Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 10


__ADS_3

Angel berjalan ke minimarket dekat rumahnya, awalnya Karina tak mengizinkan Angel ke minimarket sendiri apalagi jalan kaki. Tapi, Angel meyakinkan Karina kalau dia akan baik-baik saja. Meski karina masih merasa berat, dia terpaksa mengizinkan dengan harus selalu membawa ponselnya, jika sesuatu terjadi padanya.


Kini Angel menenteng sebuah kantong belanjaannya berjalan pulang. Dan dengan mencicipi satu es krim di tangan lainnya.


Angel sangat menyukai es krim. Saat melewati taman kota dekat minimarket, Angel tak sengaja mendengar suara isakan, isakan tangis dari seseorang yang sedang duduk di bangku taman itu dengan posisi membelakanginya. Angel menghela nafas, merasa kasihan terhadap pria itu, seorang pria menangis.


Pasti sangat berat masalahnya, hingga dirinya sampai ingin menangis seperti itu. Apa dia tak punya seseorang untuk dijadikan teman untuk curhat? batin Angel menatap punggung pria itu. Saat pria itu menoleh mencoba menepis air matanya, Angel tersentak.


"Dion." bisiknya lirih di kejauhan. Angel menoleh kearah kanan dan ke kiri, tak ada siapapun yang ada disekitarnya. Tak ada bekas luka memar seperti habis dipukuli juga. Apa aku harus menghiburnya? batin Angel bimbang, dia diantara dua pilihan antara mendekatinya atau tidak.


"Mau es krim?" ucap Angel yang membuat Dion tersentak mengenali suara itu, memalingkan wajahnya dari Angel menghapus sisa-sisa air matanya, dengan wajah memerah antara malu dan merah karena tangisannya.


"Makasih kak." jawab Dion menerima es krim dari Angel.


"Katanya kalau kita lagi sedih, makan makanan yang manis bisa membuat rasa sedih berkurang." ucap Angel tersenyum sambil masih makan es krimnya. Dion menatap es krim pemberian Angel yang sudah mulai akan dijilatinya.


"Benarkah? Aku berharap kesedihanku benar-benar berkurang." jawab Dion mulai makan es krim itu.


"Biarpun rasa sedih berkurang, entah kenapa pipiku masih saja basah." jawab Dion serak menahan tangisnya menunduk tak ingin Angel melihat air matanya yang terus saja mengalir.


Isakan pun kembali terdengar membuat hati Angel iba dan entah kenapa ikut merasakan rasa sakit Dion.


Tanpa sadar tangan Angel terulur meraih pundak Dion saat es krimnya habis. Dion menerima uluran tangan Angel dan memeluknya erat. Angel menepuk-nepuk punggung Dion mencoba memberi penghiburan.


"Hua...wawa..wa..aaa..." tangisan Dion malah semakin kencang saja. Angel menepuk punggung Dion terus menerus berharap hatinya menjadi lega dengan tangisannya.


"Maaf, jaket kakak, basah." ucap Dion tertunduk malu, mengusap air mata dan ingus dengan sapu tangan yang diberikan Angel padanya, Angel menatap cardigannya basah.


"Iya... kau harus tanggung jawab." jawab Angel tersenyum menggoda Dion.


"Ya?" Angel tertawa keras. Membuat Dion cemberut merasa digoda Angel.


Mereka pun saling diam setelah Dion berhenti menangis. Tak ada yang bicara diantara mereka.

__ADS_1


"Papa Reno ternyata bukan papa kandungku." curhat Dion menatap ke langit merasa dirinya lebih baik setelah menangis. Angel menatap Dion prihatin.


"Papa kandungku tak menginginkanku dulu. Hingga menyuruh mamaku untuk menggugurkannya. Dan akhirnya mama bertemu papa Reno." curhat Dion lagi merasa Angel tak menjawabnya.


"Tapi, papa Reno tak pernah memperlakukanku dengan buruk. Bahkan dia menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri. Juga saat mama meninggalkanku dengan papa pun, papa tetap menyayangiku. Apalagi saat nenek Hesti tau aku bukan cucu kandungnya meski sekarang dia sudah memperlakukanku dengan baik juga." lanjut Dion lagi masih membuang pandangannya ke arah lain tak berani dan malu terhadap Angel.


Dia jadi minder sekarang dan entah kenapa dia merasa malu pernah memaksakan perasaannya dulu pada Angel. Dion seperti tak pantas menyukai Angel lagi, karena derajatnya sebenarnya tak pantas untuk bersama dengan Angel, gadis yang disukainya sejak 10 tahun silam.


"Akupun..... bukan anak kandung papa Derian dan mama Karina, tapi mereka tetap menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan mereka tak membeda-bedakan antara anak kandung dan bukan. Hanya papa yang lebih menyayangi Arthur, mungkin karena dia anak laki-laki sendiri diantara kami." ucap Angel getir tersenyum menatap Dion yang juga menatapnya.


"Jadi...."


"Ya, kita sama. Sama-sama bukan dengan orang tua kandung kita." Angel tersenyum mencoba menghibur masih menatap Dion.


"Lalu, dimana orang tua kandung kakak?" tanya Dion setelah lama saling terdiam.


"Di penjara." Dion sontak menoleh menatap Angel lagi, menatap dengan wajah penuh kasihan.


"Mereka berusaha menculik dan membunuhku saat kecil demi mendapatkan tebusan uang yang banyak dari orang tua angkatku." ucap Angel lagi dengan nada getir dengan senyum dipaksakan.


"Maaf kak, aku telah mengingatkan luka lama kakak." sesal Dion menunduk merasa bersalah.


"Sudahlah, lagi pula itu cerita masa lalu. Sekarang aku sudah melupakan semua. Aku tidak menyesal telah dibesarkan oleh orang tuaku sekarang, aku malah senang memiliki orang tua seperti mereka. Dan aku tak menyesali apapun. Dan aku bersyukur orang tuaku sekarang menyayangiku lebih dari orang tuaku." ucap Angel menatap menerawang jauh ke depan.


Puk.. puk...


"Aku juga bisa menghibur kakak?" tawar Dion menepuk dadanya, merentangkan kedua tangannya menghadap Angel berharap Angel mau dipeluknya untuk dihibur meski sedikit kecil modusnya saja.


"Ih, apaan sih?" ucap Angel tersenyum lucu, wajahnya memerah malu karena sikap Dion yang sok dewasa ingin menghiburnya.


"Katanya kakak hanya menganggapmu sebagai adik?" tanya Dion sok polos dengan nada dibuat sedih. Angel menatap Dion lekat.


"Makasih." entah kenapa Angel tak bisa menolak perlakuan Dion yang menariknya masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Mereka masih terdiam dalam pelukan itu. Dada Dion berdebar-debar, wajahnya yang memerah tak terlalu kentara karena sisa menangis tadi. Begitu pun Angel merasakan dada Dion berdebar-debar, dadanya pun ikut berdebar.


Entah kenapa Angel semakin nyaman dalam pelukan Dion. Tubuh besar, bahu yang lebar dan dada yang bidang membuat Angel semakin masuk memeluk tubuh Dion erat. Entah kenapa dia malah nyaman berbeda saat bersama Al. Meski Al kekasihnya dan mereka pun sudah saling berciuman tapi Angel belum seintens itu memeluk Al lebih erat.


Angel malah nyaman saat bersandar di bahu Al, tapi beda saat dipeluk Dion, lebih ke senang dan bahagia. Apakah karena tak ada yang kusembunyikan dari Dion? Apa karena Dion sudah mengetahui siapa diriki sebenarnya? batin Angel yang masih setia memeluk dengan erat tubuh besar Dion.


Dion semakin memerah menahan malu saja, sekaligus dia juga menahan nafsu, entah kenapa dorongan pelukan erat padanya membuat sesuatu di bawah tubuhnya sesak dan menginginkan untuk dilepaskan. Angel yang tak menyadari itu semakin memperdalam pelukannya.


Wajah Dion malah semakin panas, tiba-tiba tubuhnya gerah kepanasan padahal udara malam itu sangat dingin. Dion kelabakan dan gugup, bingung akan bagaimana, di satu sisi dia tak mau melepaskan pelukan itu. Jarang-jarang dia mendapat pelukan dari seorang Angel, gadis yang menarik hatinya sejak kecil. Satu sisi tubuh bawahnya semakin sesak membuatnya tak bisa bernafas dengan baik, malah nafasnya tercekat karena nafsunya mulai tinggi.


Wajahnya berkabut gairah, tapi bukan disini tempatnya. Dion mencoba mengendalikan dirinya untuk tak 'menyerang' Angel yang bisa membuat dia membencinya lagi.


"Kak..." ucap Dion serak menahan hasratnya.


"Hmmm." Angel menjawab masa bodoh, dirinya masih terlalu nyaman dalam dekapan dada bidang Dion, tak sadar dengan apa yang terjadi pada Dion.


"Aku... aku..." Dion menelan ludahnya kasar, suara seraknya sungguh membuatnya mengurungkan niatnya untuk bicara.


Angel yang mendengar suara kesulitan Dion berbicara melepaskan pelukannya meski membuatnya kecewa karena masih ingin dalam pelukan nyaman itu. Angel menatap Dion yang wajahnya memerah, tapi Angel mengira itu karena sisa menangis Dion tadi, sehingga dia tak bertanya.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2