
Setelah Al mengantar Angel ke kelasnya, Al menuju ke ruang rektor mengambil mata kuliah hari ini karena Al ada ketua tingkat kelasnya. Pelajaran hari itu berlangsung tanpa aral suatu rintangan yang berarti. Ketika geng Bryan berkumpul di bangku Bryan, yang tak jauh dari tempat duduk Al. Al biasa mendengar percakapan mereka.
"Wah, kayaknya berhasil nih?" ucap Willy duduk di dekat bangku Bryan.
"Siapa dulu dong, gue gitu." jawab Bryan sombong.
"Mau dikemanakan si Chika?" sahut Delon yang baru ikut gabung.
"Dua-duanya jalan lah, Lo kaya gak tau gue aja." jawab Bryan enteng. Al semakin menajamkan pendengarannya.
"Emang Lo ye, dua-duanya Lo embat, emang tu adik kelas mau Lo kencani?" tanya Willy lagi.
"Angel maksud Lo?" tanya Delon yang masih gagal fokus.
"Ya iyalah siapa lagi. Bryan kemarin kan mau bilang mau nakhlukin to cewek. Eh, sekarang dia sudah bisa antar jemput aja." ucap Willy enteng.
"Bacot Lo." jawab Bryan menatap Willy.
"Angel temen pacar gue Dinda?" tanya Delon tak percaya.
"Yoi... kayaknya pendiam kan, ternyata jatuh juga sama si Bryan." ucap Willy yakin.
"Secara gue gitu lo. Gue yakin gak sampai sebulan, dia bisa jatuh ke ranjang gue. Hahaha..." mereka tertawa terbahak-bahak, Al yang sudah menyimak percakapan mereka terasa panas di dadanya.
Emosipun menjalar naik ke ubun-ubun dan bag..bug...
Pukulan telak melayang di rahang Bryan, membuat Bryan terjungkal jatuh ke belakang, dia belum siap langsung meringis. Al seperti kesetanan terus menerus memukuli Bryan yang juga dibalas Bryan sekenanya karena Al memukulnya membabi buta.
Leraian kedua teman Bryan tak mampu menahan amarah Al. Hingga keduanya sudah kehabisan tenaga, akhirnya mereka dapat dilerai oleh Willy dan Delon. Dan seorang dosen membawa keduanya ke ruang kepala rektor.
**
Hari kelima Dion dirawat di rumah sakit. Dokter sudah menyatakan mulai ada tanda-tanda sembuh. Suhu tubuhnya mulai normal meski belum normal sepenuhnya. Dia sudah tak perlu lagi di transfusi darah.
Tapi masih harus diinfus sampai benar-benar suhu tubuhnya normal seperti orang sehat.
__ADS_1
Kini Dion sedang memainkan ponselnya, Reno terpaksa ke kantor karena ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan. Reno dengan terpaksa meninggalkan putranya dengan bibi pelayan rumah mereka.
Kini bibi sedang membelikan makanan yang diinginkan putra majikannya. Dion iseng-iseng mencoba menghubungi Angel. Diliriknya jam dinding ruang perawatannya menunjukkan pukul 3 sore. Pasti sudah pulang dari kampus. batin Dion.
Dion menunggu panggilannya diterima. Panggilan pertama tak diangkat, Dion menghubungi lagi.
"..."
"Ini aku kak?" jawab Dion tersenyum malu-malu meski Angel tak bisa melihatnya.
"..."
"Eh, iya kak." Dion menatap ponselnya yang sudah tak terhubung.
Di benaknya terdapat pikiran macam-macam karena dia mendengar suara seorang laki-laki di sebelah Angel. Dada Dion seketika sesak, dia tak mau berpikir macam-macam, kalaupun dia berpikir macam-macam, memang siapa dirinya. Mereka tak punya hubungan khusus apapun meski Dion pernah sekali mengecup bibir Angel.
**
"Biar aku antar!" perintah Al saat Angel keluar kelas.
"Baiklah." jawab Angel pasrah melihat raut wajah kecemasan di wajah Al.
Mereka jalan berdua bersisian menuju halte bus. Bryan dan gengnya melihat mereka tak suka. Apalagi Bryan terlihat mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Aku tak akan berhenti sampai sini saja. batin Bryan menahan amarahnya dan berlalu pergi ke aula tempat persiapan wisuda nanti.
"Apa kakak nanti tak terlambat?" tanya Angel merasa tak enak hati.
"Tak apa. Aku tak mau terjadi sesuatu terhadapmu nanti." jawab Al tersenyum setelah mereka tiba di halte bus dekat kampus mereka.
Al belum mau jujur tentang sebab perkelahian mereka tadi. Angel juga tak mendesak untuk bertanya. Angel membatalkan niatnya untuk mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Bryan. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercerita.
Mungkin malah semakin menambah emosi saja nantinya. Angel melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Menunjukkan hampir jam 3 sore. Bus datang setelah beberapa menit mereka menunggu dan mereka langsung naik dan mengambil tempat duduk yang lumayan sepi.
Tiba-tiba ponsel Angel berdering, diliriknya nama Dion tertera di layar ponselnya. Angel menatap Al yang juga menatapnya seolah bertanya siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
"Dion kak... yang pernah bertemu di cafe waktu itu Lo." jelas Angel, wajah Al langsung tak suka, tapi dia tak menjawab apa-apa langsung kembali menatap ke arah depan mengalihkan pandangannya.
"Sebentar kak..." Angel langsung mengerti reaksi Al.
"Halo..." jawab Angel.
"..."
"Kita hampir sampai." sela Al berdiri duduknya bersiap turun di dekat pintu. Meski sebenarnya masih 2 halte bus lagi. Dia hanya beralasan agar Angel segera menutup panggilan ponsel itu.
"Nanti aku hubungi lagi ya?" sahut Angel langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Dion. Angel mendekati Al yang berdiri. Mereka turun di halte bus itu.
Angel menatap sekeliling halte, bukan tempat perberhentiannya yang biasanya. Lebih tepatnya masih satu halte lagi.
"Kan masih satu halte lagi kak?" tanya Angel kebingungan.
"Aku ingin berjalan sampai sini ke rumahmu." jawab Al santai menarik jemari tangan Angel untuk digandengnya. Angel menatap jemarinya yang ditarik Al dan tersenyum malu.
"Tapi kan masih jauh kak? Nanti kakak terlambat kembali ke kampus?" tanya Angel cemas merasa bersalah.
"Tak apa. Aku... ingin lebih lama bersamamu." jawab Al menatap Angel lekat. Angel semakin memerah saja pipinya yang membuat Al mengecup bibir Angel sekilas dan menarik lagi jemari tangan Angel. Angel hanya menurut mengikuti langkah Al.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏🙏
.
.
.
__ADS_1