Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 69


__ADS_3

Vivi memunguti gaunnya yang sudah tercecer di ruang istirahat itu, masuk ke kamar mandi yang disediakan ruang istirahat itu. Dion pun melakukan hal yang sama, memakai kembali pakaiannya, duduk di sofa ruang itu menunggu kekasihnya keluar dari kamar mandi.


Dion tersenyum senang saat melihat Vivi tersipu malu yang menyeret gaunnya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Dion melirik jam tangannya, sudah lebih dari setengah jam Vivi belum juga keluar dari kamar mandi. Dion bergerak gelisah di tempat duduknya. Bayi, apa aku terlalu kasar hingga menyakiti bayi kami, batin Dion segera beranjak dari tempat duduknya mendekati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Tok tok tok


"Vivi, ada apa? Kenapa lama?" tak ada suara dari dalam semakin membuat kegelisahan Dion semakin menjadi.


"Sayang, apa aku melukaimu, apa kau baik-baik saja?" tanya Dion lagi cemas. Masih tak ada jawaban dari dalam.


Dion mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, berharap Vivi segera muncul dan bilang bahwa dia baik-baik saja. Tapi hingga hampir sepuluh menit menunggu di depan pintu kamar mandi tak juga pintu itu terbuka.


Kecemasan dan kepanikan melanda Dion, dia segera membuka paksa pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci dan tak ada siapapun di dalam. Dion masuk ke dalam kamar mandi menatap setiap sudut kamar mandi yang hanya berukuran tiga kali tiga itu. Tak ditemukan Vivi bahkan kamar mandi itu kosong.


"Shit..." umpat Dion langsung berlari keluar dari ruang istirahat itu.


Berbaur ke dalam tempat pesta pernikahan tadi. Tapi sudah tak seramai tadi. Dion celingukan mencari sosok yang sedang melarikan diri darinya tadi.


"Dion." panggil seseorang menepuk punggung Dion yang membuat Dion tersentak memalingkan wajahnya menatap seseorang yang memanggilnya.


"Kau, ada apa?" jawab Dion kembali berkeliling celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Vivi.


"Kau sedang mencari siapa?" tanya gadis itu yang keheranan melihat Dion kebingungan seperti mencari seseorang.

__ADS_1


"Diamlah!" seru Dion masih dengan nada cemas dan panik mencari keberadaan Vivi di sekitar pesta pernikahan itu.


"Hei, kau mencari siapa, mungkin aku bisa membantu?" tawar gadis itu lagi.


Dion sontak menoleh menatap gadis yang telah menjadi teman sekelasnya saat di sekolah menengah itu yaitu Putri. Ya, gadis itu adalah Putri. Dion ingin minta tolong tapi dia tak punya foto Vivi dan dia bingung akan menjelaskan seperti apa, jika dia minta bantuan Putri otomatis dia harus menceritakan semua hal tentang Vivi pada Putri.


Putri masih menunggu Dion bicara, tapi Dion tak kunjung bicara. Membuat Putri mengerutkan alisnya karena Dion tak kunjung mengatakan padanya.


"Aku akan mencarinya sendiri." jawab Dion akhirnya berkeliling celingukan kesana-kemari mencari dengan wajah yang sudah kusut.


Kenapa kau lari lagi Vivi, kumohon! harap Dion cemas, dia mengacak rambutnya kasar. Dia pun terduduk di kursi dekat pintu keluar ballroom tempat pesta pernikahan itu.


"Dion, siapa gadis yang kau bawa tadi?" tanya Putri yang ternyata mengikuti Dion dan ikut pula duduk di kursi dekat Dion.


Putri kasihan melihat wajah Dion yang tampak frustasi. Ya, tadi Putri melihat Dion menggandeng seorang gadis. Dan entah kenapa Putri seperti mengenali gadis yang digandeng Dion.


"Kekasihku." jawab Dion singkat tak menghiraukan Putri yang membuntutinya sejak tadi.


"Siapa?" tanya Putri penasaran.


Dion menatap Putri lekat, masih ragu untuk mengatakan terus terang pada Putri. Cctv, iya kenapa aku tak terpikirkan itu. batin Dion beranjak menuju ruang kontrol semua cctv hotel itu.


"Permisi, boleh minta tolong!" pinta Dion memelas.


"Maaf, ini ruang khusus hanya untuk pegawai. Dan semua rekaman cctv bersifat rahasia dan tertutup." jawab salah satu pegawai ruang itu.

__ADS_1


Dion menghela nafas, sudah berbagai macam alasan dan cara yang dilakukan untuk membujuk dan memohon serta merayu agar diperlihatkan rekaman cctv hotel itu tapi semua gagal. Dion keluar ruangan itu dengan hampa. Dia bingung mencari kemana lagi.


"Dion, dari mana saja kamu? Kau terlihat kacau." ucap Putri.


"Aku pulang, tolong kau pamitkan pada keluargamu. Maaf." Dion pergi meninggalkan gedung hotel itu mengambil mobilnya untuk pulang ke rumah.


Dirinya yang acak-acakan dan tampak kacau serta semrawut membuat tak bersemangat dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia terlihat seperti orang yang frustasi. Dirinya tadi sudah sangat senang menemukan Vivi dan berhasil menangkapnya dan berusaha untuk tak membuatnya melarikan diri lagi.


Ternyata dia lengah. Dirinya tadi yang ikut terhanyut dalam percintaan panas tadi membuat terlena hingga saat dia melarikan diri, Dion tak sadar sama sekali.


"Aaaargh.." teriak Dion memukul setir mobilnya dan meremas kemudi itu dengan kuat, hingga buku jarinya memutih.


"Kenapa kau melarikan diri lagi Vivi. Maaf jika aku bersalah dan menyakitimu. Kumohon kembalilah!" ucap Dion frustasi meracau di dalam mobilnya.


Dion segera turun dari mobilnya dan berlari ke kamarnya setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Dion melepas jasnya dan dasinya yang terasa mencekik lehernya.


Membuangnya ke sembarang arah di dalam kamarnya. Dion meneguk air dingin dalam botol yang diambilnya dari kulkas dapurnya tadi. Duduk di kursi meja belajarnya. Nafasnya yang ngos-ngosan karena emosinya yang memuncak membuat mengusak rambutnya kasar.


"Kau dimana?" rintih Dion tanpa sadar air matanya mengalir.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2