
Namaku Putri Aftano, putri kedua dari pasangan papa Derian dan mama Adelia. Sejak bayi aku diurus oleh bibi pengasuh. Mamaku entah kemana. Aku mempunyai kakak perempuan namanya Angel Aftano, kami dua bersaudari yang selalu ditinggal oleh kedua orang tua kami. Sibuk, itulah salah satu alasan mereka.
Meski sebenarnya aku tahu kalau kedua orang tuaku tak pernah tidur dalam satu kamar. Apalagi mama, saat umurku tiga tahun aku tak pernah melihat kedua orang tuaku bersama-sama baik itu dalam kegiatan apapun di rumah. Bahkan sarapan, makan siang ataupun makan malam aku tak pernah mendapati mereka bersama.
Sejak kecil aku selalu bersama kakakku, kemana-mana aku selalu mengikuti kemanapun kakakku pergi. Bahkan saat kakakku masuk sekolah taman kanak-kanak akupun menangis histeris ditinggal ke sekolah. Dam terpaksa bibi Ani atau pelayan yang sudah lama bekerja di rumah kami mengizinkan. Selama kedua orang tuaku tak di rumah bi Ani lah yang diberi kepercayaan untuk keputusan apapun di rumah.
Akhirnya aku mengikuti kakakku kemanapun kakinya melangkah, aku ikut ke kelasnya. Saat aku menangis histeris di tempat bermain anak-anak semacam penitipan anak untuk usia batita aku merengek untuk ikut kakakku ke kelasnya. Guru membujukku untuk tak ikut ke kelas karena aku mengganggu kakakku belajar.
Aku memang selalu mengajak bicara kakakku bicara di kelas saat guru menerangkan pelajaran hingga akhirnya guru membujukku untuk ditempatkan di kelas sebelah tempat penitipan anak khusus batita. Tapi aku terus merengek memegangi kakakku. Hingga seorang wanita yang juga guru di sekolah itu membujukku. Entah kenapa aku langsung menurut padanya.
Tutur katanya yang lembut keibuan membuatku terpesona dan luluh dengan bujukannya. Senyumnya sangat tulus membuat diriku yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu membuatku mempercayai dan langsung mengagumi wanita itu. Namanya bu Karina semua memanggilnya bu Karin, aku pun ikut memanggilnya bu guru Karin.
Dia benar-benar baik, memberi kami perhatikan meski banyak anak-anak yang lain di tempat penitipan itu. Aku pun mengikuti kemanapun langkah bu Karin, hingga waktu pulang sekolah, sopir menjemput kami untuk pulang. Aku sontak memegang erat kaki bu Karin agar diizinkan tetap bersamanya, bagaimanapun aku sudah nyaman bersamanya. Bahkan aku juga tak merindukan papa karena menginginkan tetap bersama bu guru Karin.
Hingga aku berumur kurang lebih tujuh tahun, papa membawa kami ke rumah baru yang katanya tempat tinggal baru papa. Dan disitulah aku bertemu kembali dengan bu guru Karin yang sedang menggendong adik bayi, bukan hanya satu tapi dua adik bayi. Dan lucu sekali adik-adik bayi itu.
Setelah beberapa hari, papa pulang yang mengatakan kalau adik-adik bayi itu adalah adikku. Tentu saja aku senang sekali, punya adik bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Namun tidak dengan kakakku, kakakku membenci bu guru Karin hingga berteriak di depan papa.
Dan papa marah-marah pada kakak. Bagiku aku yang anak kecil ini belum bisa mengerti apa yang terjadi dengan orang dewasa. Dan papa bilang lagi kalau bu guru Karin adalah mama kami sekarang. Dan semakin senang saja aku, apalagi aku tak pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Mama Adelia entah pergi kemana. Orang dewasa bilang papa dan mama bercerai dan aku punya mama baru atau mama tiri ya bu guru Karin ini. Selama aku mengenalnya, bu guru Karin bukan mama tiri yang jahat seperti kata teman-teman sekolahku. Malah bu Karin sangat baik pada kami. Dia bahkan menyayangi kami sama rata seperti menyayangi adik-adik bayiku.
__ADS_1
Hingga setelah dewasa, mama tak pernah memaksakan pendidikan anak-anaknya. Dia memberi pilihan pada kami bebas untuk melanjutkan pendidikan kami yang menjadi keahlian kami. Sejak lulus sekolah menengah pertama aku suka sekali menggambar secara otodidak aku menyukai menggambar pakaian dan mendesainnya hingga sedemikian rupa.
Dan mama melihatnya. Dan sangat mengagumi gambarku yang katanya sangat bagus. Dan mama menyarankanku untuk kuliah bidang seni karena bakatku.
Akhirnya setelah lulus sekolah menengah atas aku meneruskan kuliah di universitas negeri di kotaku yang mengambil jurusan kesenian.
Saat aku memasuki semester kedua aku bertemu dengan seseorang yang membuatku berdebar. Dia membantuku saat gambar-gambar desainku terjatuh berantakan ditabrak seseorang yang tidak bertanggung jawab.
"Wah, bagus sekali gambarnya?" pujinya saat melihat satu gambar terakhirku.
"Terima kasih." jawabku merasa bangga karena gambarku dipuji.
"Kau anak seni ya?" tanyanya.
"Kenalin, aku Aksa anak bisnis manajemen." katanya memperkenalkan diri.
"Putri." jawabku.
Mungkin aku memang belum pernah pacaran ataupun punya teman laki-laki. Sehingga aku biasa saja saat laki-laki bernama Aksa itu memperkenalkan diri. Fokusku sekarang adalah kuliah dan lulus.
Saat semester empat, mama menawariku membuka butik dengan bantuan modal darinya. Karena mendengar gambarku menang juara satu lomba desain. Aku pun mengiyakan tawaran mama dan setelah setengah bulan berikutnya, butikku ramai dan mendapat orderan yang lumayan banyak di kalangan artis dan pengusaha.
__ADS_1
Dan Aksa entah kenapa sering nyamperin aku setelah dia memuji gambarku saat itu. Di saat waktu luang dia selalu nyamperin aku meski tak pernah kugubris awal-awalnya karena kupikir semua pria sama, munafik. Mereka pasti menginginkan karena tahu aku siapa. Namun berbeda dengan Aksa, dia benar-benar mengagumi gambarku.
Bahkan dia juga memberikan masukan kritik dan saran tentang gambarku yang menurutnya belum sempurna. Akupun mengiyakan karena berdasarkan sarannya gambarku terlihat lebih sempurna. Hingga kami menjadi akrab layaknya teman dan yang kutahu dia juga berteman akrab dengan seorang pria blesteran Belanda bernama Theo.
Aku pun juga mengenalnya karena perusahaan orang tuanya bekerja sama dengan perusahaan papaku. Tapi aku lebih suka akrab dengan Aksa daripada Theo. Dia terlihat dingin seperti es. Tak pernah sekalipun tersenyum manis kepada siapapun. Hanya kulihat senyumnya sekali pada Aksa sahabatnya.
Untuk masalah kakakku di rumah aku berusaha cuek meski juga merasa kasihan. Aku hanya bisa mendukungnya dan memberi semangat untuk bertahan demi anak yang dikandungnya karena hamil sedang tidak bersama suaminya atau kakak iparku. Yang katanya hilang entah kemana.
Saat ada lomba desain di Paris, aku mengatakan niatku untuk mengikutinya pada mama. Dan mama mengizinkan meski keadaan di rumah tidak sedang baik-baik saja. Baik tentang kakakku Angel atau tentang adikku si kembar Vio.
Yang tiba-tiba dilamar oleh teman baikku sekolah menengah atas dulu dan yang lebih herannya lagi calon suami Vio adalah mantan kekasihnya kak Angel. Pasti pusing memikirkannya. Itulah sebabnya aku belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun karena menurutku ribet mengurusnya.
Aku masih konsentrasi pada karir dan cita-citaku sebagai desainer. Dan mama sangat mendukungku. Apalagi hadiah lomba desain di Paris nanti berkesempatan bisa mendapatkan sponsor untuk pembukaan butik disana. Tentu saja aku semangat untuk menang.
Dengan upahku mengelola butikku, aku punya sedikit tabungan yang cukup banyak untuk membuka butik di Paris dengan modal sendiri dan tentu saja mama menawari modal juga. Namun aku menolak karena uangku lebih dari cukup. Sehingga mama menyarankan saja jangan sungkan untuk minta bantuan padanya.
Hingga menunggu kurang dari satu bulan, pengumuman pemenang lomba desain diumumkan dan aku memenangkan pada juara dua. Dan tentunya aku sangat senang dan bangga meski hanya nomer dua.
Namun niatku untuk membuka butik disana tetap kulakukan. Dan di tengah-tengah peliknya masalah keluargaku, aku pun nekat berangkat ke Paris menjemput impianku.
.
__ADS_1
.
Maafkan typo 🙏🙏