
Al memegangi dadanya yang sesak, entah kenapa rasa sesak itu semakin menyakitkannya. Alena yang celingukan mencari-cari keberadaan Al melihat Al berpegangan di dinding mall dengan tangan satunya memegangi dadanya seolah seperti orang sesak nafas. Alena segera menghampiri Al yang berwajah pucat pias kesulitan bernafas.
"Kau tak apa?" tanya Alena cemas dan panik.
Al mengangguk meski dadanya terasa diremas dan sesak. Alena mendudukkan tubuh Al di bangku mall tak jauh dari tempat mereka berdiri. Alena meminta tolong pada seseorang yang lewat mencarikan air minum namun, rasa sesak yang dirasakan Al tetap tak bisa berkurang.
Terpaksa Alena membawanya ke rumah sakit terdekat di mall itu. Dalam perjalanan Al pingsan di mobil membuat Alena semakin cemas dan panik.
Setibanya di rumah sakit, bersamaan itu pula mobil berhenti tepat di pintu masuk rumah sakit. Seorang pemuda menggendong seorang wanita hamil yang sedang merintih kesakitan karena memegangi perutnya yang mendadak kram dan ada darah yang terus mengalir di pahanya yang diikuti oleh seorang wanita paruh baya yang menatap keduanya cemas dan panik.
Para suster langsung meletakkan wanita hamil itu di brankar terlebih dulu karena terlihat lebih darurat. Sedang Alena menunggu brankar lain yang sudah sampai dan meminta tolong perawat pria untuk membopong tubuh Al.
"Sakit ma..." seru wanita itu yang ternyata Angel, memegangi perutnya dengan Karina dan Dion mengikuti brankar itu menuju ruang UGD.
"Bertahanlah nak, kau harus kuat demi anakmu." hibur Karina yang merasa cemas dan panik, merasa bersalah terhadap keadaan yang menimpa Angel.
"Sakit ma, sakit..." rintihnya hingga sampai di pintu UGD para dokter dan suster melarang keduanya untuk ikut masuk.
"Ini semua salahku." sesal Karina, menyalahkan dirinya sendiri.
"Tenanglah ma, ini bukan salah mama, ini hanya murni kecelakaan. Kita doakan semoga kak Angel dan bayinya baik-baik saja." hibur Dion memeluk mama mertuanya.
Air mata terus mengalir di pipi Karina tetap merasa bersalah meski Dion sudah menghiburnya. Tapi perasaan ibu mana yang tetap tenang melihat keadaan putrinya yang sedang hamil mengalami kecelakaan.
Dan apalagi usia kandungannya baru memasuki delapan bulanan, Karina akan semakin merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada bayi putrinya nanti.
Brankar Al didorong tergesa menuju ruang UGD juga dengan Alena mengikuti juga. Dokter dan suster juga melarang Alena untuk ikut masuk ke dalam. Terpaksa Alena menunggu di luar sampai dokter memeriksa keadaan Al.
__ADS_1
Meski Alena, Dion dan Karina berada di tempat yang sama ketiganya hanya diam dengan sorot mata penuh kecemasan dan kepanikan pada diri mereka masing-masing.
Pintu ruangan terbuka, ketiganya serentak langsung menghampiri dokter itu yang membuat Dion, Karina dan Alena saling menatap. Dokter yang juga kebingungan menatap ketiganya bergantian.
"Keluarga wanita hamil?" tanya dokter itu dan otomatis Alena langsung undur diri.
"Saya ibunya dok?" jawab Karina.
"Sepertinya bayinya terpaksa dilahirkan sekarang juga karena kondisi tubuh pasien yang sedang tidak baik-baik saja. Jika tidak akan membahayakan keduanya." jelas dokter itu.
"Tapi dok kandungnya baru memasuki delapan bulan?" tanya Karina cemas.
"Terpaksa kita lakukan operasi cesar dan bayi lahir prematur karena kondisi tubuh ibunya sedang tidak baik-baik saja." jelas dokter itu.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya dok!" ucap Dion mewakili Karina bicara yang sepertinya Karina hanya bisa menangis tak mampu untuk bicara karena kecemasannya.
Sementara di ruang UGD, tak henti-hentinya Angel merintih meratapi rasa sakitnya yang menjalar di seluruh tubuhnya. Terasa seperti orang yang mau melahirkan saja, padahal perkiraan masih dua bulan ke depan.
"Mas Al, kau dimana, putrimu ingin lahir lebih awal. Kenapa kau belum pulang juga? Tak inginkah kau melihat putrimu lahir. Mas Al..." rintih Angel menyebut nama Al suaminya yang entah karena takdir apa, Al yang sedang terbaring di sisinya hanya berbatas kelambu membuka matanya perlahan merasa ada seseorang yang memanggilnya.
Suara itu terus muncul di benak Al, dia menatap sekeliling ruangan itu adalah ruang UGD rumah sakit. Setelah ditangani dokter dan diinfus, Al merasa lebih baik. Dia belum dipindahkan ke ruang perawatan karena Alena masih mengurusnya.
Al kembali mendengar namanya disebut dari sisi kirinya. Al bangun dari tidurnya menguatkan dirinya untuk bangun meski masih sedikit merasa berdenyut kepalanya.
"Mas Al, sakit...."rintih Angel dengan berderai air mata meringkuk di ranjang memegangi perutnya.
Kelambu sebelahnya terbuka, tapi kesakitan Angel seolah tak mampu menatap siapa yang muncul dari balik kelambu itu.
__ADS_1
"Angel .... " lirih Al yang melihat istrinya yang kesakitan meringkuk bagai bayi memegangi perutnya yang... membuncit... Perlahan senyum Al terbit, rasa sakitnya perlahan hilang dan lenyap. Menatap istri yang dirindukannya berada di depan matanya.
"Mas ... Al..." lirih Angel mendongak saat suara yang dirindukannya muncul di hadapannya.
"Angel, benarkah itu dirimu sayang ... Ada apa? Mana yang sakit?" tanya Al cemas sudah melupakan bahwa dirinya juga sedang tidak baik-baik saja. Perlahan tangannya terulur memegangi perut buncit istrinya.
"Putrimu... ingin keluar... lebih... cepat..." rintih Angel.
Perlahan rasa sakit di perut Angel berkurang entah mungkin karena elusan tangan ayahnya yang tidak pernah didapatkan dari awal kehamilan.
Dokter segera masuk menyiapkan operasi setelah perizinan usai diurus. Dion yang mewakili sebagai suami Angel sudah berganti baju khusus ikut masuk. Namun gerakannya terhenti melihat Angel bersama pria yang diyakini sebagai suami Angel yang telah lama hilang. Senyum Dion berkembang di bibirnya.
"Kau harus menjelaskan banyak hal padaku Kak." ucap Dion tersenyum senang dan menepuk pundak Al meninggalkan ruang UGD itu.
"Dion, ada apa nak? Kenapa kau keluar, kau tak jadi mendampingi Angel? Apa terjadi hal buruk padanya?" tanya Karina cemas yang menunggunya di luar ruangan.
"Tak apa ma, ada orang yang lebih tepat mendampingi kak Angel." hibur Dion tersenyum senang, entah kenapa perasaan sedikit tenang dan lega.
Sedang Alena yang sudah selesai mengurus administrasi Al dilarang masuk ke dalam ruang tempat Al menunggu ruang perawatannya. Alena sempat heran, namun dirinya hanya bisa pasrah karena salah seorang suster menjelaskan bahwa pasien mengatakan ingin sendiri lebih dulu.
"Aku akan menghubungi istriku ma." ucap Dion mengambil ponselnya, saking cemas dan paniknya tadi dia hampir lupa menghubungi istrinya. Pasti sekarang sedang cemas menunggu kabar di rumah.
TBC
.
.
__ADS_1
.