
Vivi tak menghiraukan ponsel itu yang berkali-kali berdering. Vivi tahu Bas lah yang menghubunginya. Vivi belum berniat menghubunginya lagi karena dia belum punya alasan yang tepat untuk menemuinya.
"Siapa? Pria waktu itu? Bas?" tanya Dave yang merasa terusik dengan dering ponsel yang terus berdering tapi tak diangkat oleh adik sepupunya itu. Vivi menatap Dave malas.
"Aku belum punya alasan dari pertanyaan." jawabnya.
"Nyatakan saja perasaanmu?" ucap Dave.
"Dia pasti menolakku."
"Katakan kau hamil anaknya!"
"Aku tak mau dia menerimaku hanya karena tanggung jawab."
"Dia memang harus tanggung jawab atas anakmu. Terlepas dari cintamu yang bertepuk sebelah tangan."
"Sudahlah kak!"
"Vio, kau tahu papamu akan membunuhku jika dia tahu aku gagal menjagamu." seru Dave.
"Jangan sampai papa tahu." jawab Vivi.
"Kau tak tahu siapa papamu, dia pasti punya mata-mata lain yang sedang mengawasimu. Apalagi kakakmu akan menikah dua minggu lagi." jelas Dave seketika menyadari sesuatu. Notifikasi pesan ponsel itu berbunyi.
'Mamamu menghubungi ponselmu dan aku menerimanya.' isi pesan itu yang sudah dapat dipastikan Bas yang mengirimnya. Vivi terbelalak membaca pesan Bas dan segera membalas pesan itu.
'Apa yang kau katakan pada mamaku?' isi balasan pesan Vivi.
'Datang saja jika kau ingin tahu.' isi balasan pesan Bas.
Vivi segera menghubungi ponselnya tapi seolah Bas sengaja tak mengangkatnya agar dirinya ke tempat Bas.
'Kita bertemu sore ini di cafe depan kantor.' isi balasan pesan Vivi setelah gagal berkali-kali menghubungi ponselnya.
'Tidak. Datanglah ke apartemenku. Kuharap kau masih ingat alamatnya dan masih di tempat yang sama.' Sial, gerutu Vivi yang mendapat senyuman ejekan dari kakak sepupunya.
"Pinjam ponselnya kak!" Vivi langsung meraih ponsel sepupunya tanpa persetujuannya dan menghubungi seseorang lewat ponsel itu.
Dan sampai tiga kali tak diangkat oleh yang dihubunginya.
"Kemana sih?" oceh Vivi.
"Siapa?" tanya Dave.
__ADS_1
"Mama."
"Bibi? Pasti dia sibuk mengurus pernikahan kakakmu."
"Ah, kau benar." Vivi beranjak dari kursinya, jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Dia harus segera bersiap untuk menemui Bas dan menukar ponsel mereka.
**
Vivi menekan bel pintu Bas, sebenarnya dia tahu kode akses masuk apartemennya. Tapi Vivi hanya datang untuk menukar ponselnya dan langsung pulang. Itu keinginannya. Bas yang di dalam sedang sibuk mengerjakan sesuatu tak bisa membukanya karena kegiatannya tak bisa ditinggalkannya.
"Password nya tetap." dengan bodohnya Bas berteriak, rasa senangnya mengalahkan kejeniusannya, dia lupa apartemennya kedap suara.
"Shit..." umpat Bas saat dia menyadarinya. Dia terpaksa mencuci tangannya meninggalkan pekerjaannya dan beranjak menuju pintu depan apartemennya.
Cklek
Nampak Vivi berdiri di depan apartemennya dengan muka tak bersahabat sama sekali lebih dari ke cemberut. Tapi itu malah membuat Bas tersenyum dan wajah Vivi terlihat imut.
"Masuklah!" perintah Bas membuka lebar pintunya.
"Aku hanya ingin menukar ponselku." jawab Vivi masih berdiri.
Sesaat Vivi dadanya berdegup kencang, melihat Bas dengan apron di pinggangnya, dia terlihat manis. Dengan tubuh kekar, besar dan dada bidangnya Bas terlihat imut.
"Masuk atau tidak mendapatkan ponselmu sama sekali." tegas Bas menatap Vivi tajam dan mengintimidasi.
Vivi sedikit takut saat tatapan tajam Bas. Sebenarnya dia tak mau masuk ke dalam apartemen itu karena mengingat kejadian malam panas itu dan Vivi takut terlena lagi karena perasaannya yang masih begitu besar pada Bas. Bas melangkah ke dalam membiarkan pintu terbuka. Vivi mau tak mau ikut melangkah masuk mengikuti Bas.
"Duduklah!" Bas mempersilakan Vivi duduk di kursi meja makan, dia mulai menyiapkan sesuatu yang dimasaknya tadi hingga lupa melepas apron saat membuka pintu tadi.
Kepalang tanggung Bas menebalkan mukanya di hadapan Vivi bahwa dirinya habis memasak makanan spesial tadi untuk Vivi dan bayi mereka yang dikandung Vivi.
"Aku tak mau lama-lama, aku hanya menginginkan ponselku saja." jawab Vivi tegas tak juga segera duduk di kursi yang disediakan Bas.
"Duduk!" seru Bas kembali dengan tatapan mata tajam mengintimidasi.
Vivi terus terang saja dia takut jika Bas sudah dengan tegas mengenai ucapannya. Dan mau tak mau Vivi menurutinya lagi untuk duduk di kursi yang disediakan.
"Tunggulah sebentar lagi!"
"Bas aku..."
"Aku tak menerima bantahan!" bentak Bas mengejutkan Vivi, karena baru kali ini Vivi melihat Bas membentaknya.
__ADS_1
Bas menyiapkan makanan sehat dan bergizi yang dimasaknya sendiri. Dia tahu betul Vivi tak akan bisa makan dengan benar jika tidak sedang bersamanya. Dan dia hapal betul perilakunya itu. Setelah menyiapkan semuanya. Bas ikut duduk di kursi sebelah Vivi.
"Makanlah!" ucap Bas setengah memerintah. Vivi masih melihat mata tajam Bas, dan itu artinya dia belum bisa membantahnya atau Bas akan nekat.
Vivi hanya menurut, makan makanan yang dimasak Bas dan disiapkan dalam piringnya.
"Ini terlalu banyak?" pinta Vivi memelas.
"Masih ada kehidupan lain yang harus kau jaga dan porsi segitu bahkan kurang juga untuk bayi kita." jawab Bas mengambilkan lauk lagi untuk Vivi. Vivi agak tersentak dengan ucapan Bas.
"Sudah kukatakan aku akan bertanggung jawab sendiri pada bayiku." tolak Vivi.
"Bayi kita bukan bayimu saja." seru Bas menyuapi Vivi karena hanya bicara saja tak kunjung makan.
Vivi terpaksa membuka mulutnya karena tatapan tajam Bas memaksanya. Vivi hanya menurut tanpa protes, protes pun percuma. Hingga dalam lima belas menit Bas selesai menyuapinya meski diselingi perdebatan kecil.
"Dimana ponselku?" tanya Vivi setelah melihat Bas selesai membereskan meja makannya dan duduk kembali di sisinya. Bas menatap lekat Vivi dan menggenggam jemari tangannya.
"Maukah kau menikah denganku?" pinta Bas penuh harap menatap Vivi lekat mengulurkan kotak cincin di atas meja di depan Vivi.
Vivi tersentak karena tak mengira jika Bas akan melamarnya dan menatap cincin berlian yang pernah ditanyakan Vivi saat mereka tak sengaja mampir di toko perhiasan beberapa tempo lalu.
"A... aku...aku..."
"Kurasa tak ada penolakan." jawab Bas melihat Vivi ragu-ragu dan menyematkan cincin itu di jemari manis tangan kiri Vivi.
"Aku belum menyetujuinya?" bantah Vivi.
"Aku memberitahu bukan meminta pendapatmu." Bas beranjak dari kursi hendak mengambil sesuatu.
"Kalau kau menikahiku hanya karena rasa tanggung jawab terhadap bayi ini, kurasa itu tak perlu." seru Vivi berdiri dari duduknya. Bas seketika berhenti dari langkahnya belum membalikkan tubuhnya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.