
Al tampak gelisah duduk di bangku taman rumah sakit dengan kedua mertuanya duduk di hadapannya terhalang meja. Setelah putrinya lahir dengan keadaan sehat dan normal. Tapi dokter masih menyarankan untuk dirawat di dalam inkubator demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada bayi prematur itu.
Setidaknya organ tubuhnya agar lebih sempurna saat menerima kehidupan baru.
Sementara itu Angel sedang ditunggui oleh orang tua Al atau mertua Angel setelah melepas rindu dengan peluk cium terharu karena putranya ternyata masih hidup dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun.
Kini Derian menatap dingin dan tajam pada menantunya itu. Yang masih betah diam belum berani bicara. Karina juga hanya diam memaksa ikut suaminya, karena tak mau suaminya terbawa emosi saat menyidang menantunya itu yang telah lama menghilang hampir setahun.
"Maafkan aku ma, pa..." itulah ucapan pertama Al lirih menunduk memohon yang berani dikatakan pada kedua mertuanya.
Dia pun tak berani menunjukkan pembelaan apapun karena dirinya memang salah. Seharusnya sejak awal dirinya langsung pulang ke rumahnya saat terbangun dari koma.
Derian menghela nafas panjang dan berat, emosi, amarah yang terpendam selama ini perlahan menguap karena elusan jemari tangan istrinya di lengannya. Derian menatap Karina lekat dan gelengan kepala Karina membuatnya urung untuk mengomeli menantunya ini.
"Syukurlah kau sekarang terlihat baik-baik saja." ucap Karina tersenyum lembut.
Al mendongak menatap ibu mertuanya itu yang masih terlihat cantik meski sudah berumur. Al balas tersenyum saat melihat kedua mertuanya itu tak memarahinya seperti yang ditakutkannya selama ini.
"Maaf ma, maaf pa, terima kasih... terima kasih masih menerimaku sebagai menantunya meski aku tahu kesalahanku sangat besar." ucap Al menundukkan wajahnya lagi.
"Baguslah kalau kau tahu!" ucap bariton Derian dengan nada datar dan dingin, tatapannya masih tetap tajam menusuk pada Al.
"I..iya pa." jawab Al.
"Pergilah! Temui istrimu. Dia bisa dikatakan tidak baik-baik saja selama ini. Kurasa kau butuh waktu lebih lama untuk membujuk istrimu itu." ucap Karina lembut. Al sontak mendongak menatap kedua mertuanya tersenyum senang.
"Terima kasih pa, terima kasih ma. Aku akan berjuang demi keluarga kecil kami." janji Al.
"Jangan hanya lewat ucapan. Buktikan!" ucap Derian datar dan dingin.
"I...iya pa." ucap Al segera meninggalkan pasangan mertuanya itu.
Begitulah ayah mertuanya, tatapan tajam dan dinginnya tak ada yang berani melawannya. Dia memang pria tangguh yang dingin, tegas dan disiplin. Dia tak bisa menerima kesalahan apapun oleh siapapun. Hanya karena ibu mertuanya dirinya bisa selamat dari amukan ayah mertuanya itu.
Perasaan cinta yang begitu besar pada ibu mertua membuat pria tegas dan dingin itu jatuh takhluk sejatuh-jatuhnya terhadap istrinya itu. Tak ayal orang-orang banyak yang mendengarnya tak percaya jika seorang Derian pemilik perusahaan Aftano corporation bisa takhluk pada istri tercintanya.
__ADS_1
Dan Al sudah melihat itu semua. Hanya dengan elusan tangan sang istri di lengan, pria itu langsung bisa memadamkan amarahnya yang sudah diujung tanduk itu. Menjadi padam seketika.
"Jangan terlalu keras, Al juga melewati masanya yang sulit juga." hibur Karina meletakkan kepalanya di bahu suaminya.
Derian melingkarkan lengannya di bahu istrinya menempatkan kepala istrinya di dada bidangnya agar lebih nyaman. Tak memperdulikan orang-orang di taman itu yang menatap kemesraan mereka. Padahal mereka sudah tidak muda lagi, bahkan sekarang sudah memiliki dua cucu.
"Seharusnya dia dihajar agar babak belur agar merasakan juga kesengsaraan Angel selama ini." ucap Derian tegas.
Bugh
Pukulan pelan tak terasa untuk pria kekar seperti Derian namun rasa kagetnya yang mendominasi.
"Sakit sayang..." manja Derian mengelus dadanya setelah dipukul istrinya meski tak benar-benar sakit.
"Seharusnya kita senang, mereka akhirnya dipertemukan kembali, meski Al sangat salah karena terlambat menemui istrinya. Apalagi mendengar ceritanya dia sempat salah paham melihat Angel dengan Dion dan dia hendak membatalkan niatnya untuk kembali pada Angel. Tapi yang namanya jodoh, mungkin putrinya yang memberikan sinyal pada Al untuk bisa mempertemukan kedua orang tuanya di tempat yang... mungkin sedikit ekstrim." ucap Karina panjang lebar.
"Ya, kurasa itulah yang namanya jodoh. Sejauh apapun mereka berada pasti dipersatukan kembali bagaimanapun caranya." jawab Derian. Keduanya pun tersenyum senang dan bahagia mengingat tak ada lagi hal yang dicemaskan keduanya.
**
Al masuk ke dalam ruang perawatan istrinya, namun tak ditemukannya istrinya disitu. Senyum Al menghilang antara cemas dan khawatir.
"Ayah." panggil Al kembali.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Revan ayah Al.
"Dimana istriku?" tanya Al tak menjawab ayahnya malah balik bertanya.
"Tadi di dalam, ah, tadi katanya dia mau melihat putrimu. Mungkin mereka disana." ucap Revan.
"Aku akan kesana yah." jawab Al tanpa menunggu jawaban Revan dan berlalu menuju ruang bayi tempat putrinya dirawat.
**
"Putriku sangat cantik bu." ucap Angel sambil menatap putrinya yang menggeliat di dalam inkubator.
__ADS_1
"Ya, sangat cantik, dia seperti papanya versi cewek." jawab Irene yang mengantar Angel menuju ruang putrinya dengan menggunakan kursi roda karena tubuh Angel yang masih lemah.
"Ah... saat aku melahirkan, sekilas aku melihat mas Al ada di sampingku menemaniku melahirkan... dan ternyata itu semua hanya mimpi." lirih Angel tersenyum getir.
"Itu bukan mimpi. Aku benar-benar ada di sampingmu." ucap suara Al yang tiba-tiba muncul di ruang perawatan putrinya.
Angel sontak menoleh terkejut menatap Al yang muncul tiba-tiba dari belakang keduanya. Angel sontak menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ternyata bayangan samar-samar yang dilihatnya bukanlah halusinasinya saja.
Dan itu nyata, suaminya muncul, suaminya benar-benar pulang, suaminya benar-benar telah kembali. Angel mendekati wajah pria yang ada di hadapannya kini, membelai pipi dan wajah suaminya yang sudah lama menghilang dan kini hadir di hadapannya. Wajahnya terlihat tirus meski masih terlihat tampan. Tubuhnya sedikit kurus tak terawat namun wajahnya bersih.
"Benarkah ini kamu mas? Benarkah kau telah kembali?" tanya Angel tak percaya dan anggukan kepala Al sebagai jawaban pertanyaan Angel sontak membuat Angel menangis bahagia, air mata mengalir deras tak bisa dihentikan.
Antara senang, sedih, marah, bahagia dan kecewa campur aduk di dadanya. Namun kebahagiaan lebih mendominasinya. Air mata Al pun tak kalah derasnya melihat keadaan istrinya yang tidak baik-baik saja itu. Wajahnya yang tetap cantik namun sangat kurus.
Tubuhnya yang benar-benar hanya berbalut daging tipis terdapat lekukan dalam pada lehernya menandakan hidupnya tak baik-baik saja semenjak keduanya terpisah. Membuat Al merasa sangat bersalah karena tak segera pulang secepatnya.
Merasa bersalah karena membuat istrinya yang lemah menjalani masa kehamilan sendiri tanpa dirinya sebagai suaminya yang tak mendampinginya di setiap ngidam dan morning sick nya.
"Maaf... maafkan aku..." ucap Al lirih memejamkan mata tak sanggup menatap istrinya. Angel menggeleng, langsung memeluk tubuh suaminya yang dirindukannya selama ini.
"Terima kasih sudah kembali, terima kasih masih sudah pulang dengan selamat. Kecelakaan yang menimpamu terakhir kali membuatku merasa mati karena aku takut kau meninggalkanku untuk selama-lamanya." lirih Angel menangis sesenggukan. Al menggeleng.
"Maaf... akulah yang bersalah, maaf..." ucap Al menghapus air mata istrinya yang mengalir deras di pipi.
Mereka pun berpelukan erat sama-sama melepas kerinduan. Melepaskan rasa yang meluap di dada yang mereka tahan selama ini. Irene menatap keduanya terharu, ikut menangis melihat kedua sejoli itu. Revan yang mengikuti dari belakang masih berdiri di pintu masuk mengurungkan niatnya untuk ikut masuk karena melihat drama anak-anaknya yang lama terpisahkan ikut terharu dan sedih.
Irene keluar mengajak suaminya meninggalkan pasangan itu memberikan waktu bagi keduanya untuk melepas beban mereka yang terdapat di dada masing-masing untuk melegakan.
TBC
.
.
.
__ADS_1
Maafkan typo🙏
menuju ending