
Keduanya masih terdiam di meja cafe. Setelah minuman pesanan mereka datang, Karina meneguknya perlahan. Masih belum mulai untuk bicara. Tadi pagi, Irene menghubunginya untuk bertemu secara pribadi berdua saja.
Tanpa pikir panjang Karina mengiyakan ajakan bertemu Irene. Dan disinilah mereka duduk berdua berhadapan terhalang meja. Irene bingung untuk memulai pembicaraan dari mana. Setelah dirinya pergi meninggalkan Reno tanpa pamit, Irene belum pernah bertemu kembali dengan Karina.
Pertemuan mereka terakhir kali sangat buruk, saat mama Hesti mengatai Karina mandul dengan ucapan yang sangat kasar. Dan saat itu Irene ada disana malah tersenyum seringai mengejeknya. Dan ucapan mantan mertuanya itu ternyata tidak terbukti benar. Bukan Karina yang mandul disini tapi Reno, putra kesayangan mantan mertuanya.
"Sebelumnya aku minta maaf." ucap Irene memecah keheningan diantara mereka. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Karina karena rasa bersalahnya di masa lalu.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Aku hanya berharap kau sudah berubah menjadi lebih baik dari yang dulu." jawab Karina. Irene terdengar bernafas lega.
"Masalah anak-anak... masih tetap berlanjut kan?" tanya Irene hati-hati, semalam putra suaminya itu sudah mewanti-wanti padanya jangan sampai membuat kesalahan pada Karina, bagaimanapun juga keluarga besannya sekarang orang terpandang dan disegani banyak orang.
Irene sungguh tak menyangka, wanita yang dulu begitu dibencinya dan dijahatinya sekarang menjadi istri orang sukses seperti Derian. Irene sungguh menyesal telah berlaku buruk padanya hanya karena menginginkan status untuk anak dalam kandungannya dulu.
"Kurasa anak-anak tidak ada hubungannya dengan kita. Jadi, alangkah baiknya hubungan mereka tidak disangkut pautkan dengan masa lalu kita."
"Terima kasih, terima kasih sekali lagi." ucap Irene tersenyum senang.
"Apa dia sudah tahu tentang Dion juga?" lirih Karina yang masih didengar Irene.
"Dia tahu tapi belum pernah bertemu."
"Ah, apa yang terjadi jika mereka bertiga bertemu?" guman Karina memijat pelipisnya.
"Mbak Karin bilang sesuatu?" tanya Irene menatap Karina tersenyum lembut.
"Tidak, bukan apa-apa. Semoga mereka bahagia." ucap Karina.
"Tentu. Al sangat mencintainya." jawab Irene tersenyum senang saat mengingat tentang antusiasnya Al bercerita tentang Angel.
**
"Mama..." panggil Angel melihat mamanya baru datang.
"Ya?" jawab Karina menatap Angel tersenyum.
__ADS_1
"Mama sudah bertemu? Bagaimana?" tanya Angel antusias bergelayut di lengan Karina, mengikuti langkah Karina duduk di ruang keluarga. Hari itu hari minggu Angel libur kerja, tapi Derian tetap kerja lembur karena ada hal penting yang harus diurus.
"Kenapa? Apa yang ingin kau tahu?" tanya Karina meminum teh yang disiapkan pelayannya setelah dirinya duduk di sofa ruang keluarga.
"Baik atau buruk?" tanya Angel.
"Menurutmu?" tanya Karina balik tanya membuat Angel cemberut karena penasaran.
"Ma..." jawab Angel manja.
"Angel..."
"Ya?" Karina menatap Angel lekat.
"Apa kau mencintainya?" tanya Karina.
"Tentu saja ma. Kenapa mama masih menanyakannya?" jawab Angel tersipu.
"Lalu, Dion?" tanya Karina lagi, wajah Angel kembali datar dan gugup saat ditanya masa lalunya.
"Mama harap kau yakinkan perasaanmu benar-benar, bagaimanapun kalian pernah menjalin hubungan yang serius, bahkan dia sudah melamarmu pada papamu." jelas Karina membuat Angel menghela nafas panjang.
"Aku sudah yakin dengan perasaanku ma." ucap Angel tersenyum senang menatap wajah Karina untuk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Dia tak pernah bilang jika dia pergi ke London untuk meneruskan kuliahnya. Aku tak tahu terakhir kali kami bertemu saat dia menanyakan perasaanku sekali lagi itu adalah saat terakhir dirinya akan pergi jauh dariku. Mungkin begini lebih baik dan kak Al juga sangat mencintaiku. batin Angel.
**
Pertemuan kedua keluarga diadakan esok malamnya lagi. Tak ada dramatisasi lagi seperti sebelumnya. Kesalahpahaman sudah diselesaikan dengan baik oleh keduanya.
Hingga akhirnya pertemuan itu berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun. Hingga akhirnya pertunangan menjadi kesepakatan mereka untuk diadakan bulan depan bertempat di salah satu hotel milik Derian. Angel tersenyum senang dan bahagia mendengar keputusan kedua keluarga tersebut.
Kini Al dan Angel tengah menikmati malam indah berdua setelah putusan pertunangan mereka. Mereka duduk di tepi sungai tempat para pemuda-pemudi berkencan. Al meraih jemari tangan Angel menautkannya pada jemarinya.
"Aku sangat bahagia." ucap Al saat mereka duduk di bangku di tepi sungai yang tempatnya sudah disulap menjadi tempat romantis untuk pasangan kekasih. Angel menatap Al lembut, tersenyum bahagia juga.
__ADS_1
"Aku juga kak." jawab Angel, Al memperpendek jarak mereka mencium bibir Angel lembut, Angel pun tak kalah membalasnya dengan begitu berpengalaman.
Mereka tak hanya sekali dua kali berciuman. Bahkan Angel pernah diajak ke apartemen milik Al. Setelah Al selesai magang, Al diangkat menjadi karyawan tetap di Aftano corporation. Begitu juga Angel, saat setelah mereka jadian sebulan setelah diangkat menjadi karyawan tetap.
Al menanyakan perihal keluarganya yang diketahui Al bahwa keluarga Angel bukan keluarga sembarangan. Angel menceritakan apa adanya pada Al, dia tak mau berbohong apapun pada Al, sehingga dia menceritakan tentang jati dirinya sebenarnya.
Meski awalnya Al terkejut dan shock, Al mencoba menelaah dari sudut pandang Angel, jika dirinya jadi Angel mungkin akan melakukan hal yang sama. Begitulah akhirnya Al bisa menerima kekurangan serta kelebihan kekasihnya ini.
"Kak...?"
"Ya?" jawab Al sambil mengecup punggung tangan Angel.
"Papa ingin kita menemui orang tua kandungku." ucap Angel.
"Tentu." jawab Al, dia juga sedikit tahu tentang cerita orang tuanya.
"Tapi, aku masih takut menemui mereka." ucap Angel lagi.
"Aku akan menemanimu bertemu mereka." Angel tersenyum senang mendengar ucapan Al.
"Sudah malam, aku antar kau pulang!" ucap Al. Angel mengangguk mengiyakan. Mereka menuju mobil tempat mereka parkir.
Flashback off
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih sudah membaca 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.