Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 50


__ADS_3

Sinar matahari pagi menyeruak masuk ke dalam kamar melewati celah jendela kaca menyinari dua insan yang sedang bergelung di bawah selimut tanpa sehelai benangpun.


Membuat Derian membuka mata karena sinar matahari yang menyilaukan matanya, menatap punggung putih mulus di depan matanya. Senyum terlukis di bibirnya membuatnya mengecup punggung itu hingga meninggalkan jejaknya di sana. Karina hanya menggeliat semakin melengkungkan tubuhnya, menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya mengusir sinar matahari yang menyilaukan pagi itu.


Derian semakin memperdalam dekapannya melihat Karina enggan untuk bangun. Pergulatan panas dan panjang mereka semalam membuat Derian malas untuk bangun, entah kenapa dirinya ingin tetap merengkuh tubuh di depannya ini semakin kuat semakin erat.


Firasat buruk selalu menghantuinya sejak beberapa hari lalu dan firasatnya selalu benar.


Karina membuka matanya perlahan melihat tangan kekar dan kuat itu mendekap tubuhnya kuat, seolah tak ingin melepaskan tubuhnya. Karina merasa bersalah. Dia berbalik menghadap Derian mengamati setiap inci wajah pria di depannya itu, sangat tampan, mempesona.


Wajah tampan yang dicintainya, pria tampan yang disukainya. Tak bosan dirinya memandang wajah itu. Wajah yang terpaksa ditinggalkan, wajah yang harus direlakan, wajah yang terpaksa harus dilupakannya. Wajah Karina perlahan menjadi sedih.


"Sudah cukup menatapku?" Karina terkejut wajah yang ditatapnya membuka mata, itu artinya dia sudah lama bangun. Karina tersipu malu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kau baru menyadarinya kalau aku tampan?"ucap Derian lagi berusaha membuka wajah tersipunya. Karina masih bertahan menutup wajahnya masih sangat malu tak menjawabnya.


Derian menarik paksa kedua tangan itu dan menelentangkan tubuh Karina, menindihnya masih bertumpu di kedua lututnya.


Karina bernafas tersengal terpaksa membuka matanya sudah melihat Derian di atasnya dengan wajah penuh nafsu.


"Morning sex?"bisik Derian lirih membuat Karina tertawa malu.


***


"Istirahatlah!" ucap Derian sambil mengecup kening Karina agak lama, setelah selesai mandi dan mengenakan baju formalnya.


Percintaan pagi hari yang lumayan lama membuat Karina kelelahan dan enggan untuk bangun karena badannya sakit semua.


"Siapa yang membuatku seperti ini?"oceh Karina pura-pura cemberut dengan nada manja. Derian tergelak mendekati ranjang.


"Maaf... tubuhmu semakin seksi."lirih Derian di dekat telinga Karina yang membuat tersipu lagi.


***


Derian berlarian di lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa, raut wajah cemas tergambar di wajahnya. Berlari menuju ruang unit gawat darurat rumah sakit itu. Sudah terlihat dua orang guru sekolah putrinya, sopir pribadi yang bertugas mengantarkan kedua putrinya ke tempat tujuan mereka dan juga Putri si bungsu menangis menjerit di pangkuan salah satu guru.


Derian mendekati mereka dengan terburu-buru bertanya apa hal yang menimpa putri sulungnya Angel.


"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan putriku?"tanya Derian pada salah satu guru yang terduduk lemas dan kawatir.

__ADS_1


"Papa...!" seru Putri meraih ke gendongan papanya masih sambil menangis kencang.


Belum sempat guru itu menjelaskan pintu ruang UGD terbuka, Derian langsung menghampiri perawat yang berdiri di dekat pintu.


"Ada keluarga korban?"


"Saya papanya sus, bagaimana keadaan putri saya?"tanya Derian masih terlihat jelas kecemasan di matanya.


"Kami membutuhkan banyak stok datang golongan seperti putri bapak tapi di rumah sakit tinggal sedikit."


"Ambil darah saya pasti cocok dengan golongan darah saya?"tawar Derian.


"Mari saya periksa dulu pak?"Derian membututi perawat itu, sedang putri dititipkan pada gurunya sebentar, untuk diperiksa cocok tidaknya golongan darah mereka. Setelah beberapa menit.


"Maaf pak golongan darah anda tidak cocok. Mungkin ada saudara yang lain?"


"Tapi saya papanya? Seharusnya kan cocok?"


"Maaf... apa anda bukan papa kandungnya?"tanya petugas bagian lab itu membuat Derian terdiam terkejut dengan pertanyaan petugas itu.


"Saya papa kandungnya." bantah Derian.


"Maaf pak, jika memang anda papa kandungnya harusnya golongan darah anda cocok tapi ini tidak cocok sama sekali. Mungkin bapak bisa melakukan tes DNA untuk membuktikannya."saran dokter itu tetap tersenyum ramah, meski Derian sudah tampak tak baik-baik saja mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


Derian termenung di kursi tunggu rumah sakit sendirian. Kedua guru putrinya sudah pamit setelah menyerahkan sepenuhnya pada pihak keluarga. Dan Derian juga menyuruh sopir dan putrinya untuk pulang ke rumah, menunggu kabar dari rumah saja.


Derian menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana dok?"


"Syukurlah... pasien sudah melewati masa kritis. Akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."


"Terima kasih dok?"


Dokter ikut tersenyum melihat kelegaan dari wajah Derian. Derian menghampiri ruang perawatan putrinya setelah dipindahkan. Menggenggam erat jemari tangan putri sulungnya.


"Papa..."lirih Angel membuka matanya perlahan menatap papanya duduk di sebelahnya.


"Kau sudah bangun sayang?" Derian mengelus dan mengecup kening Angel. Menyalurkan rasa syukurnya karena putrinya sudah mulai siuman.

__ADS_1


"Haus pa."ucap Angel lirih.


"Kau haus?Ini...minumlah!" jawab Derian menyodorkan air minum melalui sedotan untuk diminum Angel.


"Mana yang sakit? Tidurlah!Kau harus banyak istirahat kata dokter."ucap Derian.


"Pa...aku... melihat...Bu Karin..."ucap Angel lirih dan kembali tertidur, pengaruh obat bius masih terasa, hingga Angel kembali terlelap.


Derian yang dipanggil seorang perawat untuk menemui dokter di ruangannya tak sempat mendengar ucapan Angel.


"Bagaimana keadaan putri saya dok?Apa dia baik-baik saja?"tanya Derian antusias.


"Saat ini putri bapak tidak apa. Hanya mengalami benturan kecil di kepala. Saat ini mungkin tak apa? Tapi di belakang nanti kemungkinan ada rasa sakit mungkin harus segera dilakukan operasi. Tapi semoga saja tidak terjadi."jelas dokter itu.


"Boleh saya menanyakan sesuatu dok?"tanya Derian ragu-ragu.


"Ya silahkan!"


"Apa seorang anak pasti memiliki golongan darah yang sama pada anak kandungnya dok?"tanya Derian hati-hati berharap apa yang ditanyakan tak seperti yang diharapkan.


"Kemungkinan besar sama, karena kebanyakan darah daging banyak menurun dari papanya. Gen terbanyak pasti menurun dari papanya. Apalagi anak perempuan."jelas dokter itu.


"Bagaimana jika golongan darahnya tak sama?"


"Untuk lebih jelasnya lebih baik lakukan tes DNA."jelas dokter akhirnya.


Derian kembali ke ruang perawatan putrinya terdapat Adelia sudah tiba disana.


"Mas, bagaimana keadaannya?"cemas Adelia menangis. Derian tak menjawab pertanyaan Adelia. Dirinya sudah terlalu kecewa dan tak percaya air mata Adelia.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2