
"Aku tetap akan menafkahi mereka?"ucap Reno.
"Apa ibunya dengan sukarela mau kau ceraikan?"kata Karina balik bertanya.
"Aku tak mencintainya?Asal dapat kompensasi yang lumayan dia bersedia."ucap Reno lirih.
"Ah,,hahaha,, sungguh hebat,, lalu anakmu,apa dia akan ikut ibunya?"tanya Karina dengan senyum mengejek.
"Ibuku akan merawatnya. Dari awal aku sudah katakan padanya jika anak kami sudah lahir kami akan bercerai,"
"Setega itu kau memisahkan seorang anak dengan ibunya? Bagaimana kau tega ?Bukankah dia darah dagingmu?"seru Karina marah meski anak dari istri madu suaminya Karina tetap tak tega melihat seorang anak dipisahkan dari orang tuanya, pekerjaannya yang mengurus anak-anak langsung membuatnya tersentuh meski bukan anak kandungnya. Reno terdiam kata-kata Karina begitu menusuknya. Karina berdiri dari tempat duduknya.
"Tak bisakah kita seperti dulu?"Karina terhenti.
"Apa hubungan kita benar-benar harus berakhir?"lanjut Reno lagi.
"Maaf... "jawab Karina tanpa menatap.
"Boleh aku tau alasannya?Apa karena pria br*****k itu?"tanya Reno sedikit emosi. Karina tak menjawab meninggalkan Reno begitu saja.
"Aaarg,,"teriak Reno memukul meja setelah Karina pergi,selama bersama dalam pernikahan,Reno tak pernah emosi apalagi mengamuk, semua hal yang dilakukan tentang istrinya membuatnya lemah, karena begitu mencintainya.
**
Derian masih termenung di kursi kebesarannya, kantor tempatnya bekerja.Tak ada semangat sama sekali, berulang kali menghela nafas panjang dan lelah.Menatap tumpukan dokumen berkas laporan tentang perusahaannya yang tidak pernah ada habisnya. Sudah lebih dari sebulan tak bisa menemui Karina.
__ADS_1
Setelah kejadian Karina di bawa suaminya.Esoknya Reno datang ke tempat Derian untuk menemuinya.Tak lebih dari setengah jam setelah Reno pamit, suara tawanya menggelegar membuat sekretaris dan asistennya di luar ruangan bergidik ngeri.Kata-kata Reno begitu menusuk hatinya terlalu dalam.Reno meminta dirinya menjauhi Karina yang notabene adalah istrinya, Derian sempat menertawakan,tapi begitu ancaman Reno yang ingin membawanya pergi jauh membuat Derian terpaksa mengiyakan perkataan Reno.
Derian tak akan sanggup berpisah jauh darinya, Derian juga tak ingin Karina terluka.Bukannya Derian tak bisa menghadapi Reno, terlalu beresiko untuk Karina jika dia nekat, apalagi dirinya masih terikat pernikahan dengan istrinya yang masih belum mungkin diceraikan saat ini.Jika Derian nekat mendekati,Karina malah akan semakin terluka dan mungkin dia bisa dicap sebagai seorang pelakor selamanya sedangkan Karina juga masih terikat pernikahan dengan suaminya.
Derian berulang kali berpikir jalan keluar untuk dirinya dan Karina tapi seolah buntu. Didorongnya semua barang di meja sebelah kanan tangannya, Derian mengambil rokoknya, menyalakannya, menghisap rokok itu dalam-dalam.Sudah tak terhitung lagi berapa batang rokok dihisapnya.Seruan Noah sekretarisnya mengingatkan rmeeting nya, membuatnya malas dan enggan berpikir.
Bahkan ponselnya tak ada panggilan atau pesan chat satupun dari Karina membuatnya semakin frustasi, Karina benar-benar ingin meninggalkannku, batin Derian menatap ponselnya setiap hari berharap Karina menghubunginya suatu saat nanti,tapi tak ada sama sekali.Derian sangat merindukannya dia ingin bertemu dengannya, melihatnya, memeluknya dan membawa masuk dalam pelukannya. Pikiran itu terus berputar-putar dalam benaknya semakin berpikir semakin membuatnya merindukan wanita itu.
Kabar dari orang suruhannya yang dikirim untuk mengawasi Karina terpaksa dihentikan, karena Reno juga mengetahui hal itu. Setelah rokok di dalam bungkusnya habis.
Derian beranjak ke tempat meeting mencoba menghilangkan sedikit masalahnya.Tapi bukannya masalahnya hilang, laporan para karyawannya membuatnya malah bertambah emosi, amarahnya yang sudah diredam tadi kembali muncul di permukaan. Teriakan amarahnya di ruang meeting membuat semua orang disitu nyalinya menciut.Tak ada yang berani bicara tak ada yang berani membantah tak ada juga yang berani berkomentar, bahkan Noah sendiri sudah angkat tangan untuk menenangkan tuannya yang begitu emosi akhir-akhir ini bahkan seolah-olah hari itu tuannya sengaja berusaha meluapkan semua kemarahannya selama ini, selama tuannya berpisah dari kekasihnya,Karina.
Setelah dirasa puas melampiaskan kemarahannya, Derian bergegas keluar dari ruang meeting itu, menuju ruang kerjanya.
Atas saran sekretarisnya, Derian membatalkan semua jadwalnya hari itu,dia pulang lebih awal dari biasanya.Diantar Noah juga, Derian masuk dalam mobil di kursi belakang, menyandarkan tubuhnya ke belakang, memejamkan matanya, mencoba membuang semua masalahnya.
Karina yang baru pulang dari pekerjaannya memilih untuk jalan kaki dari tempatnya bekerja yang tak jauh dari rumahnya. Noah menghentikan laju kendaraannya saat melihat Karina, wanita yang membuatnya majikannya uring-uringan akhir-akhir ini duduk di bawah pohon dekat taman rumahnya.Menghentikan mobil itu tepat di depan Karina duduk, Karina yang sedang melamun tak menyadari mobil itu berhenti di depannya.
Derian membuka matanya malas saat dirasa mobil berhenti.Tapi tak ada pergerakan apapun dari sopirnya yang juga sekretarisnya.
"Kau butuh sesuatu?Kenapa masih berhenti?Aku sedang malas untuk mampir kemanapun?"ucap Derian belum mengetahui keberadaan Karina.Noah masih diam belum bicara.
Buka matamu tuan,aku ingin tuan melihatnya, orang yang selama ini anda rindukan sedang ada di dekat anda, batin Noah juga menatap Karina yang masih tampak melamun dan cuek dengan mobil yang terparkir di depannya.
"Selamat sore,nona."Noah menyapa Karina keluar dari dalam mobil. Karina yang sedang melamun tersentak.
__ADS_1
"Selamat sore,"sapa Karina kembali yang spontan berdiri.
"Anda...."ucap Karina menggantungkan kalimatnya saat tau siapa yang menyapanya dan seketika menoleh menatap seseorang yang baru keluar dari pintu mobil belakang penumpang.
Karina spontan menutup mulutnya tak percaya. Derian yang tak tau mobilnya berhenti di depan Karina mengenali suara Karina yang bicara pada Noah sontak membuka pintu mobil dan memastikan suara yang didengarnya adalah betul suara Karina.
Dadanya berdetak kencang seperti seorang remaja yang jatuh cinta, dadanya pun sesak untuk mengambil nafas.Kerinduannya terhadap Karina membuncah begitu menatap Karina yang juga di sudut matanya memancarkan kerinduan juga. Derian mendekat, mengusap wajah Karina perlahan memastikan wajah itu benar-benar Karina. Baru satu bulan lebih dirinya tak berjumpa seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu.
Derian mendekap erat tubuh Karina, memeluknya lebih dalam ke dalam pelukannya. Karina hanya diam tak membalasnya, bagaimanapun mereka berada di pinggir jalan dekat rumahnya,Karina tak mau orang-orang berpikir tidak-tidak.
"Kau tak merindukanku?"tanya Derian merasa Karina tak meresponnya. Menyadari tempat mereka, Derian menarik tangan Karina masuk ke mobil belakangnya.
"Aku harus pulang,"ucap Karina menolak halus dengan senyumannya.
"Hanya sebentar,"mohon Derian.Karina yang melihat keadaan Derian yang tak baik-baik saja mengangguk mengikuti masuk ke dalam mobilnya.
Karina melihat penampilan Derian yang begitu kacau,kusut dan rambut yang acak-acakan.Seperti tak terurus, janggutnya yang mulai tumbuh bulu-bulu halus semakin menunjukkan tubuhnya yang kurus tak terawat. Apa yang terjadi padanya, begitu beratkah masalahmu? batin Karina yang tak tau kalau suaminya Reno menemui Derian secara pribadi untuk menjauhinya.
TBC
.
.
.
__ADS_1