He em. Kita makan di bangku taman saja yuk!" ajak Angel.
"Ok." jawab Dion mengikuti langkah Angel.
Mereka pun makan siang bersama di bangku taman, saat melintasi bangku taman lain yang dulu pernah dijadikan tempat makan siangnya dengan Al, Angel langsung mengajak Dion ke bangku yang lain.
"Kak." panggil Dion mengejutkan Angel yang sedang asyik makan siang.
"Tadi pagi, siapa yang nganter?" tanya Dion ragu.
"Pagi tadi? Oh, dia gak penting." jawab Angel enteng.
"Bagaimana bisa kakak dengannya? Bukannya dia kakak kelas pas ketemu di cafe kapan waktu itu ya?" jelas Dion yang mengingat hal itu juga. Angel menoleh menatap Dion.
"Dia... cowok yang mau dijodohkan denganku oleh papa." jawab Angel menjelaskan.
"Apa? Dijodohkan? Dan kakak mau?" seru Dion tak suka menatap Angel tajam.
"Haha... kenapa reaksimu begitu? Apa kau sedang cemburu?" goda Angel tersenyum lebar.
"Kalau iya bagaimana kak?" tanya Dion serius menatap Angel lekat. Angel menoleh menatap Dion yang mulai terlihat emosi.
"Jangan bercanda Dion." jawab Angel meski hatinya sempat senang dan entah kenapa dadanya berdebar lagi.
"Kupikir saat aku dan kakak berciuman saat itu dan juga menginap di rumahku. Aku sudah menyatakan kalau kakak adalah milikku." jelas Dion membuat Angel tersentak, spontan menghentikan makannya.
Menatap Dion lekat, menghadapkan tubuhnya lurus di depan Dion. Meski Angel merasa dadanya berdebar juga, entah itu senang atau tidak. Angel merasa terharu dan senang dianggap orang yang paling istimewa di hati Dion.
"Dan kakak kan juga tau kalau aku menyukai kakak sejak dulu."
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1