
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan anda?" ucap Karina setelah sampai di depan rumah dinasnya. Karina terpaksa menerima tawaran Tio yang setengah memaksanya untuk mengantarkannya pulang dengan mobilnya.
"Baiklah. Saya permisi." Tio langsung pamit, karena waktu sudah malam.
"Maaf... terima kasih sekali lagi."ucap Karina lagi sebelum Tio berlalu meninggalkan Karina di depan rumahnya.
Karina menata belanjaannya di dalam lemari es di dapur. Setelah membersihkan tubuhnya dan duduk di kursi tempat makan dekat dapur, karena membuka ponselnya.
Ponsel lama miliknya dulu sebelum Derian membelikan model terbaru yang sekarang ditinggalkan di apartemen Derian.
Ingatan dirinya dulu dengan Derian kembali terbayang di benaknya. Kenangan saat bersama yang lebih banyak kenangan bahagia saat bersama dulu.
"Semoga kau hidup dengan baik meski tak bersamaku?Maaf, aku tak bisa menjadi orang ketiga dalam keluargamu, meski kita saling mencintai. Maaf...maaf..."bisik Karina lirik terisak dimeja makan rumahnya.
**
Enam bulan berlalu, Noah masih belum menemukan jejak-jejak Karina. Derian sudah mulai uring-uringan karena tak mendapat kabar baik dari Noah. Derian mulai cemas dan takut, dirasakan perutnya kembali mual seperti diaduk-aduk. Dia terduduk lemas di kursinya setelah mual yang sangat parah terjadi padanya.
Ingatan tentang Karina muncul lagi seperti baru kemarin terjadi. Derian menyalakan pesan kalender di ponsel Karina, perutnya berangsur membaik setelah mendengar suara Karina, sungguh ajaib. Memang hanya Karina yang membuat menjadi lebih baik jika suasana hatinya buruk.
"Tuan.."sela Noah tergesa-gesa masuk kedalam ruangan Derian, tanpa mengetuk pintu ruangan tuannya karena merasa ada sesuatu yang mendesak untuk disampaikan segera pada tuannya.
Derian hanya menoleh menatap Noah tanpa minat, dia tak ingin kecewa lagi. Kedatangan Noah yang sering diharapkan yang tak mendapatkan hasil apapun dari pencarian Karina, membuat Derian tak antusias lagi setiap kedatangan Noah kali ini, dia takut kecewa untuk kesekian kalinya.
"Aku harap bukan berita mengecewakan lagi." ucap Derian tak berminat.
Noah menyerahkan ponselnya pada menu galeri, Derian menerimanya dan menatap foto pada ponsel itu. Derian tersentak dari duduknya langsung berdiri hingga kursi itu terjungkal ke belakang saking antusiasnya dirinya.
"Kau yakin ini Karina?"tanya Derian menatap lamat foto dalam ponsel itu, memperbesar juga foto itu memperjelas foto yang ternyata benar-benar Karina.
Lalu, siapa pria di sebelahnya? Terlihat masih muda, mungkin lebih pantas menjadi adiknya, batin Derian. Senyum yang sempat terlihat di bibirnya perlahan menghilang menjadi tajam dan dingin.
__ADS_1
"Orang suruhan saya sedang mengawasi seminggu yang lalu, karena ingin memastikan dan menyelidiki apa itu benar-benar nona Karina." jelas Noah.
"Kau yakin?Lalu, siapa pria di sampingnya ini? Kenapa dengan seorang pria?Lebih muda lagi?"seru Derian tak suka.
"Setelah diselidiki selama dua bulan ini, pria itu selalu mengantar nona...pulang... karena merasa...kasihan ...pada nona..."jelas Noah gugup, menunggu reaksi tuannya yang mulai memerah menahan amarahnya.
"Sepertinya dia menyukai nona Karina?"
"Brengsek!!!" teriak Derian. Noah sempat tersentak mendengar teriakan kemarahan tuannya yang tiba-tiba.
"Antar aku kesana sekarang?"seru Derian sambil meremas ponsel Noah.
"Ini sudah malam tuan, tidakkah lebih baik besok saja menemui nona, lagipula perjalanan menuju ke sana agak sulit jika dilakukan di malam hari."jelas Noah perlahan agar tak menyulut emosi tuannya.
"Lalu?"
"Saya sudah pesankan hotel untuk anda disana, tapi tiket pesawat hanya ada jam tiga pagi."jelas Noah.
"Kirimkan foto itu padaku?Jangan biarkan pria itu mendekati Karina!Karina hanya milikku?Suruh anak buahmu mengawasi!"
"Ya tuan?"
"Perutnya besar sekali, dia benar-benar hamil anakku? Buah cinta kami?"bisik Derian lirih tersenyum senang, mengecup foto Karina di ponselnya yang baru dikirimi dari ponsel Noah.
"Aku datang sayang."ucap Derian tersenyum senang.
**
Akhir pekan Karina memilih untuk tinggal di rumah, dia juga sudah mengajukan cuti seminggu yang lalu untuk melahirkan, janinnya sudah hampir memasuki 9 bulan kurang seminggu lagi.
Karina memilih senam hamil di ruang tengah dengan menonton video dari televisi. Dia tak mau kesulitan saat melahirkan nanti, bagaimanapun juga umurnya sudah tak muda lagi, dan ini adalah kehamilan pertamanya.
__ADS_1
Dokter memang mengatakan janinnya baik-baik saja, sehat, begitu juga ibunya. Tapi Karina tak mau mengambil resiko apapun atau kemungkinan apapun terjadi padanya maupun bayinya, apalagi dirinya harus melakukan semua hal sendiri nantinya.
Bu Siti sering menghubunginya untuk menanyakan kabarnya dan juga bayinya. Beliau juga berjanji akan datang dalam dua minggu kedepan setelah selesai panen sayurannya untuk menunggui jika sewaktu-waktu melahirkan.
Karina sudah menganggap Bu Siti seperti ibunya sendiri, dia juga tak sungkan lagi menanyakan banyak hal jika dirinya sedang kesulitan untuk dibahas dengan siapa.
Hari ini pun,bu Siti baru saja menghubunginya menanyakan kabarnya dan juga bayinya. Perkiraan dokter bulan depan melahirkan mungkin sekitar tiga mingguan lagi. Karina memang agak kesulitan dengan kehamilannya ini, terlihat lebih besar pada umumnya seperti orang hamil kebanyakan, seperti orang yang sedang hamil sembilan bulan. Padahal baru seminggu lagi memasuki sembilan bulan. Tapi siapa yang tau rencana Tuhan, bisa saja Minggu depan, besok atau bulan depan.
Yang jelas Karina tak mau malas-malasan saat cuti di rumah. Keringat mengucur membasahi keningnya karena terlalu bersemangat mengikuti gerakan senam hamil itu. Dia ingin melahirkan dengan normal. Karina memang tak pernah meng USG kan bayinya, perkiraan dokter Karina hamil bayi kembar meski tak tau jenis kelaminnya.
Itulah sebabnya perutnya seperti hamil sembilan bulan padahal belum, karena bayinya kembar. Syukurlah karena kesabarannya selama ini Tuhan memberinya karunia langsung dua anak untuknya di saat dirinya diuji tak bisa memiliki anak dengan pernikahannya selama kurang lebih 15 tahun lamanya.
Tok tok tok
Suara pintu depan diketuk dari luar. Karina yang masih mengikuti gerakan senam hamil beranjak keluar menuju pintu depan. Keringat masih membanjiri keningnya. Karina mengambil handuk mengusap keringatnya sebentar sambil berjalan mendekati pintu depan. Videonya sementara di pause sebelum dilanjutkan kembali. Ketukan pintu terjadi lagi semakin keras, seolah tak sabaran untuk dibukakan.
"Ya... sebentar...!"teriak Karina membuka pintu rumahnya.
"Karina..."
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih sudah beri like dan vote nya🙏🙏
.
.
__ADS_1
.