
"Kau tak apa sayang? Badanmu panas sekali." ucap Karina panik menyentuh dahi Angel yang semakin panas sejak kemarin.
Suaminya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri sudah beberapa hari ini dan tampaknya tidak akan segera pulang. Karina sedang menunggu dokter keluarga yang sudah dihubungi sejam yang lalu.
Semalaman Karina menunggui Angel di kamarnya, berharap dengan mengompresnya akan sedikit menurunkan suhu tubuhnya tapi sampai pagi ini tak juga turun, Karina terpaksa menghubungi dokter keluarga, dokter Arina yang sudah memeriksa keluarga Karina sejak si kembar masih bayi.
"Dokter Arina sudah tiba nyonya?" kata bi Ani, Karina mengangguk dan segera meminta dokter Arina untuk memeriksa kondisi Angel.
Dokter Arina memeriksa dengan teliti tubuh Angel tanpa terlewatkan satu pun.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Karina saat dokter selesai memeriksa.
"Badannya panas, perutnya sedikit kram."jelas dokter.
"Kram? maksudnya dok?"tanya Karina belum mengerti.
"Perutnya kram karena stres sehingga suhu tubuhnya naik. Kurasa mungkin ada sesuatu yang membuat nona Angel stres." jelas dokter Arina membereskan peralatannya membuat Karina terkejut tak percaya.
"Stres? Banyak pikiran? Anak sekecil ini dok?" tanya Karina cemas tak percaya rasa sakit anaknya karena stres.
Apa yang dia lewatkan sampai putriku stres, kurangkah aku memberikan perhatian padanya? batin Karina merasa bersalah.
"Saya akan meresepkan obat untuk menurunkan demamnya, untuk sakit perutnya, kurasa nyonya bisa bicara dari hati ke hati pada putri anda, mungkin dengan sedikit bicara akan membuatnya kembali membaik." saran dokter Arina sambil menyerahkan resep obat pada Karina.
"Baik dok, terima kasih." ucap Karina masih diam belum bisa mencerna rasa kesakitan putrinya.
Angel memang sedikit tertutup, apalagi setelah dirinya meminta untuk tidur di kamar sendiri. Dia ingin punya privasi, begitulah kata suaminya saat Karina masih terbaring koma.
Mungkinkah karena perasaan bersalahnya saat aku koma karena menolongnya saat itu, sehingga dirinya menjadi pendiam dan tertutup? batin Karina, jiwanya bergejolak.
"Nyonya biar pak Danu yang menebus resepnya?" saran bi Ani yang membuat Karina tersadar dari lamunannya.
"Iya bi."jawab Karina tersenyum menyerahkan resep dari dokter tadi.
__ADS_1
Digantinya kompres handuk di dahi putrinya berharap dapat menurunkan suhu tubuhnya. Karina menatap Angel merasa bersalah.
"Maafkan mama nak, pasti kau sangat takut, saat mama tak ada di sisimu?" bisik Karina lirih membelai pipi Angel lembut.
"Ma..."bisik Angel lirih dengan nafas beratnya.
"Ya sayang."Karina mendekati Angel, mencoba mendengar apa yang diinginkan putrinya.
"Haus ma... minum..."bisik Angel lirih tapi masih bisa didengar Karina.
"Kau haus, mau minum, sebentar..." jawab Karina mengambil gelas berisi air di atas meja nakas samping ranjang Angel menyangga tubuhnya membantu Angel minum.
"Mana yang sakit sayang? Kau mau sesuatu? Makan dulu ya? Kau pasti lapar? Kau harus minum obat agar demammu segera turun." ucap Karina lembut tanpa sadar air mata menetes di pipi Karina merasa bersalah.
"Angel... gak lapar... ma..." ucap Angel terbata-bata.
"Nyonya, ini obatnya nona Angel!" kata pak Danu menyerahkan bungkusan dalam plastik yang berisi obat-obatan untuk Angel.
"Makasih pak." jawab Karina menerima obat itu.
"Angel gk selera ma..."jawab Angel menggeleng lemah.
"Tapi harus makan dulu sayang sebelum minum obat. Makan ya? sedikit saja?" pinta Karina memelas, Angel hanya menurut merasa tak enak hati dengan mamanya yang sudah memberikan perhatian padanya. Dan Angel merasa senang sekali dan tiba-tiba hatinya menghangat.
Karina menyuapi bubur yang dibuatnya tadi sedikit demi sedikit pada Angel. Angel tersenyum lemah meski dipaksakan.
"Sudah ma... Angel kenyang.." ucap Angel mendorong mangkuk bubur yang tinggal setengah itu.
"Baiklah. Kalau begitu diminum obatnya ya? biar lekas sembuh!" ucap Karina lembut sambil tersenyum getir.
Setelah meminum obat itu, Angel terlelap karena pengaruh obat. Karina menghela nafas panjang, merasa kasihan menatap Angel kesakitan dengan wajah pucatnya.
**
__ADS_1
"Nyonya, ada tamu di luar yang ingin menjenguk non Angel?" ucap bi Ani masuk ke kamar Angel yang melihat Karina masih dengan setia menyuapi Angel makan malam setelah bangun dari tidurnya beberapa jam lalu.
Badan Angel sudah tidak demam lagi, tapi sakit perut kramnya masih kadang terasa. Meski Angel bilang tak apa, Karina tau kalau Angel masih merasa kesakitan demi tidak membuat dirinya cemas. Karina merasa bersalah dengan ketegaran Angel.
"Siapa bi?" tanya Karina yang menghentikan sebentar suapannya, meletakkan mangkuk bubur itu ke meja.
"Katanya namanya den Dion nyonya." jawab bi Ani.
"ENGGAK. Suruh dia pergi bi, Angel nggak mau bertemu dengannya, Angel nggak mau bertemu ma? Usir dia ma..." teriak Angel ketakutan, Angel yang sudah mulai membaik mendadak merengek menangis memeluk Karina erat panik dan ketakutan. Karina yang terkejut hanya bisa balas memeluk Angel erat.
"Kalau kau tak mau bertemu dengannya ya sudah, biarkan dia pergi." hibur Karina menepuk punggung Angel yang masih menangis sesenggukan.
"Jangan boleh dia kesini ma? Usir dia jika mau masuk ma? Ya ma..." rengek Angel menatap Karina memohon.
"Iya iya tentu sayang, jangan khawatir, ada mama disini...." hibur Karina lagi kembali menepuk punggung Angel.
"Bi, tolong ya!"mohon Karina pada bi Ani, bi Ani yang terkejut dengan reaksi histeris Angel tersadar dan hanya mengangguk mengiyakan dan segera menuju ke tempat tamu itu berada.
"Maaf tuan dan aden, non Angel sedang tidak bisa bertemu dan sekarang dia sedang istirahat." ucap bi Ani mencoba menutupi kebencian nonanya pada tamunya ini seorang pria yang merupakan papa dari Dion yaitu Reno.
"Baiklah bi, kami lebih baik pamit, biarkan Angel istirahat, semoga cepat sembuh. Dan ini sekedar oleh-oleh untuk Angel." jawab Reno sambil menyerahkan parcel buah yang sudah terbungkus rapi, tak memaksa meski Dion tak suka, padahal dia ingin sekali bertemu Angel.
"Dia pasti menghindariku?" keluh Dion saat mereka dalam perjalanan pulang. Wajah Dion terlihat lesu, dia kembali tak bersemangat menatap keluar jendela mobil.
Reno menghela nafas panjang, entah kenapa ini bukan masalah sepele.
Mohon dukungannya 🙏🙏
Terima kasih yang sudah mendukung, terus dukung karya-karyaku
.
.
__ADS_1
.