
Angel masih setia berdiri di depan jendela kamarnya. Memandang keluar jendela, menatap kosong di depannya. Tubuhnya yang semakin kurus tak diindahkannya nasehat Karina untuk makan dan tidur dengan benar. Kehilangan suami tercintanya merupakan pukulan telak baginya, seolah merasa semua itu adalah kesalahannya.
"Sayang, makanlah dulu!" pinta Karina berusaha membujuk putrinya untuk makan, karena setelah lebih dari sebulan tiba di rumahnya dari pulau B membuat Angel tak teratur makannya.
Meski sudah sering dirinya membujuknya. Melihat tubuh putrinya yang semakin kurus membuat Karina merasa kasihan dan merasa bersalah. Tak jarang Angel sering diinfus karena tubuh lemas tak bertenaga untuk mendapat asupan gizi yang tak didapatnya dari makanan yang di makannya.
"Duduklah nak, biar mama suapi!" pinta Karina membujuk Angel makan, Angel menurut meski harus didudukkan dengan bantuan Karina.
Karina mengambil mangkuk bubur untuk disiapkan. Tapi Angel tiba-tiba menutup mulutnya berlari menuju kamar mandi.
Hoek... Hoek...
Angel memuntahkan isi perutnya, diikuti Karina dengan memijat tengkuk putrinya.
"Sayang, kau tak apa." ucap Karina cemas.
"Hoek... Hoek... " muntah Angel yang hanya keluar cairan karena tak ada makanan yang masuk. Angel mengusap mulutnya dan langsung pingsan.
"Angel..." teriak Karina panik, segera minta tolong pelayan yang tadi membawakan nampan makanan itu.
Karina bergerak gelisah mondar-mandir kesana-kemari di dekat ranjang putrinya, menunggu dokter tiba setelah dihubungi pelayannya.
"Nyonya..." ucap dokter itu yang sudah menjadi langganan dokter keluarganya.
"Dokter, tolong periksa putriku." ucap Karina memohon.
"Sebentar nyonya." jawab dokter itu mendekati tubuh Angel memeriksa dengan teliti. Hingga berulang kali dokter memeriksa kembali seperti memastikan sesuatu.
"Bagaimana dok? Apa sakit putriku? Apa begitu parah?" desak Karina penasaran.
"Saya belum begitu yakin, tapi bisa dipastikan kalau putri anda sedang hamil." jelas dokter itu tersenyum ramah.
"Apa? Hamil? Putriku hamil?" wajah antusias Karina berubah-ubah antara dia harus senang atau sedih.
Senang karena putrinya hamil dan itu dia akan jadi nenek, sedih karena menantunya masih dalam pencarian tak bisa mendampingi istrinya padahal kini sedang hamil.
"Iya nyonya, selamat. Nyonya bisa memeriksakannya ke dokter ahli untuk mengetahui kondisi kehamilannya." jelas dokter itu yang diangguki Karina tak bisa berkata-kata, dia bingung bagaimana menyampaikan kabar ini pada putrinya yang bahkan belum bicara sama sekali sejak kehilangan suaminya.
**
Dion mendekap tubuh istrinya dari belakang, melingkarkan lengannya di perut istrinya yang mulai terlihat membuncit.
__ADS_1
"Mas..." lirih Vio yang merasa geli mendapat perlakuan mesra Dion.
Selain mendekap tubuh istrinya, bibir Dion tidak berdiam diri, menyusuri tengkuk istrinya, meninggalkan jejak yang tidak sedikit.
"Aku ingin lagi." bisik Dion sambil mengulum telinga istrinya.
"Aku harus memasak... ahh..." ucap Vio tanpa sadar desahan keluar dari bibirnya.
"Aku ingin makan kamu." bisik Dion lagi.
"Mas..." Vio melepaskan pelukan suaminya dan berbalik menghadap suaminya.
Bibir mereka bertautan mesra, tak hanya mencium, Dion mengu**lum, menghi**sap dan melu**mat, bibir istrinya lembut. Vio membalasnya dengan lembut pula. Vio melepas ciuman itu karena dirasa sudah kehabisan nafas.
"Kita harus sarapan mas, aku lapar." elak Vio beralasan karena tahu suaminya tak akan berhenti disitu saja.
"Baiklah." jawab Dion mengalah.
Ya, setelah mendapat persetujuan dari Derian mereka akhirnya mengesahkan pernikahan mereka secara hukum. Meski tak ada resepsi untuk keduanya, karena kondisi keluarga mereka yang sedang tidak baik-baik saja. Hal itu tak membuat keduanya kecewa.
Mereka sudah senang dan bahagia karena pernikahan mereka sudah sah secara agama dan negara. Dan Dion semakin gencar saja melakukan serangannya pada istrinya. Meski Vio tak pernah menolak. Tapi Vio sedikit membatasinya karena dirinya sedang hamil.
Dan suaminya bisa mengerti dengan semua itu meski sedikit terpaksa. Dion terpaksa menyetujui saran dokter untuk tidak berlebihan berhubungan intim dengan istrinya karena sedang hamil. Tapi keluarganya belum semuanya tahu jika dirinya hamil selain Putri dan Derian.
"Halo."
"..."
"Ya, ma."
"..."
"Memang ada apa ma?" tanya Vio mulai cemas mendengar suara panik Karina.
"..."
"Ya, ma. Kami akan segera kesana." jawab Vio panik segera menutup ponselnya.
"Ada apa sayang? Siapa yang telpon?" tanya Dion yang sudah selesai sarapan hendak berangkat ke kantor.
Melihat wajah panik dan cemas istrinya, dirinya pun ikut panik takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Mama mas, kak Angel mengamuk dan histeris. Dan papa sedang perjalanan bisnis.K Kita disuruh mama menemani mama untuk menenangkan kak Angel, tak ada yang berani mendekati Kakak. Semua orang ditolak kakak termasuk mama." jelas Vio sambil sesenggukan menangis karena suara Karina tadi ditelpon terdengar putus asa dan menangis juga.
"Ok. Kita harus segera kesana." ucap Dion menggandeng tangan istrinya untuk ke basemen apartemen menuju mobil mereka.
Vio setengah berlari masuk ke dalam rumahnya, meski masih dituntun Dion. Teguran Dion untuk hati-hati dan tidak tergesa-gesa tampaknya tak dihiraukannya. Vio mencemaskan mamanya yang katanya sedikit terluka karena lemparan barang-barang di kamar kakaknya.
"Sayang, hati-hati. Jangan berlari!" seru Dion tak suka.
"Aku ingin segera menemui mama mas." jawab Vio dengan raut wajah panik.
Setelah Dion memarkirkan mobil dan mematikan mobilnya. Vio tak sabaran untuk membuka pintu mobil dan setengah berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Non Vio." sapa salah satu pelayan yang melihat putri majikannya itu berlari kecil dengan wajah panik dan cemas.
"Dimana mama? Apa yang terjadi pada mama?" tanya Vio pada pelayan itu memberondong pertanyaan dengan tidak sabaran.
"Nyonya ada di kamarnya nona, sedang diobati." jawab pelayan itu ikut gugup dan panik.
"Apa?" Vio segera pergi ke kamar Karina dengan sedikit tergesa-gesa tanpa menunggu jawaban pelayan itu lagi.
"Sayang, hati-hati!" seru Dion yang masih tak dihiraukan teguran suaminya.
Vio tetap berlari kecil menaiki tangga, spontan membuat Dion membopong tubuh istrinya menghentikan larian kecil istrinya.
"Kyaa..." teriak Vio yang terkejut karena gendongan suaminya pada dirinya yang tiba-tiba.
"Begitu sulitnyakah mendengarkan ucapan suamimu ini?" bentak Dion membuat nyali Vio seketika menciut.
Kecemasan dan kepanikannya tadi seketika ikut menghilang karena bentakan suaminya.
"Maaf." jawab Vio lirih melingkarkan lengannya ke leher suaminya.
Menyembunyikan wajah takut merasa bersalahnya ke ceruk leher suaminya. Dion menghela nafas panjang, menyesal telah membentak istrinya.
"Maaf..." bisik Dion lirih, membopong tubuh istrinya menuju kamar mama mertuanya Karina. Vio tersenyum di ceruk leher suaminya.
TBC
Maafkan typo
.
__ADS_1
.
.