
Derian membantu Karina turun dari mobil yang membawa pulang ke rumahnya. Dengan hati-hati Karina turun dengan menggendong si bungsu sedang putri sulungnya digendong bu Siti dengan dibantu orang suruhannya.
Derian menuntun Karina untuk masuk ke dalam rumah yang sudah dibersihkan oleh beberapa orang yang dibayar Derian.
Karina meletakkan bayinya dalam box bayi sepasang yang sudah disiapkan sebelum dirinya melahirkan.
Karina kembali ke kamarnya membereskan barang-barangnya yang dibawanya dari klinik.
Derian memeluk Karina dari belakang menyerukkan wajahnya di tengkuknya. Mengecupi seluruh leher Karina, meninggalkan jejak di sana. Karina yang sudah lama tak mendapatkan sentuhan dari Derian, ikut terbuai dalam setiap sentuhan lembutnya.
Karina membalikkan tubuhnya menghadap Derian mengalungkan lengannya di leher Derian. Mereka berciuman mesra, menikmati setiap sentuhan yang telah lama tak saling mereka dapatkan. Tak lama tubuh mereka sama-sama tak memakai sehelai benangpun.
Berisik di luar kamar Karina tak menyurutkan semangat mereka untuk mencari kepuasan masing-masing terhadap sentuhan-sentuhan keduanya. Percintaan panas di siang hari membuat keduanya terbuai untuk terus terus dan terus mereguk kenikmatan.
Pergulatan panas, liar dan sedikit hati-hati mengingat luka perut Karina yang bekas operasi cesar yang belum sembuh benar. Derian bermain di dada Karina agak lama, mengecupi areola di dada Karina yang sudah mengeras. Derian mengulumnya seperti bayi menyusu, dirasakan sedikit 'asin' karena air susu.
"Ini hanya milikku."bisik Derian lirih menindih tubuh Karina dengan masih menumpu di kedua lututnya dan juga meninggalkan jejak di seluruh dada Karina untuk mencegahnya menyusui kedua bayinya secara langsung. Karena tersenyum mendengar keposesifan Derian.
"Walau dengan anak-anakku, aku tak mau berbagi."tegasnya posesif.
Derian tergeletak lemas di ranjang kamar Karina setelah keduanya sama-sama mencapai kepuasan klimaks masing-masing. Kepuasan yang Derian rasakan membuatnya terlelap pulas yang tak didapatkan semenjak Karina pergi dari sisinya.
Karina meninggalkan Derian tertidur pulas di kamarnya dan menyelimutinya. Sementara dirinya membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan segera menghampiri kedua anaknya yang sudah menangis bergantian.
__ADS_1
Terlihat bu Siti kuwalahan karena keduanya sama-sama menangis bersamaan. Bu Siti yang tak mau mengganggu pasangan yang sedang meluapkan perasaan rindu mereka, mencoba mengatasinya sendiri, tapi entah karena dirinya sudah tua atau terlalu agresif bayinya, membuatnya sedikit kesulitan karena menangis bersamaan.
Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, Derian masih terlelap sejak percintaan panas mereka siang tadi. Alhasil rencananya untuk pergi ke kota terpaksa ditunda karena Karina pun tak mau mengganggu tidur suaminya yang terlihat sangat lelap dan pulas, seolah tak pernah tidur dalam kurun waktu lama.
"Bu, istirahatlah biar gantian aku yang menjaga mereka."tawar Karina melihat bu Siti terlihat kelelahan dan menguap beberapa kali.
"Baiklah, anak-anakmu sungguh sangat aktif, seolah keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat, hingga menangis pun bergantian." Karina tersenyum senang, hingga bu Siti dalam sekejap sudah tertidur pulas di dekat box bayi kedua anak Karina.
Derian membuka matanya tersentak, memandang sekeliling ruangan. Berusaha mengingat sesuatu, rasa ketakutan dan kecemasan dalam mimpinya membuatnya tersenyum senang. Percintaan tadi siang membuatnya tersenyum puas, bahwa Karina benar-benar ada disisinya.
Dirabanya di sebelah ranjang, Karina tak ada di sana. Diraihnya celana boxer Derian, dipakainya keluar kamar masih bertelanjang dada, mencari Karina yang mungkin ada di kamar kedua anaknya.
Derian berdiri menyandar di pintu kamar menatap Karina yang terkantuk-kantuk sambil menyusui bayi mereka melalui dot yang berisi ASI nya yang sudah dipompanya untuk stok.
Derian tersenyum puas dan senang meski awalnya membantahnya Karina benar-benar menurutinya untuk tidak menyusui anak-anaknya langsung. Derian mendekat, mendekap Karina perlahan agar tidak membangunkan bu Siti yang terlelap di tempat tidur kamar itu.
"Sayang... kau mengejutkanku?"bisik Karina lirih berharap tidak membangunkan anaknya yang hampir tertidur lagi.
"Aku merindukanmu... kau tak ada di sisiku di tempat tidur."ucap Derian ikut berbisik di telinga Karina yang membuat Karina kegelian.
Waktu menunjukkan tengah malam, Derian masih menempel di tubuh Karina yang masih sibuk menyusui kedua bayinya bergantian.
"Kapan kau selesai?"bisik Derian mulai tak sabar, sudah hampir dua jam Derian menempel pada Karina mesra, seakan tak rela Karina hanya memperhatikan anak-anaknya.
__ADS_1
"Tidurlah dulu kembali. Setelah anak-anak tidur aku akan kembali."bisik Karina menghibur.
"Apa masih lama?"
"Sebentar lagi, bersabarlah!"
Derian menghela nafas berat, sungguh tak terima dirinya dinomorduakan setelah anak-anaknya.
"Tunggu sebentar lagi, Ok?"ucap Karina mengecup bibir Derian sekilas yang malah dibalas dengan mesra oleh Derian, Karina segera mendorongnya agar tak membuat kegaduhan yang membuat bayinya terbangun lagi.
Derian berjalan kembali ke kamar, mencoba menunggu Karina meletakkan bayinya yang sudah mulai terlelap.
Karina masuk ke kamarnya setelah meletakkan anak-anaknya dan memastikan keduanya terlelap, dirinya menghampiri Derian yang mulai merajuk kesal karena terlalu lama dicuekinya sementara dirinya sedang mengurus kedua anaknya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukungnya 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.