
Sementara di tempat Reno, malam itu dia datang ke rumah mamanya, Hesti. Karena Hesti mengundangnya untuk makan malam di rumahnya.
"Malam ma?"sapa Reno memasuki ruang makan melihat Hesti ikut menyiapkan makan malam mereka. Hesti tersenyum menatap Reno.
"Malam Oma?"sapa Dion yang masih dengan nada cadelnya. Hesti melengos tak mau menjawab sapaan pria kecil itu yang tidak dianggapnya cucu.
"Ma ..."seru Reno melihat respon dingin dari Hesti terhadap putranya Dion, putra angkatnya.
"Dia bukan cucu mama, dia anak haram..."seru Hesti kencang, membuat Reno semakin tak suka, dan Dion yang tak mengerti ucapan kedua orang dewasa itu hanya terdiam, tapi dia tau omanya tidak menyukainya.
"Ma.."seru Reno lagi.
"Kalau kau datang kemari tak usah ajak-ajak anak itu."sahut Hesti ketus menatap Dion sebal.
"Aku tak akan datang jika mama masih seperti ini?"seru Reno hendak pergi meninggalkan rumah itu.
"Turuti kata-kata mama untuk menikah lagi, aku tak akan kasar pada anak itu, tapi jangan harap aku mengakuinya sebagai cucuku."seru Hesti membuat langkah Reno berhenti.
"Apa maksud mama?"tanya Reno berseru juga, berbalik menatap Hesti lagi.
"Iya, menikahlah lagi, aku tak akan memperlakukan buruk anak itu."seru Hesti seraya menunjuk Dion dengan dagunya sudah duduk di meja makan yang sudah selesai disiapkan.
"Apa mama masih belum menyerah untuk menjodohkan aku?"tanya Reno berbalik mendekati meja makan yang masih diikuti Dion di sisinya.
"Mama tak akan menyerah untuk menikahkan kamu jika mama belum mempunyai cucu kandung mama sendiri."sahut Hesti membuat Reno tertawa mengejek.
"Ma, sampai kapanpun itu tak akan pernah terjadi."seru Reno.
"Kenapa?Kau belum mencobanya. Bagaimana kita tahu?"desak Hesti masih dengan wajah ketus menatap ke arah lain tidak menatap Reno.
"Karena...karena ... aku mandul."lirih Reno di akhir kalimatnya sambil menunduk tak berani menatap wajah Hesti yang sudah berubah pias dan pucat.
"APA!!!"teriak Hesti langsung berdiri dari duduknya terkejut tak percaya.
__ADS_1
Hesti mendekati Reno, menangkup kedua pipi Reno.
"Itu tidak benar kan?"tanya Hesti lagi berharap apa yang diucapkan Reno adalah candaan.
"Maaf ma..."lirih Reno menunduk tak sanggup menatap Hesti. Seketika Hesti terjatuh dan pingsan.
"Ma...mama..."seru Reno menepuk pipi Hesti mencemaskan keadaannya. Dion hanya bisa menangis di samping Reno melihat Hesti neneknya pingsan.
***
Derian mengecup kening Karina berulang - ulang, memastikan bahwa dia sedang bersamanya saat ini. Karina tersenyum geli, merasakan kegelian di keningnya yang terus dikecupinya. Kini Derian ikut berbaring di sisi Karina, meletakkan tangannya untuk dijadikan bantalan Karina.
Karena jahitan bekas operasi cesar, membuat Karina tak bisa bergerak banyak, hanya Derian yang tak henti-hentinya mengecupi seluruh wajah wanita itu. Karina hanya tergelak geli merasakan basah di wajahnya karena kecupan berulang-ulang. Beralih ke bibir Karina, Derian menatap Karina dengan wajah penuh kerinduan.
Begitupun Karina, menatap lekat suaminya yang telah lama ditinggalkan. Derian mengecup bibir itu berulang kali, hingga kecupan itu berubah menjadi ciuman, ******* dan membuat mereka terhanyut, kerinduan yang mendalam pada keduanya semakin larut dan liar dalam ciuman itu.
Tangan Derian mulai tak bisa dikondisikan, mulai menekan tengkuk Karina memperdalam ciuman itu.
"Aku sangat merindukanmu..."bisik Derian menyerukkan wajahnya ke leher Karina.
"Aku juga... maaf..."bisiknya lirih di dekat telinga Derian. Dia semakin mengeratkan pelukannya ke bahu Karina.
"Selamat ma...ah, maaf.."ucapan perawat yang tiba-tiba muncul masuk ke dalam ruang perawatan Karina mendadak dihentikan.
Melihat kelakuan dua manusia yang terlihat mesra membuat suster itu memalingkan wajahnya memerah menahan malu. Karina segera mendorong tubuh Derian untuk segera bangun dari tidurnya. Derian yang tak peduli hanya cuek mencoba melepaskan tangannya dari leher Karina. Toh, dia memeluk istrinya, bukan orang lain.
"Maaf, waktunya mengganti infus bu?"ijin perawat itu meski Derian tak menjauh dari ranjang Karina, duduk diam membelai rambut di wajah Karina di depan perawat itu dengan wajah yang dingin dan datar.
"Ya suster."jawab Karina yang wajahnya sudah memerah malu karena perlakuan manis Derian malah terkesan pamer di depan perawat itu, perawat itu semakin tersipu malu melihatnya hingga memalingkan wajahnya menatap sembarang arah.
"Apa saya sudah bisa mengunjungi anak-anak saya sus?"tanya Karina yang diikuti tatapan Derian mendengar perkataan Karina tentang anak-anaknya.
"Tentu. Tapi lebih baik dari luar ruangan dulu, itu akan lebih mempercepat proses penyembuhan agar bayi anda kembali normal." jelas perawat itu.
__ADS_1
"Sekarang bisa?"tanya Derian dengan tatapan dingin dan datar.
"Ah,tentu."jawab perawat itu takut-takut melihat tampang dingin Derian.
"Baiklah. Saya permisi, selamat istirahat semoga cepat sembuh."ucap perawat itu gugup.
"Aku mau melihat mereka?"pinta Karina menatap Derian lembut dan menunjukkan pupy eyes nya setelah perawat itu meninggalkan mereka.
"Tapi kau masih belum sembuh?"tolak Derian lembut.
"Kau bisa membawaku dengan kursi roda." pinta Karina memelas.
"Baiklah."ucap Derian menyerah, bagaimanapun juga dirinya tau, Karina belum melihat kedua anaknya setelah melahirkannya.
Derian membantu Karina naik ke kursi roda meski dengan menahan sakit di bagian perutnya bekas operasi.
"Kau yakin tak apa?Kau kesakitan?"keluh Derian tak tega melihat Karina meringis menahan sakit.
"Tak apa. Aku merindukan anak-anakku."pinta Karina memelas hampir menangis karena matanya sudah berkaca-kaca. Derian menghela nafas panjang, Karina menggunakan kelemahannya dengan menunjukkan wajah sedihnya hingga dirinya menjadi tak bisa untuk menolak permintaan Karina.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukungnya 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1