
"Masuklah!.... mungkin hanya ada air?Karena saya melupakan belanjaan,maaf..."Karina masuk ke dapur membuka lemari esnya.
"Memang hanya ada air?"
"Sepertinya begitu..."Karina menoleh terkejut mendapati Derian ikut berdiri di belakangnya.
"Astaga? Bagaimana anda bisa ikut kesini?"tanya Karina terkejut memegang dadanya.
"Anda bilang masuklah,jadi...saya masuk... mengikuti anda."jawab Derian santai tersenyum lucu mengedikkan kedua bahunya.
"Astaga.... hahaha... maksut saya masuklah,duduk di sofa dan saya akan mengambil minuman....kenapa...?"Karina menghentikan ucapannya malah tertawa lebar berusaha menahan tawa dengan menyentuh perutnya.Derian selalu terpesona melihat tawa Karina,dia hanya tersenyum penuh arti.Karina yang hanya tertawa sendiri menghentikan tawanya,malu,itulah yang dirasakannya.
"Maaf...aku merasa lucu sendiri?"ucap Karina.
"Tidak... Anda terlihat cantik saat tertawa."jawab Derian tersenyum.Wajah Karina memerah menahan malu.
"Ah...apa anda sedang merayu saya?"tanya Karina menatap Derian, seandainya Derian mengingatnya,Karina pasti akan dengan senang hati menghambur dalam pelukan Derian.Tapi Karina menahan diri, inilah yang ditakutkan dirinya akan kembali goyah jika bertemu Derian lagi.Segera dikendalikannya perasaannya.Bagaimanapun juga, Derian tak mengingat dirinya sama sekali.
"Tidak...saya mengatakan yang sebenarnya."
jawab Derian dengan sorot mata yang terpancar kerinduan pada Karina, diapun ingin sekali memeluk wanita ini.Tapi juga menahan diri.Hingga mereka saling terdiam dan saling menatap tanpa ada yang bicara.
"Tak apa jika hanya ada air!"kata Derian lagi meraih satu botol yang ada di dalam lemari es. Memecah keheningan dan kecanggungan diantara mereka.
"Ah,tentu ambilah yang anda perlukan?"jawab Karina juga salah tingkah menjauh dari Derian tapi dasar Derian yang tak mau jauh,dia terus menempel mengikuti Karina setelah meneguk air minumnya.
"Kenapa anda masih mengikuti saya? Duduklah dan habiskan minuman anda jika sudah selesai, pergilah!"ucap Karina gugup.
"Sepertinya di luar sudah gelap dan sudah malam.Mungkin anda mengizinkan saya untuk menginap.Sepertinya anda juga tinggal sendiri."kata Derian menatap sekeliling yang melihat rumah Karina terkesan ditinggali oleh wanita single.
"Siapa...bilang?Suami saya lembur... dan mungkin... tak pulang.... jadi...akan lebih baik anda pulang,saya akan pesankan taksi online untuk anda, saya tak mau...nanti suami saya berpikir..."Derian segera meraih pinggang Karina merapatkan tubuhnya dengan tubuh Karina menggenggam erat tangan Karina.
"Apa yang...anda lakukan?"tanya Karina gugup yang tak menyangka atas perlakuan Derian tapi entah kenapa tubuhnya tak bisa menolak meski otaknya berpikir mati-matian untuk menolak.Karina sangat senang dalam pelukan Derian, dirinya yang sangat merindukan Derian,tubuhnya otomatis tidak menolak pelukan itu.Mereka saling menatap dalam diam.Derian menatap bibir mungil merah Karina ingin menciumnya.
"Tolong... lepaskan... saya?"bisik Karina menundukkan kepala tapi Derian mengangkat dagu Karina mengecup bibirnya sekilas. Karina tak menolak mereka saling menatap lekat, terpancar kerinduan di kedua pasang mata keduanya.Derian menciumnya lagi lebih lama lebih dalam,Karina yang tubuhnya sudah reflek mengikuti dan membalas ciuman Derian lama sangat lama dan sangat dalam.Tangan Derian tak bisa dikendalikan, perasaannya yang membuncah yang sudah diselimuti kabut gairah mulai menjelajahi setiap tubuh Karina.Karina pun yang juga sangat merindukan sentuhan Derian hanya mengikuti.
__ADS_1
Namun suara dering ponsel Derian yang sangat kencang berdering tak henti-hentinya berdering membuat Derian mengumpat kesal karena mengganggu kesenangannya.Derian tau nada dering ponsel itu,itu adalah sekretarisnya yang memohon memberi nada dering khusus yang nyaring untuknya yang katanya jika sesuatu yang terjadi pada tuannya, tuannya akan secepatnya menerima panggilannya.Noah sudah seperti adiknya yang berani memaksanya jika itu berkaitan dengan kesehatannya.
"Ya.."jawab Derian emosi.
"...."
"Aku tak akan pulang!"serunya menjawab ucapan yang diseberang.
"...."
"Aku..."sambil melirik Karina yang juga menatapnya dengan wajah memerah menahan malu segera memalingkan wajahnya, masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya.
Karina menatap cermin di kamar mandi. Menyentuh bibirnya, ciuman tadi hampir saja membuatnya kehilangan kendali.Sangat lembut dan masih sama seperti ciuman mereka dulu.Dan Karina merindukan itu.
Karina keluar kamar sudah selesai mandi dan mengenakan piyama tidurnya.
"Maaf...saya..."
"Astaga.Anda masih disini?"seru Karina yang terkejut saat melihat Derian yang lagi-lagi tiba-tiba muncul di belakangnya, mengelus dadanya.
"Saat melihat saya sambil menerima telpon tadi, saya kira anda pamit untuk pulang?"jelas Karina membawa botol air mineralnya dan meneguknya.
"Begitukah?Tapi bukan itu maksud saya? Saya sudah bilang kalau saya akan menginap..."
"Kumohon tuan?"ucapan Karina menghentikan kata-kata Derian, terlihat sorot mata Karina memohon.Dan Derian terpaksa menuruti, meski dirinya ingin mengungkapkan kebenaran bahwa dirinya sudah ingat tentang dirinya, Derian mengurungkan niatnya.
"Baiklah.Tapi saya akan kembali."kata Derian akhirnya.
"Untuk apa?"sahut Karina cepat menatap Derian meminta jawaban.Derian bingung ingin menjawabnya,dia berpikir untuk mencari jawaban yang tepat mencari-cari alasan agar bisa di dekatnya,meski ada suaminya, Derian tak peduli.Kali ini apapun yang terjadi Derian tak akan melepaskan Karina lagi.Lebih baik dia mati.
"Untuk membalas minuman ini?"jawab Derian akhirnya menemukan alasan dengan mengangkat botol airnya tadi.Karina tersenyum bingung.
"Itu hanya air, anda tak perlu sampai menggantinya..."
"Tapi saya perlu!!"jawab Derian tersenyum yakin.Karina melongo atas jawaban Derian yang seolah mencari-cari alasan untuk bersamanya,tapi Karina segera menepisnya.
__ADS_1
"Terserah anda.."jawab Karina akhirnya memilih mengalah mengedikkan kedua bahunya,sejak dulu jika berdebat dengan Derian,Karina tak pernah menang, Derian selalu memaksakan kehendaknya tapi selalu kehendak baik.
Setelah 2 minggu kejadian itu, Derian selalu datang padanya, memaksanya mengantar jemputnya kerja. Setiap malampun dia selalu datang membawa makanan dengan alasan ingin makan berdua,karena di rumah tak ada teman makan.Alasan yang klise dan terkesan modus. Derian selalu datang sendiri dengan mobil Lamborghini Aventador nya yang dulu, yang sering dipakai bersama dengannya.
Tapi tak pernah mencoba untuk melakukan lebih dari itu, hanya sekedar makan,ngobrol dan mengantar jemputnya,itupun dia langsung pergi tak minta yang aneh-aneh padanya.Juga tak memaksa untuk menginap lagi.Tapi hal itu semua malah membuat Karina sedikit kecewa, entah karena apa.
**
"Tuan,apa anda masih berharap dengan nona Karina?"tanya Noah pagi itu,saat tuannya memintanya untuk mencari informasi kabar tentang Karina beberapa bulan terakhir ini. Semenjak tuannya melarikan diri untuk menemui dokter psikolognya,entah lari dengan siapa,Noah tau saat itu tuannya melarikan diri dengan seseorang, tuannya juga tak memberi tahunya jika dia bertanya.
Derian tak langsung menjawab pertanyaan Noah, menatap Noah tak suka.
"Kau terlalu kawatir Noah,aku tak apa-apa.Aku tau apa yang aku lakukan."
"Tuan, kesehatan anda tak main-main, karena siapa anda menjadi seperti ini?"
Derian meletakkan berkasnya, mendongak menatap Noah jengah.Sejak perihal kesehatannya Noah menjadi lebih posesif tentang dirinya.Dia sangat sensitif saat dirinya mulai kabur-kaburan jika jadwal bertemunya dengan dokter psikolognya. Derian menghela nafas.
"Baiklah... aku akan katakan sebenarnya."Noah tersenyum senang.
"Aku bertemu Karina lagi."
TBC
Mohon tetap beri like dan vote nya...
Saran-sarannya..
Makasih sudah membaca 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1