
Pukul 7 malam, Derian sampai di apartemennya. Tersenyum penuh kebahagiaan, membayangkan Karina menyambutnya pulang. Setelah kemarin saling bercerita lebih dalam tentang keadaan masing-masing. Derian semakin mencintai Karina yang begitu perhatian dan menyayangi kedua putrinya.
Derian membuka pintu dengan kunci pintu apartemennya. Masuk perlahan membuka pintu, menatap sekeliling mencari keberadaan Karina. Tapi tak menemukannya di manapun.
Saat ditelpon tadi,Karina mengatakan akan pulang jam 5 sore tapi ini sudah jam 7 malam. Derian menatap jam dinding,jam tangan dan jam di ponselnya benar menunjukkan pukul 7 malam, tapi tak ada tanda-tanda Karina sudah pulang.
Kecemasan dan ketakutan membayanginya tapi segera Derian mengendalikannya mungkin masih di jalan atau mampir ke suatu tempat. Tapi,kenapa tak menghubungiku? Ah, mungkin batrei ponselnya habis, bukannya setelah pembicaraan kami kemarin Karina berjanji, tak akan pergi kemanapun jika aku tak mengusirnya.
Derian mencoba menghibur dirinya dan mengendalikan sedikit emosinya, mencoba percaya Karina tak akan kemana-mana, mungkin memang ada keperluan mendadak, mungkin tak sempat menghubunginya. Pasti akan dihubungi nanti, Derian masuk kamar mandi membersihkan tubuhnya mencoba menunggu kabar dari Karina.
Derian berendam menenangkan dirinya dan mencoba bersantai sejenak setelah seharian bekerja yang membuatnya sangat lelah, dia ingin mendekap tubuh Karina yang dirindukannya, mendekap Karina membuat lelah tubuhnya langsung menghilang.
Hampir setengah jam Derian berendam tak ada tanda-tanda Karina pulang atau ponselnya dihubungi Karina. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Pikiran tentang Karina yang kembali pada suaminya membuat Derian mulai frustasi dan membayangkan Karina dan dirinya berpisah, semakin membuat Derian cemas dan parno yang berlebihan. Dihembuskan nafasnya, menarik dan menghembuskan nafas berulang kali mencoba menghilangkan kecemasan dan ketakutannya.
Derian bergerak mondar-mandir di dalam kamar lalu keluar ke ruang tamu mungkin sebentar lagi pulang, Derian menatap pintu apartemennya yang tak kunjung terbuka berharap seseorang yang ditunggunya tiba-tiba muncul menampakkan batang hidungnya. Tapi hingga mendekati pukul 9 malam tak juga terbuka pintu itu. Kecemasan dan ketakutan kembali menghantui pikiran Derian, perasaan takut ditinggalkan Karina membuat dirinya mengepalkan tangan, mengeraskan rahangnya, wajahnya memerah karena marah dan emosinya semakin membludak ingin mengamuk saja.
Diraihnya ponselnya, pikiran untuk menghubungi ponsel Karina baru terpikir olehnya. Panggilan pertama tak kunjung diangkat sampai jawaban operator telpon mengatakan kalau nomer tidak menjawab panggilannya, Derian mencoba menghubunginya lagi menahan emosinya.
Panggilan ke dua ponsel diangkat.
"..."
"Sayang,kau dimana?Kemana saja?Kenapa kau tak menghubungiku?"teriak Derian memberondong Karina dengan banyak pertanyaan.
"..."
"Apa? Kenapa?Siapa yang sakit?Di rumah sakit mana?"
"..."
__ADS_1
"Halo,sayang...Karina.."seru Derian segera mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya berlarian menuju parkiran mobilnya berada.
Tak sampai setengah jam Derian tiba di ruang Karina dirawat masuk dengan tergesa dengan raut wajah kecemasan di wajahnya.
"Sayang,"sapa Karina tersenyum melihat Derian muncul dengan wajah yang sedikit kusut dan rambut acak-acakan serta raut muka penuh kecemasan yang mungkin mencemaskan dirinya tanpa kabar, sebenarnya Karina akan langsung pulang jika tak diinfus tapi mendengar alasan dirinya diinfus karena untuk menjaga janinnya agar stabil Karina terpaksa mengikuti saran dokter untuk menginap di rumah sakit.
Bagaimanapun anak adalah sesuatu hal yang sangat diinginkan Karina sejak dulu tapi sekarang Tuhan mengkaruniai dia dengan hamil sungguh membuatnya sangat bahagia dan ingin menjaganya sampai dilahirkan di dunia ini. Apalagi dirinya pernah keguguran, Karina tak mau kehilangan kesempatan lagi untuk mempunyai anak.
"Sayang,apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai dirawat?Apa yang sakit?Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?"seru Derian mulai marah, semua terjadi saat Karina di tempat Reno.
"Bukan seperti itu. Tanyakan satu persatu. Bagaimana aku menjawabnya jika kau menanyaiku seperti itu."jawab Karina balas memarahi Derian pura-pura merajuk. Derian langsung panik melihat Karina marah.
"Sayang, maaf...aku...aku tak bermaksud seperti itu,kau tau aku sangat mencemaskan dirimu kan?"panik Derian menangkup kedua pipi Karina menahannya agar menatapnya.
"Haha...hahaha..."Karina tertawa terbahak-bahak melihat reaksi ketakutan dan kecemasan Derian. Derian yang kebingungan melihat tertawa Karina ikut tersenyum melihat Karina tertawa lepas seperti tak ada beban. Derian menghela nafas lega,itu artinya Karina baik-baik saja.
"Sudah cukup tertawanya kau sengaja membuatku cemas?"ucap Derian mendekap tubuh Karina erat. Kecemasan, ketakutan, pikiran buruk yang sejak tadi menggelayuti dirinya kini menguar melihat Karina baik-baik saja dan tertawa senang.
"Sekarang katakan?Mana yang sakit?"tanya Derian lembut melepas dekapannya sambil membelai pipi Karina.
"Tak apa hanya darah rendah dan kelelahan," jawab Karina masih belum mengatakannya. Karina ingin memberikan kejutan saat di apartemen nanti.
"Benarkah?Hanya itu? Pantas saja wajahmu pucat sekali.Kau harus banyak istirahat,"kata Derian memeluk Karina lagi.
"Kau sudah makan? Pasti kau tak makan karena mencemaskanku?"kata Karina membuat Derian tersenyum, memang hanya Karina yang paling mengerti dirinya.
"Tidak.Aku ingin tidur sambil mendekapmu. Kau tau aku sangat merindukanmu."goda Derian dengan tangan yang mulai menjelajahi tubuh Karina.
"Sayang...kau tau aku sakit karena apa?"
__ADS_1
"Apa?"
"Karena tangan mesum ini yang membuatku kelelahan dan capek karena tak pernah istirahat untuk semalam saja."
"Tubuhku merindukanmu dan menginginkanmu."bisik Derian di dekat telinga Karina tersenyum menggoda dan tangan Derian segera ditahan Karina.
"Sekarang di rumah sakit. Jadi,biarkan aku hanya tidur untuk memelukmu saja?ya?"pinta Karina dengan puppy eyes nya. Derian menghela nafas terpaksa menghentikan aksinya.
"Baiklah!Aku hanya akan mendekapmu dalam tidurmu,"ucap Derian menyerah. Karina tersenyum mendekap tubuh Derian. Berbaring bersisian di ranjang dengan bantal tangan Derian.
**
Reno merenung di ruang kerja di rumahnya. Berpikir keras tentang kehamilan Karina. Reno memikirkan kemungkinan terburuk di pikirannya.
Apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang bisa kuajak bicara? batin Reno bergelut dengan pikirannya. Hingga dia tertidur di kursi ruang kerjanya karena kelelahan berpikir setelah berendam dalam bathtub nya tak membuat pikirannya tenang.
Irene yang berusaha mengajaknya bicara tak dihiraukannya. Bahkan ruang kerjanya dikunci dari dalam berharap Irene tak nekat untuk masuk menemuinya yang berujung mungkin diamuk Reno karena terlalu banyaknya yang dipikirkan Reno. Bahkan putranya yang mendekatinya tak digubrisnya seolah tak melihat anak itu sebagai anaknya. Hingga Irene berteriak emosi menuding Reno telah dirayu lagi oleh mantan istrinya Karina. Karena setelah pulang dari rumah sakit mengantar Karina yang kesakitan perutnya yang dikira datang bulan,Reno menjadi berubah.
TBC
Mohon dukungannya kakak
Beri like,rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.