
Hari H pernikahan, semua wedding organizer (WO) terlihat sibuk di gedung tempat pernikahan itu dilaksanakan. Pernikahan yang digadang-gadang sebagai pernikahan termegah dan termewah sepanjang sejarah keluarga Aftano terjadi.
Tidak hanya pebisnis relasi tuan rumah tetapi juga pejabat pemerintahan ikut jadi tamu spesial undangan keluarga besar itu. Orang terkaya nomor satu di negeri mereka. Bahkan usahanya sudah merambah go internasional.
Meski keluarga besan bukan dari orang terkenal, mereka cukup terpandang di kota mereka tinggal. Tapi keluarga besar Aftano tak mempersalahkan hal itu. Mereka tetap menyambutnya dengan tangan terbuka. Bagi mereka asal kedua mempelai bahagia itu sudah lebih dari cukup.
Keluarga menerimanya dengan suka cita tanpa perdebatan diantara keluarga besar mereka. Kini pengantin wanita telah siap dengan riasan di dalam rumah besar nan mewah dengan balutan gaun pengantin yang sangat indah dan tentu saja tidak murah juga harganya.
Para MUA yang telah disewa untuk merias pengantin hari itu begitu antusias tanpa kesulitan saat merias pengantin wanita, karena pada dasarnya pengantin wanitanya sudah cantik natural alami.
"Kau cantik sekali sayang?" decak kagum Karina saat mengunjungi kamar putrinya agar bersiap menuju ballroom hotel tempat pernikahan itu dilaksanakan.
"Makasih ma." jawab Angel tersenyum bahagia, menatap kembali ke cermin kamarnya yang menampilkan seluruh tubuhnya.
Dia terlihat gugup dan tegang. Bagaimanapun juga ini hari pernikahan yang diimpikan siapapun oleh semua gadis di negeri ini. Angel mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Kau gugup?" tanya Karina melihat putrinya gelisah berputar-putar menatap cermin memastikan tak ada yang kurang suatu apapun pada dirinya.
"Ah, aku sangat gugup ma." desis Angel. Karina mengusap lengan atas putrinya.
"Kalau tak gugup, itu malah aneh. Kau sangat cantik, yakinlah kalau semua akan berjalan lancar." hibur Karina membelai lengannya lembut.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Angel diketuk.
__ADS_1
"Mari berangkat, satu jam lagi acara dimulai." ucap seorang WO yang disewa keluarga besar Aftano.
"Ayo nak!" ajak Karina disambut anggukan oleh Angel.
Mereka berdua turun bersama, sudah ada Derian yang menyambut kedatangan kedua wanita beda usia yang dia sayangi.
"Kita berangkat sayang!" ajak Derian mengulurkan kedua jemari tangannya untuk Karina dan putrinya Angel.
Kedua menerima uluran jemari tangan Derian dengan tersenyum bahagia. Derian berjalan di tengah antara istrinya dan putrinya. Menuntun terlebih dulu putrinya masuk ke dalam mobil pengantin, sedang Derian dan istrinya masuk ke mobil mereka sendiri.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju ballroom hotel milik keluarga Aftano sendiri. Para tamu undangan sudah banyak yang datang.
Acara yang direncanakan mulai setengah jam lagi membuat mempelai pria yang sudah menunggu di depan ballroom untuk menyambut tamu beserta kedua orang tuanya membuatnya gugup bukan main.
Dirinya yang biasanya dapat mengendalikan hal itu apapun situasinya benar-benar membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Meski tampak dari luar dia terlihat tegar, tapi di dalamnya sangat gugup.
"Hai." balas Al singkat, karena kegugupannya dia bahkan tak mendengar ocehan para rekan kerjanya yang datang bersamaan itu. Dia hanya mengembangkan senyumannya untuk menutupi kegugupannya.
Dion sudah duduk manis, di kursi yang disediakan untuk keluarga besan. Dia meneguk minumannya. Usahanya berhari-hari ini untuk mencari Vivi dan memecahkan kode ponsel Vivi belum berhasil juga.
Dirinya sedikit mengumpat karena ketidak becusannya itu. Dion menenggak lagi minuman jus jeruk yang menjadi kesukaannya itu.
"Kau tak menyapa teman-temanmu?" ucap Putri yang baru tiba dan juga bingung ingin kemana.
Diapun ikut duduk di kursi dekat Dion dengan menenteng minumannya. Dion menoleh ke sumber suara. Putri yang sudah duduk di sisinya itu.
__ADS_1
"Kau sendiri?" jawab Dion cuek.
Temannya satu sekolahnya itu sudah sejak zaman sekolah suka mengusilinya tapi tak jarang juga dia yang paling akrab dengan Dion, karena jarak umurnya yang lumayan jauh. Tapi karena kejeniusan Dion dia langsung naik satu tingkat dan satu kelas dengan Putri saat sekolah menengah atas.
"Aku bosan." ucap Putri meletakkan gelasnya di meja.
"Para hadirin yang terhormat." seru MC acara itu membuat para tamu undangan menatapnya dan suara dengungan semua tamu spontan langsung terdiam.
"Acara akan dimulai, bagi para tamu undangan silahkan duduk di kursi yang telah disediakan." seru MC itu lagi dan semuanya mengikuti arahan MC itu.
Ucapan janji sumpah telah diucapkan keduanya. Kini mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama dan negara. Semua tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah saat pendeta mengumumkan hubungan mereka yang telah resmi sebagai suami istri sehidup semati.
Kedua mempelai berdiri di pelaminan. Mempelai pria yang tampan dan mempelai wanita yang cantik, sungguh padanan kesempurnaan dari keduanya. Para tamu undangan banyak memuji kedua mempelai, ada yang mulai menyalami mempelai, ada yang mulai menikmati makanan yang sudah disediakan, ada juga yang asyik saling ngobrol.
Dion kini sedang menikmati makanannya di kursinya tadi, tak ada yang mengajaknya mengobrol, bukan karena tak ada yang mengajaknya ngobrol. Dion memilih menghindari obrolan yang membuatnya jengah dan bosan.
Lebih baik dia makan dengan tenang di kursinya. Sedang Putri terlihat ngobrol dengan beberapa wanita yang diyakini sebagai temannya. Dan tentu saja juga teman Dion karena mereka satu kelas juga saat sekolah menengah atas.
Mereka awalnya juga mengajak ngobrol dengannya, tapi dengan berbagai alasan dirinya akhirnya bisa melarikan diri dari obrolan para wanita yang kebanyakan dari mereka merayunya, karena melihat dirinya yang datang tanpa pasangan.
TBC
.
.
__ADS_1
.