
'Kak, hari ini aku pulang. Kakak tak mau mengantarku pulang?' isi pesan Dion siang itu. Dion berharap Angel bisa meluangkan waktu untuk ikut mengantarkannya pulang. Dan memastikan satu jam sebelum waktu pulangnya dari kampus.
Angel yang saat itu masih ada kelas mengabaikan pesan masuk ke dalam ponselnya apalagi dalam mode getar saja untuk mencegah ponselnya berdering waktu kelas berjalan. Memang ini kelas terakhir Angel hari ini, memang tak ada rencana untuk melakukan apa setelah ini.
Setelah setengah jam berlalu kelas selesai dengan banyak tugas yang diberikan. Angel membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"An, ke cafe yuk!" ajak Dinda siang itu, sudah lama mereka tak bertemu karena kelas mereka yang berbeda. Mereka juga beda jurusan meski satu angkatan. Dinda mengambil jurusan seni beda dengan Angel yang mengambil jurusan manajemen bisnis.
"Ah, sebentar." jawab Angel mengambil ponselnya tadi dia teringat tentang getar ponsel saat sedang kelas tadi.
Angel tersenyum membaca pesan itu.
'Aku sangat berharap kakak menemaniku pulang?' isi pesan Dion lagi dengan emoticon memohon dengan air mata.
"Siapa? Pacarmu?" tanya Dinda yang melihat senyum Angel yang membuat Angel salah tingkah, gelagapan.
"Bu...bukan...dia adik keponakan. Maaf ya aku sudah ada janji." tolak Angel tersenyum menyesal sambil berlalu meninggalkan Dinda.
Angel membalas pesan Dion dengan menghubunginya langsung.
"..."
"Dion, kau sekarang dimana?"
"..."
"Aku akan segera kesana." ucap Angel tersenyum, entah kenapa dia sangat senang.
"..."
Sementara Dion.
"Papa, ke kantor gih sana!" usir Dion melambaikan tangannya mengusir dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Papa akan antar kamu pulang." tegas Reno. Masih membereskan barang-barang Dion.
"Ayolah pa, pulang atau ke kantor sana!" usir Dion lagi mendorong Reno yang masih tak bergeming. Reno menatap Dion lekat dengan berkacak pinggang.
"Ada apa?" tanya Reno mengintrogasi.
"Papa kaya gak tau aja." jawab Dion tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Apa Angel bersedia mengantarmu pulang?" tanya Reno telak, membuat wajah Dion semakin memerah. Dion semalaman memang curhat pada Reno tentang kejadian hari itu dan bercerita juga tentang adanya sinyal dibalasnya perasaannya oleh Angel. Reno hanya tersenyum dan mendukung.
"Itu papa tau."
"Emang kenapa kalau ada papa?" tanya Reno lagi.
"Pa..." rengek Dion. Reno tersenyum menggoda menatap Dion yang tersipu malu.
"Aku ingin berdua dengannya." jawab Dion tersipu malu memalingkan muka pura-pura membereskan barang-barangnya.
"Baiklah. Tapi diantar sopir papa ya?" tawar Reno.
"Makasih pa." seru Dion tersenyum senang memeluk Reno.
Reno menghubungi sopirnya untuk menjemput Dion. Reno kembali ke kantor mengurus pekerjaannya.
"Dion..." sapa Angel yang baru tiba.
"Kakak datang?" jawab Dion tersenyum antusias. Berdiri dari duduknya di ranjang mendekati Angel.
"Kau sendiri? Siapa yang menjemput?" tanya Angel.
"Aku akan menemanimu pulang. Jangan khawatir." ucap Angel.
"Makasih kak." jawab Dion tersenyum senang sangat antusias. Meski sedikit senyum seringai tipis di bibirnya yang tak diketahui Angel.
Kurang lebih satu jam, mereka sudah sampai di rumah Dion dengan disambut antusias oleh bibi pengasuh Dion.
"Aden sudah pulang? Tuan mana den?" ucap bibi itu polos.
"Papa ke kantor bi, ada meeting penting katanya." jawab Dion masuk ke dalam rumah menuju kamarnya yang diikuti Angel yang tersenyum menyapa bibi pengasuh itu.
Angel menatap sekeliling rumah itu sambil masih terus masuk mengikuti langkah Dion hingga tanpa sadar masuk ke dalam kamar pribadi Dion.
"Wah, kamarmu bersih dan rapi ya!" puji Angel menatap sekeliling kamar tidur Dion membuat Dion salah tingkah dan tak menyangka kalau dia akan diikuti Angel sampai ke dalam kamarnya. Angel menarik selimut yang tertata di ranjang dan menarik pergelangan tangan Dion menuju ranjang.
"Ayo, istirahatlah! Kau baru sembuh dan harus banyak istirahat." ucap Angel menyelimuti tubuh bawah Dion dengan selimut. Dion yang masih salah tingkah dan malu hanya mengikuti tanpa banyak bicara.
"Ah, maaf kak, merepotkan." ucap Dion menatap Angel senang atas perhatian kecil Angel padanya.
"Kau mau makan, pasti makan siang rumah sakit tak enak. Aku akan minta bibi untuk menyiapkan makanmu. Kau juga harus minum obat kan?" saran Angel meninggalkan kamar Dion menuju dapur. Dion hanya senyum-senyum sendiri senang. Dan tak mau hari ini berakhir begitu saja.
__ADS_1
"Aku akan makan sendiri kak?" tawar Dion begitu Angel tiba dengan membawa nampan berisi makanannya.
"Begitukah?" jawab. Dion mengangguk menyerahkan piring itu.
Angel menatap Dion lekat membuat Dion gelagapan gugup saat menelan makanannya.
"Kenapa kak?" Angel yang memang tanpa sengaja ketahuan menatap Dion lekat.
"Ah, tidak... sebentar ya?" Angel mengambil nasi yang masih menempel pada tepi bibir Dion membuat wajahnya memerah karena malu dan semakin gugup.
"Ah, aku hanya mengambil nasi yang.... ah, maaf... aku... lancang." jawab Angel gelagapan, gugup seketika dan dia jadi serba salah dan salah tingkah. Otomatis dia berdiri hingga kursinya terpundur.
"A..a..aku..." Dion menarik pergelangan tangan Angel hingga Angel terjerembab jatuh dalam pangkuan Dion. Mereka saling menatap satu sama lain dengan perasaan Angel yang campur aduk.
Ingin dia menolak hingga ingin mendorong dan segera berdiri dari pangkuan Dion. Tapi, tubuhnya malah bereaksi lain. Dion mencium bibir Angel dalam, merasa tak ada penolakan, Dion terus melancarkan aksinya hingga Angel terbawa suasana dan ikut menikmati ciuman itu. Semakin dalam dan semakin intens.
Bibir Angel yang sedikit terbuka membuat Dion semakin bersemangat untuk memasukkan lidahnya menjelajahi mulut Angel. Angel yang sudah terbakar gairah hingga lupa dirinya kini dimana berada. Tak terasa tangannya melingkar ke leher Dion mempersempit jarak diantara mereka. Entah kenapa Angel menemukan kenyamanan dalam ciuman itu. Dan entah sudah berada dimana piring Dion tadi.
Dion pun menikmati ciuman itu. Melesakkan lidahnya lebih dalam, mencium, mencecap dan menghisap lidah Angel lembut. Hingga desahan keluar dari mulut Angel dan Dion bergantian. Dirasakan nafas keduanya sama-sama menipis, Dion melepas ciumannya, menatap Angel yang yang juga ngos-ngosan mengendalikan nafasnya.
"Aku... mencintaimu kak? Dulu maupun sekarang." ucap Dion lembut dan tulus. Angel menatap mata Dion intens hanya terpancar kejujuran dan keseriusan. Angel hendak bangun tapi pinggangnya dipeluk erat Dion enggan untuk melepaskannya.
"Aku .. tak bisa Di...? Aku..." Dion mencium bibir Angel lagi ingin memastikan perasaannya pada dirinya. Dan Angel membalas kembali ciuman itu. Dan mereka berciuman lebih dalam lagi. Wajah Angel semakin memerah berkabut gairah begitu juga dengan Dion. Setelah Dion melepas ciumannya. Dion mendekap tubuh Angel erat.
"Biarkan seperti ini. Aku mohon." pinta Dion, Dion tau apa yang hendak dikatakan Angel. Angel pun bingung ingin mengatakan apa, dia hanya membiarkan Dion mendekapnya erat dan entah kenapa Angel tak ingin juga melepaskannya. Hatinya tak rela meski akal sehatnya menolak.
"Tubuhmu tak bisa berbohong kak? Kakak juga menginginkannya." ucap Dion setelah melepas dekapannya dan mengusap sudut bibir Angel. Tanpa sadar air matanya menetes di pipinya, dia merasa bersalah karena berkhianat. Dion mengusap air mata itu, mengecup pipi itu setelahnya bergantian.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1