
Derian berdiri di depan meja meeting memulai meeting pagi hari itu. Dia terpaksa meninggalkan Karina karena pekerjaan yang terlalu sering ditinggalkannya. Derian cukup tenang setelah meninggalkan Karina di apartemennya yang ditemani PRT di rumahnya,bi Ani.
Bi Ani sudah menjadi PRT di rumahnya lebih dari 10 tahun, Derian mempercayakan segala urusan rumah dan anak-anaknya pada bi Ani untuk mencari teman mengasuh anak - anaknya.
Meeting yang berjalan alot dan lama membuat kesabaran Derian diuji. Hingga jalan keluar dari Noah berhasil menemukan titik temu dalam meeting kali ini.
Derian kembali ke ruangannya bersama Noah.
"Bagaimana dengan beritanya?"tanya Derian setelah duduk di kursinya.
"Sudah mulai meredam dan dipastikan tidak tersisa berita tentang nona,"jelas Noah.
"Bagaimana proses perceraiannya?"
"Nona Adelia masih menolak menanda - tanganinya."Derian berdecak kesal.
"Lakukan apapun untuk menyelesaikan perceraian ini, apapun caranya. Jangan sampai hak asuh jatuh padanya. Buat dia menyesal tak mendapatkan sepeserpun dari pernikahan kami." seru Derian kesal.
"Baik tuan."Noah undur diri.
Derian mengambil ponselnya menekan layar mencari nomer ponsel bi Ani.
Deringan pertama langsung diangkat.
"..."
"Apa Karina sudah bangun bi?"
"..."
"Berikan ponselnya padanya!"
"Sayang, kau sudah bangun?"
"..."
"Kau harus makan, semalam kau tak makan apapun?Kau butuh tenaga, kau juga baru keluar dari rumah sakit kan?Minumlah obatmu?"
"..."
"Mungkin aku akan pulang malam, sementara biarkan bi Ani menemanimu!"
"..."
__ADS_1
"Aku merindukanmu."
Derian menutup ponselnya, melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin menyelesaikannya sebelum sidang perceraiannya dimulai. Kali ini dia tak akan memberikan Adelia kesempatan untuk menolak untuk menanda - tangani surat perceraian nanti. Derian akan memberi Adelia pelajaran atas apa yang dilakukan pada Karina. Derian mengepalkan tangannya mengingat perlakuan Adelia pada Karina waktu lalu. Seolah-olah dirinya benar-benar tak bersalah dan menyalahkan Karina atas hubungannya yang terjalin dengan Karina.
Padahal Derian sudah meminta baik-baik pada Adelia untuk berpisah secara baik-baik dengan harta sesuai gono-gini pernikahan. Tapi karena Adelia sudah berani mengusiknya terlalu dalam apalagi sampai menyentuh Karina, kali ini Derian tak akan pernah memaafkannya, Derian akan membuat Adelia menyesal.
**
Reno sudah antri di depan ruang dokter kandungan rumah sakit tempatnya memeriksakan keadaannya lusa. Dokter sudah menghubunginya tentang hasil cek lab nya yang sudah keluar. Reno tak sabar untuk menunggu hasil pemeriksaannya.
Reno tak pulang ke rumahnya, Reno juga tak pernah menghubungi istrinya Irene. Selama 2 hari ini sampai menunggu hasil pemeriksaannya keluar, Reno tidur di ruang kerjanya. Di sebelah meja kerjanya terdapat sedikit ruang istirahat direktur jika dirinya lelah atau enggan untuk pulang ke rumah.
Suster asisten dokter spesialis kandungan itu memanggil namanya untuk masuk ke ruangannya tiba gilirannya.
"Selamat siang pak?"sapa dokter itu tersenyum ramah.
"Siang dok!"sap Reno balik.
"Sebentar pak ya?"dokter itu mengambil berkas dari dalam lemari di belakang kursinya dan duduk kembali di hadapan Reno.
Reno yang sudah gugup dan was-was tentang hasil pemeriksaannya hanya bisa diam, seolah pikirannya tak ada disana. Reno sudah memikirkan kemungkinan terburuk dari hasil itu.
"Di sini...."dokter tak meneruskan kalimatnya, masih membaca hasil pemeriksaan Reno yang hanya dipahami oleh dokter.
Dokter itu tersenyum getir, ragu untuk mengatakan pada Reno.
**
Karina duduk di bangku cafe di luar ruangan dekat air mancur buatan cafe, yang dibuat sengaja untuk menghiasi suasana cafe agar lebih indah.
Saat orang yang dia tunggu tiba, yang mendapatinya duduk di luar ruangan cafe.
"Maaf... menunggu lama?"sapa Adelia ramah, duduk di kursi depan meja Karina yang terhalang meja.
Ya, Karina janji bertemu, bukan janji tapi Adelia memohon untuk bertemu dengan Karina. Karina yang awalnya enggan bertemu dengan Adelia, membaca pesan Adelia Karina terpaksa mengiyakan ajakan bertemu dengan Adelia.
'Demi anak-anakku, aku ingin bertemu' isi pesan yang diterima Karina. Karina memang lemah jika itu sudah berhubungan dengan anak, Karina bahkan rela jika harus merelakan apapun hanya demi seorang anak.
Saat pelayan mendekati mereka mencatat pesanan Adelia, belum ada yang mulai bicara.
Sampai pesanan datang pun belum ada yang mulai untuk bicara.
Adelia tiba-tiba berlutut di hadapan Karina menangis di hadapan Karina, hingga Karina kaget dan bingung apa yang terjadi pada Adelia.
__ADS_1
"Maaf...aku minta maaf...Aku telah berlaku buruk padamu. Aku memohon dengan seluruh jiwaku untuk memaafkan aku."Adelia sesenggukan bicara tetap berlutut di hadapan Karina. Karina yang tak menyangka spontan berdiri dari duduknya hingga menggeser tempat duduknya. Para pengunjung cafe menatap mereka berdua dengan pandangan penasaran dan berkasak-kusuk di belakang.
"Bangunlah!Jangan membuatku menjadi orang yang paling jahat disini!"pinta Karina.
"Aku mohon maafkan aku...aku salah...aku tak akan berdiri sampai kau mau memaafkan aku!"ucap Adelia masih berlutut sesekali mendongak menatap Karina. Karina bingung harus apa, disisi lain dia masih marah atas perlakuan Adelia tempo hari dan di sisi lain dirinya tak mau terlihat jahat di depan orang banyak yang menyaksikan Adelia yang sudah rela berlutut di hadapan Karina.
"Aku... memaafkanmu. Bangunlah!"
"Benarkah?Kau sungguh-sungguh memaafkanku?"tanya Adelia antusias menatap Karina berbinar. Adelia bangun dengan sedikit menunduk, terlihat senyum seringai di bibir Adelia tapi tak dilihat Karina.
Adelia kembali duduk di tempat duduknya tadi, menyeruput minumannya.
"Maaf...aku tau aku salah. Aku tak pernah menjadi istri yang baik untuk suamiku. Aku juga telah menelantarkan anak-anakku,"keluh Adelia menyesal masih dengan sesenggukan menundukkan kepalanya.
Karina hanya diam menghela nafas panjang.
"Aku ingin meminta padamu, tolong beri kami kesempatan untuk memulai hidup kami lagi?"mohon Adelia menggenggam tangan Karina yang hendak ditarik, tapi dipegang erat oleh Adelia.
"Aku mohon...aku janji aku akan berubah,berikan kesempatan pada kami untuk hidup bersama keluarga bahagia kami. Aku tau selama ini aku bukan istri dan juga bukan ibu yang baik.Tapi tak bisakah aku mendapatkan kesempatan lagi?Tak bisakah aku bersatu dengan anak-anakku?Anak-anak kandungku."mohon Adelia dengan diiringi derai air mata yang mungkin pura-pura.
"Kurasa semua keputusan itu ada ditangan mas Derian."jawab Karina, bagaimanapun dirinya sudah menjadi istri Derian juga meski istri siri. Dan Karina sudah berjanji untuk tidak akan meninggalkannya tanpa izin darinya.
"Kalau kau yang bicara padanya mungkin dia akan mendengarkanmu. Dia pasti tak akan percaya padaku. Tapi percayalah aku tak akan tega melihat anak-anakku terpisah dari orang tua kandung mereka,"
Deg....
Kata-kata Adelia seakan memukul telak hati Karina. Dia tau bagaimana rasanya jika orang tua kandung mereka bercerai. Perceraian tak akan baik bagi siapapun, terutama anaklah yang jadi korban.
"Aku akan coba bicara padanya, tapi tak janji apapun."Ucap Karina akhirnya.
"Betulkah?Kau memang sangat baik, setiap wanita pasti akan marah dan sakit hatinya jika suami kita menyukai wanita lain.Kurasa aku tau kenapa dia menyukaimu. Kau memang baik dan berhati lembut,"rayu Adelia masih sesenggukan.
Karina langsung pergi meninggalkan Adelia tanpa pamit. Karina merasa sudah cukup untuk bertemu dengan Adelia.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.