Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 39


__ADS_3

Kini Dion memutuskan untuk konsentrasi dalam belajarnya. Keinginan untuk bertemu orang tua kandungnya terpaksa dibatalkan lagi, meski harus mendapat omelan panjang dari Reno.


"Apa maksudmu membatalkannya lagi Dion?" seru Reno tak sabaran mendengar Dion tak jadi ke rumah orang tua kandungnya. Dion memang tak menceritakan tentang pertemuannya dengan Derian.


Baru kali ini Dion merahasiakan sesuatu pada Reno. Biasanya apapun itu dia pasti bercerita pada Reno. Untuk kali ini Dion tak ingin membicarakannya, dia ingin menjadikannya motivasi untuk belajar agar segera lulus walau itu masih cukup lama.


**


Angel pun sudah mendengar dan diberitahu papanya tentang kesepakatan yang diambil dengan Dion. Dan Angel mau tak mau menyetujuinya meski sedikit keberatan tapi alasan yang diberikan Derian membuatnya bisa menerima keputusan itu.


Tak terasa perjalanan kuliah Angel memasuki semester akhir yang sedang menunggu sidang skripsi. Selama itu pula dia tak pernah berhubungan sama sekali dengan Dion. Dan entah sengaja atau tidak sengaja mereka tak pernah bertemu atau papasan dengan Dion.


Namun sore itu saat Angel sedang sidang skripsinya, Angel dinyatakan lulus. Dan persiapan untuk mencari tempat magang.


"Gimana an?" tanya Dinda yang menemani Angel sidang.


"Aku lulus." seru Angel membuat Dinda menarik kedua tangan Angel dan mereka berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil saja.


"Wah, selamat ya... selamat..." seru Dinda ikut senang.


Dion tersenyum senang, tak sengaja menatap semua kejadian Angel dan temannya tadi. Meski tak pernah bertemu langsung. Dion sering memandangi secara sembunyi-sembunyi saat dia mendapati kelas yang sama dengannya.


Dion sudah cukup puas dengan itu semua. Dan gosip tentang Angel yang waktu itu langsung menghilang saat esoknya dia tak mendekatinya.


Tak sengaja mata mereka bertemu pandang. Angel tersenyum, begitu juga Dion. Mata keduanya memancarkan kerinduan. Angel segera memutuskan pandangan itu dan berlalu dari tempat itu karena sahabatnya Dinda menariknya pergi.


Kini Dion sudah cukup umur untuk disebut dewasa dan mempunyai kartu tanda penduduk.


**


"Pa.." ucap Dion saat mereka makan malam.


"Ya?"

__ADS_1


"Besok aku akan menemui mereka?" ucap Dion menatap Reno lekat. Reno langsung paham siapa yang dimaksud Dion.


"Aku akan menghubungi mereka." jawab Reno.


"Papa akan mengantarku kan?" tanya Dion seolah butuh bantuan.


"Tentu." jawab Reno yakin. Dion pun tersenyum.


**


Angel menyiapkan berkas magangnya, Derian menyuruhnya untuk magang di perusahaan mereka sendiri. Sebenarnya Angel menolak karena ingin mencari pengalaman di tempat kerja lainnya.


Akhirnya keputusan final diputuskan. Angel bersedia magang di perusahaan di Derian dengan catatan Angel dianggap seperti anak magang lainnya. Derian pun setuju dan mengiyakan keinginan putrinya, meski sebenarnya kurang setuju juga.


Karena toh usahanya akan diberikan langsung pada putra tunggalnya si bungsu adik tiri Angel, Arthur.


Hari itu hari pertama Angel masuk magang dan langsung diberikan tugas yang lumayan berat. Tapi Angel menerima tugas itu dengan senang hati. Karena dirinya ingin dianggap bekerja berdasarkan kemampuan bukan berdasarkan orang tuanya. Dan dia ditugaskan di bagian arsip perusahaan papanya.


**


Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menatap Dion yang bergerak gelisah di kursi sebelahnya. Wajahnya kadang tegang kadang santai. Tapi banyak tegangnya, sebenarnya kalau boleh jujur Dion tak mau bertemu keluarga kandungnya.


Baginya itu sudah tidak penting, dirinya ingin marah dan berteriak tak mau kalau saja Dion tak mendengar percakapan papanya dengan mama kandungnya di telpon. Dion mendengar hinaan dan cacian yang diterima oleh Reno karena tak segera mempertemukan mereka.


Padahal bukan Reno yang melarangnya tapi memang dirinya yang enggan untuk bertemu. Baginya kehidupannya yang sekarang sudah lebih baik dan lebih dari cukup untuk tidak memerlukan bertemu keluarga kandungnya secara langsung.


Akhirnya karena tak mau mamanya menghina papanya terus-terusan, Dion memutuskan untuk bertemu mereka. Hanya bertemu sebagai wujud menghormati orang tua kandungnya dan tidak untuk tinggal bersama mereka.


Toh, mereka bahkan seperti orang asing bagi Dion karena tak pernah bertemu dan mengurusnya sejak kecil.


"Dion."


"Ya?" suara panggilan Reno membuyarkan lamunan Dion.

__ADS_1


"Kau ingat apa yang selalu papa katakan?" ucap Reno sesekali menoleh menatap Dion sesekali fokus menyetir.


"Iya pa." jawab Dion.


**


Tak terasa sudah hampir 3 jam Reno mengendarai mobilnya dan tibalah mereka di rumah yang lumayan mewah meski tak semewah rumah Reno. Tapi karena terdapat di perumahan penduduk lumayan mewah dengan dua lantai yang tampak asri.


Reno turun dari mobil diikuti Dion juga. Irene dan suaminya yang merupakan ayah kandung Dion keluar dari pintu rumahnya menyambut kedatangan tamu mereka yang tak lain Reno dan Dion. Dion mengikuti langkah Reno di belakang meski Reno sudah memperlambat langkahnya untuk menyamai langkah Dion.


Tapi, sepertinya Dion sengaja melangkah lebih lambat. Reno mau tak mau mendekati Irene dan suaminya terlebih dulu, menyalami keduanya dan saling bertegur sapa seperti teman yang lama tidak bertemu.


Irene menatap Dion yang merasa enggan untuk mendekat, bukan enggan tapi memang tak mau. Hubungan mereka seperti orang asing saja melihat kekakuan interaksi antara Dion dan orang tua kandungnya.


"Dion..." desis Irene lirih. Dion mendekat, menyalami mereka seperlunya seperti rasa hormat kepada orang yang lebih tua darinya. Irene memeluk tubuh tinggi Dion, menangis terharu sudah dipertemukan kembali dengan putranya yang sengaja terpaksa ditinggalkan di rumah Reno saat dia masih bayi karena keterbatasan biaya saat itu.


"Maaf nak, maafkan ibu nak. Maaf..." bisik Irene berderai air mata menyesali perbuatannya dulu meninggalkan Dion saat bayi.


Dion, hanya terdiam di pelukan Irene, meski sejak kecil tak pernah mendapatkan kasih sayang dari yang namanya seorang ibu, Dion tak pernah merasa kurang kasih sayang karena Reno sudah mencurahkan seluruh kasih sayangnya padanya.


Sehingga Dion seolah tak membutuhkan lagi kasih sayang seorang ibu. Suami Irene yang bernama Revan menepuk pundak Irene menyemangati istrinya yang terkadang memang rapuh jika itu sudah menyangkut putranya Dion.


Karena Revan tau dari cerita Irene selama menjadi istrinya selama ini. Sejak sepuluh tahun lalu ditinggal oleh istrinya terdahulu selama-lamanya.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2