
Dion menunggu Angel di taman kota dekat rumahnya, karena siang hari, taman terlihat sepi pengunjung. Kalau bukan karena keinginan Angel, Dion tak mau bertemu di tempat ini.
"Maaf... menunggu lama." ucap Angel tersenyum baru datang. Dion sontak berdiri.
"Tidak, aku yang terlalu cepat datang." jawab Dion. Angel duduk bersisian di bangku taman.
"Apa yang ingin kau katakan?" Angel memulai bicara.
"Maaf untuk yang waktu itu." menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Tidak. Lagipula belum terjadi apa-apa. Dan akulah yang sudah memutuskannya." elak Angel menatap Dion tersenyum.
"Terima kasih."
"Tak apa."
"Aku sudah menemui om Derian."
"Papa..." seru Angel terkejut. Dion mengangguk.
"Lalu?" tanya Angel penasaran. Dion menoleh menghadap Angel memegang tangannya.
"Maukah kakak menikah denganku?" tanya Dion dengan mata berbinar-binar penuh harap.
"Tapi ... kita masih belum lulus. Banyak yang masih harus kita lakukan?"
"Apa maksud kakak menolak?" tanya Dion lagi tak suka.
"Bukan begitu, aku... maksudku?"
"Apa kakak berubah pikiran setelah kejadian kemarin?" desak Dion tak sabaran.
"Dion... kenapa kita tak belajar dulu. Kita selesaikan pendidikan kita dulu. Masih banyak impian yang bisa kita raih setelahnya." ucap Angel hati-hati.
"Katakan jika kakak mau menolaknya!" ucap Dion dengan wajah kecewa dan sedih.
"Dion bukan begitu..."
"Hahaha... ternyata hanya aku yang antusias disini. Hanya aku yang sangat mencintai kakak." Dion melepas tangan Angel kembali memutar badannya menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"Dion... mengertilah!" Mengelus lengan Dion. Dion hanya tersenyum kecewa tak menjawab ucapan Angel.
"Kakak tahu betapa besar perasaanku? Kakak tahu aku mencintaimu seperti orang gila? Kukira akhir-akhir ini kakak juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, tapi ternyata hanya aku yang dengan bodohnya mencintai kakak. Aku... juga ingin meraih mimpiku, juga ingin mencapai hal yang kuinginkan...Tapi, kakaklah impian utamaku." ucap Dion dengan penuh kekecewaan.
"Dion...maaf...bukan.. maksudku begitu." Memegang lengan Dion.
Dion mengusap wajahnya kasar, menghibur dirinya yang sedang kecewa.
__ADS_1
"Dion... kumohon... kita bisa menikah suatu hari nanti."
"Aku mengerti kak. Tapi, entahlah apa aku masih bisa bertahan lebih lama untuk mencintai kakak. Aku sudah terlalu capek berjuang sendiri kak." menatap Angel lekat.
"Dion... bukan seperti itu. Aku juga mencintaimu, aku juga ingin berjuang bersamamu, tapi waktu kita masih panjang. Aku tak mau kita menyesal jika kita menikah muda. Nanti setelah lama menikah kita akan menyesal." ucap Angel menjelaskan.
Tapi, hati Dion sudah terlanjur terluka, untuk kesekian kalinya dirinya ditolak lagi. Dia tersenyum miris, kata-kata Angel tak ada yang masuk dalam telinganya. Kekecewaan dan alasan-alasan Angel membuatnya semakin yakin. Hanya dirinya yang terlalu mencintainya dan terlalu antusias dengan hubungan mereka. Diperjuangkan seperti apapun seolah percuma.
"Dion..." pinta Angel khawatir karena Dion tak meresponnya.
"Maaf... aku telah mendesak kakak." ucap Dion akhirnya, memaksakan untuk tersenyum meski dadanya sakit.
"Maaf..." Angel menunduk merasa bersalah.
"Aku harus pulang, aku ada kelas siang." ucap Dion beralasan. Dion berdiri dari duduknya.
"Maaf..." Angel menarik lengan Dion.
"Tak apa." jawab Dion tersenyum getir pergi dari situ.
**
"Istirahatlah sayang, kau lupa pesan dokter?" omel Derian melihat istrinya sibuk di dapur saat mereka sarapan.
"Aku sudah sembuh, aku sudah tak apa. Aku juga sudah minum obat." ucap Karina tersenyum menatap suaminya yang masih cemberut karena ucapannya lagi-lagi bisa dibantah istrinya.
"Angel." panggil Derian.
"Ya pa." jawab Angel. Semuanya menatap pada Derian menunggu apa yang mau dikatakan papanya. Derian menatap semua yang ada di meja makan, seolah ingin menghilangkan penasaran mereka.
"Setelah sarapan temui papa di ruang kerja." ucap Derian yang ditanggapi tatapan kecewa dari semuanya yang sudah penasaran.
"Ya pa." jawab Angel meneruskan makannya.
**
"Ada apa pa?" tanya Angel ragu, saat sudah berada di ruangan kerja papanya.
"Duduk!" perintah Derian ikut duduk di sofa yang beranjak dari kursi kerjanya. Angel duduk, mereka duduk berhadapan terhalang meja.
"Dion menemui papa."
"Eh..." Angel terkejut. Tapi segera dikendalikannya.
"Dia meminta restu dari papa untuk menikahimu." ucap Derian. Angel terlihat tak terlalu terkejut. Derian memicingkan mata menatap Angel lekat.
"Kau masih perawan kan?" tanya Derian ragu, terdapat sedikit semburat merah di wajahnya.
__ADS_1
"Ah, apa maksud papa?" tanya Angel tersipu malu, wajahnya memerah.
"Dion mengatakan kalau dia sudah tidur denganmu."
"Tidak, bukan seperti itu, kami belum sempat melakukannya dan aku tentu saja masih perawan pa." elak Angel.
"Benarkah?" tanya Derian tak percaya.
"Itu benar pa, kami memang hampir melakukannya, tapi om Reno tiba-tiba datang." jelas Angel malu menundukkan kepalanya.
"Reno? Papa Dion?" Angel mengangguk.
"Dari mana dia tahu?"
"Dia ... melacak ponsel Dion setelah mama minta tolong tentang keberadaan Dion." jelas Angel.
"Jadi, mamamu menghubungi Reno dan bertanya tentang Dion kemana karena kau tak pulang? Dan Reno mencari kalian dengan melacak ponsel Dion? Dan menyusul kesana?" tanya Derian dengan detail.
"Papa benar." jawab Angel.
"Lalu, bagaimana pertemuanmu dengan Dion?" tanya Derian lagi, meski dia tahu mereka ketemuan dan sudah menebak dari raut wajah Dion yang terlihat kecewa.
"Aku... menolaknya pa." jawab Angel lemah.
"Kenapa? Bukannya kau mencintainya?" tanya Derian.
"Entahlah pa, aku tak tahu dengan perasaanku. Aku jadi tak yakin dengan perasaanku sendiri. Masih banyak hal yang ingin kucapai." jelas Angel tersenyum menatap Derian.
"Aku sudah memberikan restu pada kalian untuk menikah. Tapi, kalau kau menolaknya papa sudah tak ikut campur lagi perihal kalian. Papa hanya berharap jangan mempermainkan perasaan orang lain terutama seorang pria. Kau tahu, bagi pria cinta pertama adalah segalanya, hidupnya bahkan masa depannya. Papa harap kau memikirkannya dengan benar, kalau kau memang tak yakin dengan perasaanmu jangan berikan harapan yang lebih. Jika dia terluka, itu pasti sangat sakit." jelas Derian berdiri dari duduknya.
"Apa papa juga pernah mengalaminya?" tanya Angel ikut berdiri. Derian kembali berbalik menatap putrinya. Derian mengangguk.
"Dengan mama?"
"Mamamu tak tahu itu. Karena papa bukan cinta pertamanya tapi papa sudah cukup bahagia karena papa cinta terakhir mama." jelas Derian dengan wajah berbinar-binar. Angel terkejut dengan reaksi papanya yang sangat mencintai mamanya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.