Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 52


__ADS_3

"Are you okay?" tanya Bas setelah duduk di tepi ranjangnya. Vivi membuka selimutnya menampakkan wajahnya saja.


"Suruh dia pergi! Aku tak berniat menemuinya." ucap Vivi memiringkan tubuhnya membelakangi Bas.


"Kau perlu menyelesaikan masalahmu baik-baik." saran Bas.


"Kami sudah selesai." tegas Vivi.


"Kau yakin tak ingin menemuinya untuk putus dengannya baik-baik?"


"Ya."


"Baiklah, aku akan mengatakan padanya seperti itu." Bas beranjak dari tempatnya duduk.


"Apa menurutmu aku harus menemuinya untuk mengakhiri hubungan kami?" ucap Vivi membuat Bas menghentikan langkahnya.


"Ya, setidaknya meski kalian menginginkan hubungan kalian berakhir, kalian sebaiknya berpisah baik-baik. Kalau tidak, dia tetap tak akan menyerah untuk menemuimu." saran Bas.


"Katakan padanya, aku akan menemuinya besok sore bukan sekarang." ucap Vivi masih membelakangi Bas.


"Tentu."


Bas membuka pintu apartemennya, melihat Marco yang masih berdiri gelisah di depan pintu menunggunya.


"How? What did he say?(Bagaimana? Apa yang dikatakannya?)" tanya Marco penuh harap.


Bas menatap Marco, sebenarnya dia sangat kesal dengan pria ini, pria ini adalah playboy kelas kakap yang diketahuinya karena sering memergokinya berganti-ganti wanita dan bermesraan dengan tanpa malu di tempat umum.


Saat dikenalkan oleh Vivi, Bas sebenarnya ingin membongkar kebusukan pria ini. Tapi karena reaksi raut kebahagiaan dari Vivi, Bas jadi tak tega dan membiarkannya dulu asal sahabatnya tak disakiti. Maka dari itu saat pagi tadi sahabatnya itu mengetahui sendiri kebejatan pria ini, Bas tak kaget, hanya saja dia kasihan dengan sahabatnya itu.


Bas sangat tak tega melihat seorang gadis menangis apalagi dia sudah dianggap sahabatnya sendiri yang saling mengerti keadaan masing-masing. Sebenarnya keduanya dekat hanya karena keduanya sama-sama dari tanah air.


Dan saat Bas mengembangkan ide-idenya mereka semakin tambah akrab saja. Dan entah mulai kapan mereka saling menganggap sahabat.


"She will meet you tomorrow afternoon at the place where you usually meet. That's what she said(Dia akan menemuimu besok sore di tempat biasa kalian bertemu. Itu yang dikatakannya)." ucap Bas yang mendapat sorotan mata tajam dari Marco.


"You are lying. You must be making this up(Kau bohong. Kau pasti mengada-ada)." ucap Marco.

__ADS_1


"Whatever. What is clear today is he doesn't want to see you(Terserah. Yang jelas hari ini dia tak mau bertemu denganmu)." Bas kembali hendak masuk ke apartemennya.


"OK. I trust you. I'm waiting for tomorrow afternoon(Ok. Aku percaya padamu. Aku tunggu besok sore)." jawab Marco pergi meninggalkan apartemen itu.


**


Acara rilis proyek aplikasi yang dibuat Vivi dan Bas dimulai siang ini setelah makan siang. Acara yang sempat tertunda karena hal mendesak lain akan dilakukan siang ini.


Bas dan Vivi mengecek kembali proyek aplikasi mereka berharap hasilnya benar-benar memuaskan saat dipresentasikan nanti. Mereka sedang berkutat mengutak-atik komputer di ruang yang secara khusus yang diperuntukkan untuk mereka melakukan pekerjaan mereka.


"Sempurna." ucap Bas setelah mengetik enter pada keyboard komputernya. Vivi sontak menoleh menatap Bas.


"Kurang sedikit nih punyaku, coba kamu lihat deh, bagian mana yang salah ya?" ucap Vivi frustasi.


Pikiran kalutnya sedikit mempengaruhi kinerja otaknya. Perasaan sakit yang terkhianati membuatnya kerja otaknya sedikit melemah, mungkin terbagi dengan hancurnya hatinya. Vivi memang gadis yang kuat, tapi jika itu sudah berhubungan dengan hatinya dia juga akan lemah. Bas yang menyadari hal itu hanya menuruti apa kata Vivi dan menghampiri meja komputer Vivi.


"Coba aku lihat." ucap Bas dan Vivi segera menggeser duduknya dan Bas duduk di depan komputer.


Vivi hanya mengawasi dari sisi tempat duduk di sebelah Bas. Baa mulai memainkan jemarinya di atas keyboard komputer Vivi. Dan Vivi yang setengah malas memperhatikan dari samping. Dan tak lebih dari lima menit Bas mengetik enter.


"Yes. Sudah." Bas menoleh menatap Vivi di sebelahnya yang menatap komputer dengan pandangan mata kosong dan ogah-ogahan menatap apa yang sudah selesai dikerjakan Bas. Saat Bas menatapnya Vivi sontak mengalihkan pandangannya.


"Tentu..... semua berkat kamu, aku tak tahu apa yang terjadi denganku jika tak ada kamu." ucap Vivi lirih menyandarkan kepalanya di bahu Bas.


Bas hanya menghela nafas panjang, entah kenapa dadanya yang dulu pernah berdebar kini berdebar kembali karena tindakan Vivi. Padahal selama ini dia selalu biasa saja saat bersama dengannya.


"Kau gadis yang kuat, tanpaku pun kau bisa melaluinya dengan baik." jawab Bas menetralkan detak jantungnya.


Ponsel Bas berdering memecah keheningan diantara mereka.


"Halo..."


"..."


"Ok, we're there.(Ok, kami kesana)." Bas menutup ponselnya.


"Acara segera dimulai, kita harus ke aula sekarang." ucap Bas setelah menerima panggilan telpon tadi yang ternyata dari penanggung jawab proyek mereka.

__ADS_1


"Ayo." jawab Vivi menghela nafas.


*


Acara rilis segera dimulai, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul di aula itu. Selain dihadiri para mahasiswa, mahasiswi, dosen, rektor, ada juga para petinggi perusahaan yang ada di kota itu. Banyak media juga yang meliput acara itu.


Bas dan Vivi duduk di deretan kursi khusus yang disediakan pihak universitas berjejer dengan para tamu kehormatan. Ini kali kedua mereka duduk di kursi tersebut setelah proyek pertama mereka setelah setahun kuliah di Oxford university tersebut.


Acara demi acara pun dilalui dengan lancar tanpa suatu halangan apapun. Kini tibalah acara presentasi peluncuran proyek mereka. Mereka pun dipanggil ke panggung untuk melakukan presentasi.


Seperti yang sudah dilaluinya, Bas dan Vivi merupakan manusia biasa juga, kegugupan melanda mereka, tapi Bas segera mengendalikannya. Presentasi pun dimulai dengan lancar, sesekali Vivi ikut menimpali perilisan proyek mereka.


Terlihat para pengusaha tamu undangan dan dosen mengangguk-anggukan kepala tanda setuju dan puas dengan presentasi mereka. Semua undangan berdiri begitu peluncuran aplikasi dinyatakan lulus dan berhasil.


"These are our former students and students who have dedicated their lives to the university. Let's applaud them.(Inilah mantan mahasiswa dan mahasiswi kami yang sudah mendedikasikan hidupnya pada universitas. Mari kita beri tepuk tangan pada mereka.)" teriak pembawa acara yang disambut dengan tepuk tangan meriah oleh semua orang yang ada di aula itu.


Keduanya tampak bertatapan dan tersenyum seolah lega telah menunjukkan hasil jerih payah mereka yang bermanfaat bagi khalayak umum.


"Would you like to say a little?(Apakah kalian ingin memberi sedikit ucapan?)" ucap pembawa acara itu pada Bas dan Vivi. Bas mengambil microphon pembawa acara itu.


"Hello, my name is Bas, Dion Sebastian. Thank you for accepting our efforts.(Halo, nama saya Bas, Dion Sebastian. Terima kasih telah menerima upaya kami.)" ucap Bas tersenyum. Kini beralih pada Vivi menggenggam microphon itu.


"And I'm Vivi, Thank you too." Keduanya pun menganggukan kepala guna pamit dari panggung dan duduk kembali ke kursi mereka.


Dan para undangan, pengusaha, dosen dan rektor menyalami mereka dan berbincang sekedar memberi ucapan selamat.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2