
Karina tiba-tiba berdiri dari duduknya, Putri terkejut dengan reaksi spontan mamanya. Dan kebetulan juga dengan bersamaan dengan acara sinetron yang ditonton Putri seorang ibu yang juga berdiri hendak membuka pintu yang diketuk. Karina meraih ponselnya yang diletakkan di meja itu, mencari nomer seseorang.
"..."
"Halo..."
"..."
"Mas Reno?"
"..."
"Apa Dion ada di rumah sekarang?" tanya Karina ragu, dia berharap apa yang dipikirkannya tidak benar.
"..."
"Aku ingin tanya sesuatu padanya."
"..."
"Aku tak punya nomernya."
"..."
"Sebenarnya Angel sampai sekarang belum pulang ke rumah sejak pagi tadi, katanya menginap di rumah, tapi entah kenapa perasaanku nggak enak ya? Dan mungkin Dion tau sesuatu mungkin?" jelas Karina tentang kekhawatirannya, dia tak tahu harus bertanya pada siapa lagi, tak mungkin dia menghubungi suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Yang ada suaminya akan malah murka. Meskipun nanti juga akan murka, lebih baik murka saat suaminya berada di rumah.
"..."
"Setahuku Angel tak pernah punya teman akrab sampai menginap ke rumahnya dan aku ingat putriku pernah menginap di rumahmu dengan Dion?"
Di seberang tak terdengar suara seperti sedang berpikir.
"..."
"Baiklah. Terima kasih mas." jawab Karina menutup ponselnya agak sedikit lega setelah bicara dengan Reno.
__ADS_1
Reno menggeram kesal saat mendengar alasan Karina menghubunginya, awalnya dia sangat senang saat nomer yang masih sama yang masih disimpannya, yang kini mungkin tak pernah menghubunginya sama sekali. Dia sungguh murka mendengar kenekatan Dion.
Reno segera menghubungi ponsel Dion, memang selalu sibuk dan selalu di luar jangkauan. Tapi Reno tak menyerah, setelah Dion dengan nekat mengajak Angel menginap di rumahnya saat itu, Reno sudah mengantisipasi dengan memasang berbagi lokasi pelacak keberadaan Dion dan dirinya.
Kini Reno segera mencari tahu keberadaan Dion melalui aplikasi itu, meski sulit Reno bisa melihat ada sedikit jejak ponsel Dion berada lokasi sekitar kawasan wisata Bukit Seduri. Reno segera berlari mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya demi pergi ke lokasi yang ditunjuk ponsel itu.
Sudah pukul delapan malam, Reno berada di jalanan menyetir mobilnya sendiri menuju tempat wisata itu. Dengan tidak lupa untuk berhati-hati Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan cepat, karena menurut yang dicarinya lokasi ponsel Dion berada di sekitar penginapan.
Dan semoga Reno tak terlambat untuk sampai disana. Reno menghela nafas berat berusaha mengendalikan emosinya. Reno mungkin orang yang emosian, tapi dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mengamuk.
Hampir satu jam lebih dia tiba di penginapan yang ditunjuk oleh lokasi ponsel itu. Reno segera menuju resepsionis.
"Apa aku boleh tahu kamar Dion ada dimana?" tanya Reno yang dibalas dengan tatapan mencurigakan.
"Maaf tuan, saya tidak bisa membocorkan privasi tamu." jawab petugas laki-laki itu. Reno menggeram.
"Dia putraku, ada kemungkinan dia menginap dengan kekasihnya yang belum resmi menjadi istrinya, kau mau aku melaporkan penginapan ini karena menyewakan kamar pada pasangan yang belum sah sebagai suami istri?" ancam Reno dengan kemarahan yang besar. Membuat petugas itu menciut.
"Baik... baiklah tuan?" pintanya mencoba mencari tahu di komputernya.
Saat sampai di depan pintu kamar 201 Reno menghela nafas mencoba menenangkan dirinya untuk tidak terbawa emosi jika sampai melihat kejadian yang sedang mungkin terjadi di kamar. Belboy itu membuka pintu itu, namun tidak terbuka.
Belboy itu menjelaskan mungkin kunci pintu manual dalam kamar dipakai. Reno mengeluarkan ponselnya, meski agak sedikit sulit dirinya menghubungi ponsel Dion, Reno terus mencobanya , hingga deringan ponsel kelima diangkatnya.
Dan sekarang Reno duduk di sofa dekat ranjang penginapan itu dengan Angel yang sudah berpakaian lengkap meski agak kusut dan Reno tahu apa yang terjadi. Dan Dion yang masih mengenakan bath robe penginapan itu, Reno tak mengizinkan Dion untuk berganti baju.
Mereka duduk bersisian di sofa seberang meja di depan Reno duduk menunduk tak berani menatap wajah Reno merasa bersalah. Reno tanpa sengaja melihat hal yang tidak berharap untuk dilihatnya.
Ya, tanda merah yang tidak sedikit di leher Angel yang membuatnya berpikir hal yang tidak mungkin salah kalau Dion lah pelakunya. Reno semakin menggeram mengepalkan jemari tangannya menahan emosi.
Tapi, dia tak mungkin berteriak di sini di depan Angel yang diketahui mempunyai sedikit traumatik pada bentakan dan teriakan seseorang walaupun tidak ditujukan langsung padanya.
"Ganti bajumu Dion!" perintah Reno yang mengurungkan niatnya untuk melanjutkan percakapan mereka disini.
Akan lebih baik jika pembicaraan itu dilakukan oleh kedua pihak keluarga Angel juga. Dion segera masuk ke dalam kamar mandi dengan semua bajunya tadi. Setelah sepuluh menit berlalu, Dion kembali duduk di sofa.
"Kunci motor!" ucap Reno dengan tangan menengadah menunggu uluran tangan Dion menyerahkan kunci motornya.
__ADS_1
"Bawa pulang pak!" perintahnya pada salah seorang karyawan perusahaan terpercayanya.
"Baik tuan." jawabnya menunduk dan pergi dari kamar itu.
Setelah tinggal mereka bertiga.
"Dion..." ucap Reno.
"Ya pa."
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Dion terdiam menunduk tak menjawab karena sudah tahu kesalahan fatal yang dilakukannya.
"Dan kau tahu apa akibatnya?" geram Reno.
"Kami belum melakukan apapun, keburu papa datang..."
"Keburu papa tak datang? Jadi kalau papa tidak datang. Apa kalian akan melakukan apa-apa?" teriak Reno emosi. Angel tersentak mendengar teriakan Reno, langsung bisa dikendalikannya. Dion diam tak menjawab lagi.
"Tapi sungguh pa, belum sampai sejauh itu." mohon Dion memelas.
"Kita pulang, kita antarkan Angel pulang dan katakan semua dengan sejujurnya, SEMUA." ucap Reno tegas berdiri meninggalkan kamar itu diikuti Dion yang menggandeng jemari tangan Angel seolah enggan untuk melepaskannya.
Reno melirik tautan jemari mereka yang tampak begitu mesra dan diapun tersenyum miris meratapi dirinya yang sendiri.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1