
Karina masih merasakan perutnya mual, sudah empat kali dirinya bolak balik ke toilet kamarnya. Yang untungnya Derian sudah berangkat ke kantor. Karina terduduk lemas di sofa kamar, dengan nafas yang tak beraturan setelah mual yang tak ada habisnya. Karina minum obat anti mual yang diberikan dokter berharap mualnya mereda. Hingga dirinya tertidur di sofa kamar.
Hingga pukul 3 sore, Karina bangun, beranjak dari tidurnya merasa lapar mencari-cari makanan tapi tak menemukan apapun di lemari es dapur. Hingga Karina keluar apartemen untuk pergi ke supermarket terdekat membeli sesuatu yang bisa dimasak untuk dimakan.
Dan sialnya dia menginginkan bakso yang dijual di depot dekat rumahnya dulu saat tinggal dengan Reno.
Karina turun dari ojol tiba di tempat tujuan, bakso rusuk yang terkenal kelezatannya. Membuat Karina hampir meneteskan air liurnya karena ngidam. Karina masuk memesan dan duduk di dekat jendela.
Karina mencoba berjalan sebentar setelah menuntaskan ngidamnya. Berjalan menuju taman dekat depot itu dan duduk di bangku taman menyandarkan tubuhnya karena kekenyangan perutnya. Bola menggelinding tepat di depan kakinya, Karina menatap bola itu yang dihampiri seorang anak laki-laki berumur mungkin kurang lebih 2 tahunan.
"Itu bolaku Tante?"ucap anak itu melihat Karina hendak memungut bola itu.
"Karina..."panggil seorang pria yang baru tiba menghampiri anak kecil itu.
Karina mendongak membatalkan niatnya untuk mengambil bola itu tanpa meninggalkan bangku.
"Mas Reno?"sapa Karina sama terkejutnya.
Karina ganti menatap anak kecil itu dan beralih menatap Reno. Karina sempat berpikir, mungkin Karina menemui anak itu tapi baru kali ini bertatapan muka langsung dan entah kenapa mereka tidak mirip, batin Karina.
"Sedang apa disini?"tanya Reno melihat Karina duduk santai di bangku taman sendirian.
Reno duduk di bangku bersisian dengan Karina, setelah saling bertegur sapa menanyakan kabar masing-masing, Reno memilih duduk di bangku dengan Karina dan menyerahkan putra angkatnya pada bibi pengasuh yang juga ikut menemani bermain di taman.
"Dari mana tadi?"tanya Reno memulai pembicaraan setelah duduk agak lama.
"Aku mampir membeli bakso. Entah kenapa aku begitu menginginkannya."jelas Karina menunduk sungkan.
"Ah, mengidam ya?"ucap Reno dengan senyum getir.
"Mungkin?"jawab Karina bimbang.
"Sendirian?"
"Derian sedang kerja, aku tak mau mengganggunya."
"Selamat ya!"
"Terima kasih."
__ADS_1
Mereka diam lagi tak ada bahan lagi yang mau dibahas.
"Irene kemana?"tanya Karina setelah lama saling diam.
"Kami bercerai."jawab Reno. Karina spontan menoleh menatap Reno.
"Maaf."
"Tak apa. Kami berpisah baik-baik."
Karina menunduk merasa bersalah.
"Bukan salahmu, ini murni kesalahan kami."jelas Reno menatap Karina menunduk diam seperti merasa bersalah.
"Mungkin bukan jodoh mas Reno."hibur Karina menatap Reno yang dibalas balik menatapnya.
"Alangkah senangnya jika kaulah jodohku" Karina tersentak menatap Reno lekat.
"Aku hanya bercanda." Karina tersenyum kecut melihat Reno tersenyum lucu menyeringai membuat Karina tertawa lebar,
Reno ikut tertawa lebar. Mereka sama-sama tertawa.
"Mas, bercandanya gak lucu."
"Aku nggak bercanda kali ini."ucap Reno tegas menatap Karina lekat dengan serius. Karina balas menatap lekat menutup mulutnya tak percaya.
"Irene hamil anak kekasihnya saat menikah denganku..."jelas Reno menjeda kalimatnya menunggu reaksi Karina sebelum dia meneruskan lagi perkataannya. Karina masih diam.
"Sebelumnya aku minta maaf atas perlakuan burukku dan mama padamu selama kau jadi istriku. Kami telah salah padamu dan berdosa. Mungkin kata maaf tak cukup untuk menghapuskan kesalahan kami. Tapi aku tetap ingin minta maaf padamu. Semoga..."
"Kenapa mas minta maaf... itu bukan salah siapapun. Kita sama-sama salah, bukan hanya salahmu. Aku juga salah padamu tak bisa menjadi istri yang baik dan anak yang baik bagi mama."
"Tidak. Kami lah yang paling salah terhadapmu. Kami yang terlalu menyalahkanmu atas pernikahan kita. Yang ternyata akulah letak kesalahan itu ."
"Apa maksudmu mas? Yang lalu biarlah berlalu kita lewati yang lalu dan mulai membenahi masa depan dan semoga yang lalu bisa diambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran kita nanti."
Reno tersenyum getir merasa bersalah, begitu lapangnya hati Karina memaklumi kesalahan kami yang benar-benar dulu membuangnya seperti benda tak berguna. Tanpa mencari kejelasan mana yang benar dan mana yang salah. Batin Reno mendesah.
Reno menunduk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tak terasa air mata mengalir di pipinya.
__ADS_1
Karina hanya diam tau apa yang dialami Reno itu bukanlah sesuatu yang mudah. Terlalu berat hal yang dilalui dalam hidupnya. Karina menepuk bahu Reno mencoba menghibur, tapi Reno justru menyandarkan kepalanya di pundak Karina. Reno semakin mengisak kencang dalam bahu Karina. Karina tak menolak, menepuk punggung Reno untuk menghiburnya.
Seandainya Karina masih mencintai Reno, Karina mungkin bersedia meninggalkan Derian, tapi cinta itu sudah begitu besar untuk Derian hingga saat ini dirinya bimbang untuk meninggalkan Derian demi kebahagiaan keluarganya, terutama untuk kedua gadis kecil Derian yang menginginkan keutuhan orang tuanya.
***
Derian menghubungi ponsel Karina berkali-kali, sejak pukul 2 siang tak diangkat. Derian berpikir mungkin Karina sedang istirahat siang, saat berangkat ke kantor wajah Karina terlihat sedikit pucat, tapi Karina tak terlihat mengeluh malah tersenyum bahagia mengantar kepergian Derian berangkat kerja. Derian tak lanjut bertanya mungkin hanya kelelahan saat bercinta semalaman. Ya, semalam Derian 'menyerang' Karina lagi, meski melihat Karina kelelahan tak menyurutkan dirinya menginginkan lagi.
Entah kenapa nafsu Derian kembali naik melihat tubuh Karina yang terlelap seksi sekali, padahal dia hanya diam.
Hingga 2 jam kemudian Derian menghubungi ponsel Karina lagi tetapi tetap tak diangkat. Derian mencoba meredam emosi, percaya pada Karina, mungkin akan menghubungi kembali saat melihat panggilan tak terjawab darinya di ponselnya.
Hingga sampai jam 4.30 sore, ponsel Karina tetap tak diangkat. Kesabaran Derian benar-benar diambang batas, hingga dirinya mengambil jasnya dan berlari meninggalkan pekerjaannya untuk pulang ke apartemen melihat keadaan Karina mungkin terjadi sesuatu.
Bag...bug...bag...bug...
Pukulan Derian tak henti-hentinya menghantam wajah Reno, yang belum siap menerima pukulan Derian membuat Reno terjerembab jatuh ke belakang dengan Karina yang berteriak histeris menghentikan pukulan Derian. Membantu Reno untuk berdiri tapi pergelangan tangannya dicekal Derian mencegah untuk menolong Reno.
"Brengsek. Jangan sentuh istriku!"desis Derian tak suka menarik Karina untuk meninggalkan taman itu. Karina hanya menurut tak banyak bicara.
**
Perjalanan Derian pulang ke apartemennya, jalannya memang melewati rumah Karina dulu saat masih menjadi suami Reno. Tak sengaja Derian melihat Karina berpelukan dengan Reno di taman tempat banyak orang sedang membawa anaknya untuk menikmati keindahan sore hari.
Derian langsung menghentikan laju mobilnya, tak peduli tempat itu larangan parkir atau bukan. Dirinya yang sudah diselimuti amarah, matanya memerah, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal, gatal ingin memukul orang yang dengan berani memeluk istrinya Karina di tempat umum tanpa malu. Seolah menunjukkan dialah miliknya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Maafkan typonya..
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.