Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 18


__ADS_3

"Terima kasih bi." ucap Bryan pada bi Ani, PRT rumah Derian yang menyajikan kopi untuknya.


Ya, pagi itu Bryan datang ke rumah besar Derian dengan alasan ingin menjemput Angel untuk berangkat ke kampus bersama. Angel sempat terkejut dengan kedatangan Bryan yang tiba-tiba datang, pagi-pagi sekali. Angel melotot tak senang mendapati Bryan ada di rumahnya dan ikut sarapan juga bersama seluruh keluarganya.


Sementara Derian basa-basi berbincang sebelum sarapan dimulai karena masih menunggu putrinya yang lain. Bryan hanya tersenyum senang dan menjawab dengan lugas setiap perkataan Derian.


Angel duduk di kursi makan tempat biasanya duduk dan Bryan juga duduk di kursi sebelahnya dekat Derian. Mau tak mau Angel menerimanya. Karina menatap Angel terlihat enggan dan tak suka melihat Bryan ada disana.


Sesampainya di kampus, Al melihat Angel turun dari mobil mewah Bryan. Seketika dada Al berdenyut nyeri, cemburu dan sakit hati. Al menatap keduanya saat Bryan membukakan pintu mobil untuk Angel.


Tapi, wajah Angel tampak memberengut tak suka. Namun, senyum Bryan tak pernah luntur di wajahnya meski tak diperlakukan baik oleh Angel. Bryan memang sengaja menunjukkan sikap manis pada 'calon tunangannya' hanya untuk memanas-manasi Al karena Al sedang mengintip mereka dari kejauhan.


Saat mobilnya menuju arah parkiran, Bryan melihat Al baru masuk melewati gerbang kampus. Bryan sengaja memarkirkan mobilnya ke tempat parkiran terdekat gerbang dengan sengaja ingin menunjukkan kalau dirinya bersama Angel.


"Kuharap hanya hari ini kakak datang ke rumah untuk menjemputku." ucap Angel setelah turun dari mobil.


"Aku tak bisa janji. Bukankah sudah kukatakan kemarin kalau aku tidak bisa langsung mundur begitu saja." jawab Bryan dengan senyum seringainya. Membuat Angel berdecak kesal.


"Kalau kakak tetap nekat datang, jangan harap aku akan ikut kakak." ucap Angel ketus.


"Sepertinya bukan aku yang harus kau cemaskan. Tatapan tajam kekasihmu bisa membuat tubuhku berlubang sepertinya..." ucap Bryan tenang dengan mengedikkan kedua bahunya tersenyum menang, Angel sontak berbalik mencari keberadaan Al yang ternyata menghampiri mereka.


Angel segera menjauhi Bryan dan menghampiri Al sebelum mereka bertemu muka. Angel takut terjadi hal yang tak diinginkan diantara mereka.


"Kak Al..." sapa Angel ragu.


Al tak menjawab menatap Bryan yang menjauh dengan seringaian liciknya. Al ganti menatap Angel lekat menatap Angel dingin dan tajam. Al segera menguasai dirinya untuk tidak marah pada Angel, mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Kak Al..." ucap Angel lagi takut-takut menyentuh lengan Al.


"Aku antar ke kelas." jawab Al tanpa membalas pegangan tangan Angel bahkan membuat seolah tangan itu lepas. Menolak pegangan tangan Angel secara tidak langsung.

__ADS_1


"Kak Al dengarkan penjelasanku dulu..." seru Angel.


"Jangan sekarang, atau aku tanpa sadar akan berteriak padamu." ucap Al sedikit kasar, dadanya sesak, nafasnya berat bergemuruh menahan emosi amarah cemburunya. Angel hanya bisa diam tak bicara lagi mengikuti langkah Al yang lebar, membuat Angel berlari kecil.


"Aku tunggu istirahat nanti untuk makan siang di tempat biasanya." ucap Angel setelah Al hendak berlalu ke kelasnya, tapi Al masih tetap diam dan dingin pada Angel. Membuat Angel merasa bersalah dan menyesal.


**


"Papa..." lirih Dion, sekarang dirinya dirawat di rumah sakit.


Setelah dinyatakan demam kemarin lusa, tubuh Dion semalaman semakin panas dan suhu tubuhnya semakin tinggi. Dion dilarikan ke rumah sakit dan positif demam berdarah. Kini sudah tak sadarkan diri selama 4 hari sejak opname di rumah sakit. Reno dengan setia menungguinya bergantian dengan bibi pengasuh Dion sekaligus PRT rumah mereka, kadang Reno terpaksa membawa pekerjaan kantornya ke rumah sakit.


"Kau sudah sadar sayang? Papa panggilkan dokter sebentar." seru Reno menyuruh bibi memanggil dokter.


"Haus pa...?" pinta Dion.


"Tentu. Ini minumlah!" jawab Reno membantu Dion minum air. Dengan selang infus di tangan kirinya dan selang pernafasan di hidungnya, Dion masih merasakan tubuhnya lemah dan sangat berat. Hanya minum seperti itu saja membuatnya membuat nafasnya menderu dan ngos-ngosan.


"Bagaimana keadaan putra saya dok?" tanya Reno setelah dokter selesai memeriksa.


"Sudah lebih baik, suhu tubuhnya sudah sedikit menurun meski belum normal. Transfusi darah terus kita lakukan. Sampai suhu tubuhnya normal seperti orang sehat kebanyakan. Istirahat yang cukup, minum obatnya tepat waktu." jelas dokter itu.


"Terima kasih dok." jawab Reno tersenyum lega.


"Papa... sudah berapa hari aku disini?" tanya Dion menatap Reno yang sudah mulai menyuapinya setelah dokter keluar dari ruang perawatannya.


"Kenapa? Istirahatlah yang cukup kalau kau mau sembuh!" hibur Reno.


"Aku seperti tertidur sangat lama." ucap Dion lagi. Reno menghela nafas.


Putranya ini memang sangat sulit untuk disuruh istirahat, entah apa yang dilakukannya di luar sana. Hingga dokterpun menyatakan bahwa dirinya kelelahan, baik lelah tubuhnya dan pikirannya.

__ADS_1


"Istirahatkan, tubuh dan pikiranmu! Jangan memaksakan untuk bertemu mereka jika hatimu benar-benar belum siap. Papa akan memberi mereka pengertian." jelas Reno masih sambil menyuapi putranya makan.


"Sebenarnya... ada seseorang yang kuminta untuk menemaniku menemui mereka. Tapi, dia tak bisa. Dan entah kenapa aku sedikit kecewa dan sakit hati." ucap Dion lemah menatap ke depan dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Angel?" ucap Reno. Dion membelalak lalu memejamkan matanya. Papanya selalu tahu apa yang terjadi padanya dan apa yang sedang dipikirkannya.


"Kupikir jika dengannya aku akan lebih berani." ucap Dion.


"Kau masih berharap padanya?" tanya Reno yang sengaja bertanya dan mencoba menjadi seorang teman untuk putranya.


"Aku tak bisa melupakannya pa? Apa beginikah cinta itu sebenarnya?" tanya Dion masih memejamkan mata.


"Jangan terlalu memaksakan seperti dulu. Kau tak mau kan jika dia jadi membencimu hingga menolakmu seperti dulu?" hibur Reno.


"Walau aku melihatnya bersama kekasihnya, hatiku menolak menjauh darinya pa, apa yang mesti kulakukan?" keluh Dion yang tak terasa air matanya menetes di pipinya. Dion segera menghapusnya malu dilihat papanya.


"Mereka baru kekasih bukan suami istri, kau masih punya kesempatan untuk menunjukkan perasaanmu yang sesungguhnya padanya. Tunjukkan itu! Ketulusan perasaanmu meski dirinya belum melihat sepenuhnya kesungguhan perasaanmu." hibur Reno.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


Abaikan typo


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2