
Bas terkejut mendengar dering ponsel yang tak biasanya. Seolah dirinya lupa jika ponsel itu miliknya. Ya, setelah perpisahan seminggu lalu dengan Vivi, Bas tak ada pilihan lain selain memaksa Vivi untuk bertukar ponsel dengannya, karena dia tak mau Vivi pergi menghindarinya lagi.
Tapi sampai sekarang gadis itu malah tak berniat untuk menghubunginya sama sekali. Bas mencoba menghibur diri mungkin dia sibuk. Dan Bas masih menunggu mungkin sebentar lagi dia akan menghubunginya.
Flashback on
"Apa jaminannya jika kau tak membohongiku lagi?" ucap Bas masih menahan Vivi yang hendak melepaskan diri darinya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak." jawab Vivi, Bas terlihat berpikir.
"Mana ponselmu?" ucap Bas dengan mengulurkan tangannya mengadah.
"Untuk apa?" tanya Vivi masih belum mengerti.
"Berikan!" paksa Bas, dia tak mau kecolongan lagi jika Vivi lari darinya lagi. Vivi terpaksa mengulurkan ponselnya dan diterima Bas dan langsung melepas cekalan lengannya.
"Mau apa kau?" tanya Vivi saat Bas mengutak-atik ponselnya hendak merebutnya tapi Bas langsung menjauhkan dari Vivi.
"Ini." Bas menyerahkan ponsel miliknya. Vivi menatap heran.
"Apa ini?" seru Vivi tak terima.
"Kita bertukar ponsel, tentunya kau tahu nomer ponselmu kan?" ucap Bas tersenyum seringai.
"Bas, hentikan omong kosongmu!" seru Vivi tak suka.
"Terserah. Dengan begini kau tak mungkin ingkar janji kan?" ucap Bas tersenyum devil.
"Ponselku penting, bagaimana jika ada telpon penting untukku?"
"Aku bisa alihkan langsung ke nomer ponselku begitu juga sebaliknya. Dan kau pasti ingat aplikasi kita hanya kita yang bisa menghack nya." ucap Bas meninggalkan Vivi yang protes tak terima.
"Oh ya, jika kau tak angkat panggilanku, aku akan menghubungi semua kontakmu yang ada di ponselmu untuk bertanya dimana kau tinggal, kurasa mungkin ada sebagian yang tahu dimana kau tinggal saat kau tak datang padaku." ucap Bas pergi sambil menggoyangkan ponsel Vivi.
__ADS_1
"I..itu... ah, sial."
"Vio, come on, what's happened?" seru pria bule tadi yang masih dengan sabar menunggu di seberang jalan.
Vivi terpaksa pergi menuju pria yang memanggilnya itu dan menelan kekesalannya. Dia memang berniat tak mau menemui Bas lagi jika tadi berpisah dari Bas, dia berniat lari dan bersembunyi dari pria yang sudah memporak-porandakan hatinya.
Flashback off
Tertera 'mama' pada ponsel Vivi, yang mungkin saja itu adalah mama Vivi. Bas ingin mengalihkan panggilan itu pada ponselnya sesuai janjinya. Tapi, dia penasaran apa yang ingin dengan panggilan itu.
Percakapan ponsel
"Halo.." jawab Bas ragu.
"Halo, benar ini ponsel Vio?" jawab mama Vivi.
Vio?entah kenapa sejak beberapa waktu lalu semua memanggil nama Vivi sebagai Vio apa aku yang memang tidak tahu apapun disini? "Betul, ponselnya tertinggal di apartemen saya, setelah mengerjakan tugas kantor." jawab Bas serba salah.
"Oh, begitu ya, tolong sampaikan pada putrinya untuk menghubungiku jika dia sudah terima ponselnya." jawab mama Vivi penuh harap.
Bas hendak menutup panggilan itu tapi suara di seberang menghentikannya.
"Oh ya nak, apa kau kekasih putriku?" tanya mama Vivi ragu-ragu.
"Aku... aku sahabatnya, kami sama-sama berhasil merilis proyek kami bersama." jawab Bas gugup.
"Oh, begitu ya, Kukira kau orang yang istimewa yang selalu diceritakannya." jawab mama Vivi yang terdengar kecewa.
"Orang yang istimewa?" jawab Bas balik bertanya.
"Ah, sudahlah, jika kau sahabatnya, tolong bujuk dia untuk pulang, sudah lima tahun dia tak pulang ke rumah. Kami sangat merindukannya. Apalagi kakaknya akan menikah dua minggu lagi." curhat mama Vivi.
"Aku akan mencoba membujuknya." jawab Bas.
__ADS_1
"Terima kasih nak."
"Iya... Tante." jawab Bas seraya menutup ponsel Vivi. Menatap lekat ponsel itu.
Entah kenapa aku merasa familiar dengan suara itu.
Entah kenapa senyum seringai muncul di bibir Bas setelah menerima panggilan itu.
Bas mencoba menekan nomor ponselnya yang sudah hapal di luar kepala, saat mengetahui nomer ponselnya muncul dengan nama tak begitu dipercaya, membuatnya sontak mengerjap.
Senyuman manis terukir di bibir indahnya. Segitu besarnya cinta yang kau pendam untukku? Terima kasih. batin Bas.
Suara deringan ponsel mengejutkan Vivi yang saat itu sedang membahas tentang pekerjaannya di ruang meeting. Untung saja meeting itu sudah berakhir, hanya tinggal dirinya dan Dave. Pria bule yang memanggil Vivi di seberang jalan saat dirinya dicegat Bas.
Pria itu adalah kakak sepupunya, yang dipercayakan oleh mamanya untuk mengawasinya. Dan tentu saja dia juga tahu bagaimana perasaan cintanya yang terlampau besar pada Bas, saat Dave tahu dirinya hamil anak Bas, Dave ingin sekali mengamuk menghajar Bas.
Tapi Vivi segera mencegahnya karena dialah yang bersalah yang telah menjebak Bas bukan Bas yang salah, bahkan cintanya selama dua tahun ini hanya bertepuk sebelah tangan. Ya, dia sudah mengangumi Bas dalam diamnya. Persahabatan mereka membuatnya urung untuk menyatakan perasaannya padanya. Karena dia pasti ditolak.
Setahunya selama menjadi sahabat dan teman Bas, Bas tak pernah terlihat pacaran atau dekat dengan seorang gadis manapun bahkan terkesan menghindar dari para gadis yang mendekatinya. Saat dirinya mencari tahu ternyata ada seseorang yang sudah lama singgah di hatinya dan dia terlihat sangat mencintai gadis itu.
Saat itu juga Vivi merasa bodoh mencintai Bas dalam diam. Dia berusaha mencari pacar meski pura-pura dan memamerkannya pada Bas berharap Bas cemburu atau sedikit melirik padanya. Tapi nyatanya pria itu tak memberikan respon apapun.
Vivi semakin frustasi dengan perasaannya, dia pun mulai sedikit demi sedikit menjauh, tapi Bas seolah tahu dan bertanya apa yang terjadi padanya. Hingga puncaknya malam itu Vivi tak bisa lagi menahan dirinya. Dia akan pergi setelah memberikan apa yang menurutnya berharga untuk orang yang berharga baginya juga.
Tapi, ternyata tidak semudah itu merayu Bas untuk tidur dengannya. Vivi sedikit bangga melihat Bas begitu menjaganya. Tapi tekad bulatnya tak menyurutkan niatnya untuk tidur dengan Bas.
Hingga Vivi memanfaatkan gosip yang menyebar tentang Bas yang mengatakan Bas tak bisa berhubungan intim dengan wanita karena suatu penyakit yaitu lemah syahwat. Itu terlihat karena Bas sama sekali tak berminat pada setiap gadis yang mendekatinya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏