
Pagi itu Noah sudah bersiap untuk pergi untuk pergi ke kantor. Tapi dia harus mampir ke rumah tuannya untuk mengambil baju ganti untuk tuannya. Dia dihubungi pihak penanggung jawab proyek yang ada di luar negeri sedang mengalami masalah dan meminta meeting online dengan tuannya.
Karena sudah sejak kemarin putri tuannya yang mengalami kecelakaan tidak mau ditinggalkan sedetikpun oleh tuannya. Terpaksa dirinya yang mondar-mandir untuk mengurus segala keperluan tuannya itu. Dan semua pekerjaannya di kantor dialah meng-handle nya juga.
Setelah mengantar di rumah sakit, serta ikut meeting online dengan para klien tuannya dari luar negeri. Dirinya bertugas untuk survei lapangan proyek-proyek yang sedang berjalan yang hari itu perlu dikunjungi satu persatu.
Noah harus berkendara dengan sopir tuannya menuju ke luar kota untuk survei di beberapa proyek. Hingga siang itu saat istirahat siang, ponselnya berdering.
"Ya tuan?"sapa Noah yang ternyata Derian.
"..."
"Saya sedang di luar kota untuk mengurus proyek disini tuan?"
"..."
"Pesan yang mana tuan?"
"..."
"Maaf... saya belum sempat kesana tuan?"
"..."
"Maaf tuan."hanya itu yang bisa dikatakan Noah demi mendengar umpatan kekesalan tuannya.
Noah menatap ponselnya, banyak hal yang harus diurus bukan hanya tentang pekerjaan dan survei proyek lokasi tapi juga harus mengurusi masalah pribadi tuannya. Noah menghela nafas panjang.
***
Sudah 2 hari ini Derian bergerak gelisah di dalam ruangan tempat putrinya dirawat, Noah yang katanya akan pulang malam ini belum bisa kembali karena ada hal yang harus dilakukan. Survei lokasi proyek juga belum selesai di tempat satu saja.
Derian bingung ingin menyuruh siapa untuk menemui Karina, sedang putrinya benar-benar tak mau ditinggalkan. Pernah dirinya nekat untuk datang ke apartemennya tapi belum sampai ke tempat tujuan. Putrinya pingsan dari tempat tidurnya karena mencarinya, padahal sudah ada bibi pengasuh yang disuruh untuk menungguinya.
Tapi Angel memaksakan diri turun dari ranjang untuk mencarinya, para suster dan dokter juga sudah kuwalahan membujuk angel. Derian terpaksa kembali ke rumah sakit demi putrinya. Luka yang seharusnya sudah hampir sembuh, kini harus dirawat lebih lama lagi.
Derian masih terpaku di ruangan perawatan itu, pekerjaannya yang harus diselesaikan jadi tidak masuk ke dalam otaknya. Fokusnya hanya pada Karina.
Tok tok tok
Suara pintu ruangan di ketuk.
__ADS_1
"Masuk!"seru Derian menjawab ogah-ogahan.
Muncul suster wanita itu masuk ruangan.
"Dokter ingin bertemu dengan anda pak? Ditunggu di ruangannya. Permisi."Suster itu segera pergi yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Derian.
Derian menoleh menatap bibi pengasuh yang menemani Angel di kamar itu.
"Aku mau ke ruangan dokter sebentar bi?"pamit Derian segera menuju ke ruangan dokter tanpa menunggu jawaban dari bibi pengasuh itu.
"Masuk tuan!"ucap dokter itu setelah Derian mengetuk pintu. Derian masuk dan duduk di depan meja dokter itu.
"Ada masalah dengan putri saya dok?"tanya Derian agak cemas.
"Oh bukan masalah tentang putri tuan. Ini masalah hasil tes DNA putri anda yang anda minta waktu itu."jelas dokter itu mengambil map yang sudah disiapkannya di samping mejanya.
Deg
Dada Derian berdebar, setelah hasil tes darah untuk transfusi pada putrinya tidak cocok dan kemungkinan dirinya bukan ayah kandung Angel, membuat Derian memutuskan untuk tes DNA secara diam-diam. Dan seperti keinginannya hasilnya sudah keluar dengan cepat.
"Bagaimana hasilnya dok?"
Derian segera membukanya setelah dokter menginterupsinya sambil menatap map itu.
Hasil tes DNA menunjukkan kalau Angel bukan darah dagingnya. Derian terlihat shock dan terkejut. Pandangan matanya mendadak berubah dingin dan tajam melihat hasil tes DNA itu. Hingga dirinya meremas kertas itu.
Namun segera bisa dikendalikannya saat tau dirinya masih berada di ruangan dokter.
Derian segera keluar ruangan itu setelah berterima kasih pada dokter itu. Mencari nomer di ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"..."
"Dimana?"tanya Derian dingin berkata pada orang di seberang telpon.
"..."
"Tunggu disana!"Derian menutup telponnya. Dan berganti mengirim pesan chat pada bibi pengasuh untuk menjaga Angel.
Derian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tak peduli lampu rambu yang berganti warna merah. Keinginannya sekarang ingin melampiaskan kemarahannya pada seseorang.
Tak butuh waktu lama, jarak rumahnya yang biasa ditempuh 1 jam lebih menjadi setengah jam lebih cepat. Derian memarkir mobilnya asal karena sudah tak sabar ingin meminta penjelasan tentang hasil tes DNA itu.
__ADS_1
Derian membuka kamar Adelia dengan kasar, Adelia yang tak tau masalahnya menyambut Derian dengan senyuman sejuta watt.
"Sayang."ucapnya lembut melihat suaminya masuk ke dalam kamarnya.
"Apa ini?"tanya Derian menunjukkan kertas yang dibawanya dengan meremas ingin meremukkan kertas itu. Wajahnya yang dingin dan tajam sangat mengintimidasi Adelia.
"Maksudmu apa mas?"tanya Adelia takut melihat kemarahan di mata Derian. Derian melempar kertas itu ke tubuh Adelia kasar, karena kekesalannya dan kemarahannya merasa berkali-kali terkhianati.
Adelia memungut kertas itu gugup. Gemetaran tubuhnya terlihat jelas melihat sampul atas kertas itu terdapat logo rumah sakit. Adelia membacanya dan segera menatap Derian mengiba dan menangis.
"Ini pasti salah mas, ini tidak benar. Angel adalah putrimu. Putri kandungmu, Aku tak mungkin berbohong?"mohon Adelia meremas jemari tangan Derian, menggenggam erat dengan harapan dimaafkan.
"Tidak benar?Lalu?Apa ini? kau kira dokter merekayasa semua ini."ucap Derian penuh emosi yang segera dikendalikannya karena tak mau menghabiskan energinya untuk membentak wanita munafik ini.
"Maaf mas... bukan maksudku membohongimu? Aku hanya ingin putriku hidup dengan baik. Karena papa kandungnya tak mau bertanggung jawab."Mohon Adelia berlutut di kaki Derian memeluk erat kaki di Derian.
"Jadi, kau sudah berselingkuh sesudah kita menikah?"Adelia mengangguk tak berani mengeluarkan suara, merasa bersalah dan menyesal. Rahasianya sudah terbongkar.
Derian mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangan, sangat marah dengan kebenaran ini. Dia seperti orang bodoh saja selama ini, merasa dibohongi.
"Kumohon mas jangan usir kami, tak ada orang tau tentang ini, bahkan orang tuaku tak mengetahuinya. Tolong jangan usir kami. Angel sudah menganggapmu sebagai ayah kandungnya. Kumohon kasihanilah anak itu mas?"mohon Adelia memelas semakin menangis.
"Lalu Putri?"tanya Derian kemungkinan bisa saja putrinya si bungsu juga bukan putrinya begitu mengingat kebejatan Adelia yang sering membawa keluar masuk ke rumah ini banyak pria yang tidak sama, membuatnya ragu dan geram juga tentang putri bungsunya.
"Putri?Putri adalah anak kandungmu, percayalah. Putri adalah putri kandungmu, kau bisa melakukan tes DNA lagi jika tak percaya."mohon Adelia masih di posisinya.
"Aku hanya minta padamu, tinggalkan kami jika ingin melihat putrimu bahagia. Keluar dari rumah ini dan jangan pernah menunjukkan dirimu di hadapanku suatu saat nanti. Dan... kali ini jangan mempersulit perceraian kita jika kau ingin aku merawat putrimu?" ucap Derian pergi dari rumahnya. Kekecewaan yang dialami sangatlah sakit.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1