
Semilir angin sepoi-sepoi, hawa pedesaan yang masih daerah pegunungan juga, membuat seorang wanita untuk tidak tertidur di dalam bus yang dinaikinya. Terlalu lelah dirinya melakukan perjalanan yang lumayan sangat jauh. Hampir kurang lebih 10 jam perjalanan dirinya menaiki bus itu untuk sampai di tempat tujuan.
Tujuan terakhir pemberhentian bus itu, masih kurang lebih 2 jam lagi. Bus dengan pemberhentian istirahat di dua tempat tadi dijadikannya tempat untuk melepas lelahnya duduk di kursi penumpang dengan perjalanan yang lumayan jauh dan panjang. Hingga dirinya juga sempat bangun tidur dalam perjalanan yang memang melelahkan dirinya.
Apalagi dengan keadaan perut hamilnya yang hampir memasuki usia 12 minggu.Untungnya dia sudah melakukan persiapan, baik persiapan untuk dirinya sendiri dan juga janin yang dikandungnya. Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada masa kehamilan mudanya.
"Mau kemana nak?"tanya seorang ibu setengah baya yang duduk di sampingnya, melihat wanita itu merasa sakit dan wajah kelelahan yang tidak baik-baik saja.
"Entahlah.."jawabnya acuh, masih merasakan punggungnya yang benar-benar kesakitan, mungkin karena terlalu lama duduk.
"Sepertinya kau kelelahan?"tanya ibu setengah baya itu lagi.
"Maaf... aku membuat anda tak nyaman?" ucapnya merasa tak enak hati dengan ibu setengah baya itu, pasalnya dirinya bergerak ke kanan ke kiri hingga beberapa kali menyenggol ibu itu demi mendapatkan posisi yang baik agar tidak mengalami kesakitan.
"Tidak. Sepertinya kau yang kurang nyaman dudukmu. Apa kau tak enak badan?"tanya ibu itu lagi merasa kasihan.
"Aku sedang hamil 2 bulan lebih, jadi... mungkin...?"jawab wanita itu ragu.
"Oh... usia segitu memang masa-masa dimana rasa sakit, ngidam dan morning sick yang... menyebalkan.."jawab ibu itu tersenyum ramah. Wanita itu balas tersenyum juga.
"Kau ingin berbaring mungkin?"tawar ibu itu hendak berdiri.
"Tidak perlu, tujuanku tinggal dua halte lagi."
"Kau tau tujuanmu kemana?Kau bilang tadi entahlah...?" tanya ibu itu. Wanita itu tak menjawab hanya tersenyum getir, memikirkan dirinya kemana setelah tempat perberhentiannya tiba.
Jujur, dia memang belum menentukan ingin kemana dan akan kemana. Semua tempat yang mungkin adalah tujuannya bukanlah tujuannya. Dirinya belum memikirkan akan kemana dan tinggal dimana. Karena dia memang tak punya tujuan.
Bahkan tempat sanak saudara pun tak ada yang menjadi tempat tujuannya. Bukan tak punya tapi dia bingung, apa yang akan dikatakannya nanti jika dia mendatangi sanak familinya atau sanak saudara. Dimana suamimu, dimana keluarga suamimu dan kenapa kamu sampai kesini.
Dia belum tau akan menjawab apa pada semua pertanyaan itu nanti. Mungkin lebih baik mencari tempat yang mungkin tidak ada orang yang tau atau tempat yang mungkin tidak banyak orang yang mengenalnya.
"Kalau kau tak punya tujuan? Maukah kau tinggal di rumahku sementara waktu?Aku sendirian, anak-anakku tinggal di kota, suamiku pun sudah meninggal dan sekarang aku hidup sendiri di rumah tempatku tinggal?" tawar ibu itu tersenyum ramah.
"Aku tak mau merepotkan anda?" tolak wanita itu halus.
__ADS_1
"Kupikir kalau kau tak punya tempat tujuan, kau bisa menginap semalam di tempatku? Bisa menjadi teman tidurku? Tapi aku tak bisa memaksamu, bagaimanapun juga kita baru saling kenal. Aku hanya kasihan melihat janin yang ada dalam perutmu, pasti kau sangat kesulitan..."ucap ibu itu memelas, menghela nafas panjang merasa kecewa karena kebaikannya ditolak.
Wanita itu hanya tersenyum merasa mengecewakan ibu itu.
Baginya bukan karena tak mempercayai orang yang baru dikenal, wanita itu memang tak mau merepotkan siapapun meski mengenal orang itu. Baginya akan lebih baik hidup sendiri tanpa ketergantungan orang lain dan jika terlalu ketergantungan pada orang lain, rasa sakit yang akan dirasakan nanti pasti akan lebih sakit nantinya.
***
Meeting yang terjadi lewat online apli**** z**m memakan waktu yang sangat lama, itupun hari itu belum bisa menyelesaikan masalah pembahasan proyek itu, dalam 2 hari ke depan para klien dari Sing*pur* akan datang ke kantornya untuk membahas kembali masalah itu dan sebelum itu terjadi.
Derian meminta Noah untuk menyelesaikannya, sedang dirinya menyelesaikan pekerjaan lewat notebook nya sambil menunggu putrinya yang masih dirawat di rumah sakit. Yang tak mau ditinggal sedetikpun dari sisinya.
Derian terpaksa menyelesaikan pekerjaannya di ruang perawatan putrinya. Bahkan dirinya benar-benar lupa untuk menghubungi Karina. Karena masalah bisnisnya dengan kliennya lebih mendesak, sedang Noah menyelesaikan pekerjaan di lapangan. Adelia tiba di rumah sakit siang itu, setelah dia menjemput Putri si bungsu dari sekolahnya. Derian menoleh ke arah pintu dibuka.
"Papa!"seru Putri menghambur memeluk Derian dibalas balik olehnya.
"Papa disini?"tanya Putri dengan polosnya duduk di pangkuan papanya. Adelia mendekati ranjang Angel meletakkan makanan yang dibawanya untuk Angel dan suaminya.
"Kakakmu tak mau ditinggal papa?Jadi terpaksa papa bekerja disini."jelas Derian tersenyum tanpa menatap Adelia.
"Kau butuh sesuatu sayang?"tanya Derian membelai pipi Angel dengan Putri yang tadi digendong masih dalam pangkuannya.
"Lapar pa?Mau disuapi papa."ucap Angel yang sudah duduk dengan dibantu Adelia.
"Papa sibuk sayang... biar mama yang suapi ya?"tawar Adelia ramah, pura-pura ramah.
"Angel mau disuapi papa, mumpung papa ada disini. Kan papa jarang sama kita?"ucap polos Angel, hingga membuat Derian terkejut dan tersentak mengingat sesuatu hal dilupakan dirinya saat ini. Karina, batin Derian.
"Sebentar ya sayang?"Derian pergi ke luar ruangan tempat perawatan putrinya, menurunkan Putri dari pangkuannya, mencoba menghubungi ponsel Karina tapi ponselnya tak aktif,sibuk atau diluar jangkauan yang operator ponsel itu katakan.
Derian mencoba lagi, terus dan berkali-kali, jawaban tetap sama. Operator yang menjawab ponsel Karina. Derian mulai cemas, ketakutan. Bagaimana mungkin dirinya tak menghubungi Karina sama sekali setelah mendengar putrinya kecelakaan.
Derian mondar-mandir di depan pintu ruang perawatan putrinya. Mencoba berpikir apa yang mesti dilakukan. Setelah putrinya selamat dari kritis, putrinya dirawat dan masalah pekerjaannya yang sedang gawat membuatnya melupakan Karina.
Derian mengumpat kesal dan menyesal, pikiran buruk terlintas di benaknya, apa dia marah karena aku tak memberinya kabar sama sekali lalu dia mematikan ponselnya. batin Derian tersenyum, jika benar begitu Derian merasa senang, itu artinya Karina memperhatikan dirinya. Derian menekan nomor sekretarisnya Noah dan panggilan pertama langsung diangkat.
__ADS_1
"..."
"Kau dimana sekarang?"seru Derian tak sabaran.
"..."
"Ah sial, bagaimana pesan yang kusampaikan lusa?"
"..."
"Pesan saat aku menyuruhmu untuk melihat Karina pagi-pagi sekali itu?"
"..."
"Shit... kenapa kau mengabaikan perintahku?"
"..."
"Seharusnya kau menyelesaikan apa yang kusuruh lebih dulu? Sekarang, ah tidak, nanti kalau kau sudah pulang dari sana, kau lihat Karina di apartemenku dan beritahu apa yang sedang terjadi padaku?Suruh dia mengaktifkan ponselnya!Dan katakan aku ingin menghubunginya... ah, pokoknya intinya itu. Jangan lupa kau melihatnya. Putriku masih belum bersedia kutinggalkan!" ucap Derian menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Noah dengan senyum yang terlukis di wajahnya.
Derian masuk kembali ke dalam ruangan putrinya dirawat masih dengan tersenyum - senyum sendiri.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1