
Dion bergerak gelisah di kamarnya, hari ini dia berencana untuk menemui orang tua kandungnya. Dia sudah merencanakan hal itu beberapa waktu lalu dengan kekasihnya. Senyum terukir di sudut bibirnya. Tentang rencananya hari ini bisa sekalian berkencan dengan kekasihnya.
Reno yang juga menawarkan diri untuk mengantarkannya ditolak oleh Dion. Dia ingin datang sendiri, mencoba keberaniannya untuk menghadapi masalahnya sendiri.
Tapi, sudah dari pagi pesan yang dikirimkan pada kekasihnya itu tak dapat balasan bahkan dibacapun tidak. Dion sungguh frustasi, tidak hanya satu atau dua pesan saja yang dikirim, berkali-kali dia mengirimkannya. Dion ingat jika dia jangan menghubungi dulu sebelum Angel mengirim pesan padanya.
Tapi sudah hampir tiga jam pesannya tak dibaca maupun dibalas. Dion pun memberanikan diri untuk menghubungi ponsel Angel berharap tak ada yang terjadi padanya. Panggilan pertama belum dijawab, hingga panggilan ketiga deringan kedua baru diangkat.
"Sayang, kau tau aku...." Dion dengan antusias bertanya dan langsung membungkam mulutnya saat di seberang sana bukan Angel yang menerima panggilannya, padahal benar-benar dilihatnya sekali lagi nomer ponsel kekasihnya yang dihubunginya.
"..."
"I..iya tuan..." jawab Dion terbata-bata.
"..."
"Kalau dia sibuk..."
"..."
"Maksud anda?"
"..."
"Baik. Saya segera kesana." jawab Dion menutup ponselnya.
Tangannya gemetar tubuhnya menegang, dengan susah payah dia menelan ludahnya saat tau siapa yang menerima panggilannya di ponsel Angel. Papa Angel yaitu tuan Derian, orang yang terkenal tegas dan galak. Bahkan bisa dikatakan menyeramkan dan tanpa belas kasihan jika ada seseorang berbuat kesalahan padanya.
Bulu kuduk Dion tiba-tiba bergidik teringat pernah mendengar rumor yang didengarnya itu. Dan sekarang dia diminta untuk menemuinya di rumah besar dan mewah itu, sekarang. Dion ingin sekali bersembunyi dan merutuki kebodohannya tadi, kenapa dia sampai dengan berani menghubungi ponsel Angel.
Bahkan Angel selalu mewanti-wanti mengingatkannya untuk tidak sekalipun menghubunginya jika Angel belum mengirim pesan padanya. Dan sekarang karena kegelisahan dan kecerobohannya karena mencemaskan pesannya yang tak kunjung dibalas, Dion dengan yakinnya menghubungi langsung ponsel Angel.
Dan sekarang menyesalinya pun percuma, jika dia sampai tak muncul sesuai perintah tuan Derian bukan hanya dirinya atau Angel, tapi hubungan mereka kedepannya dipertaruhkan. Bisa saja tuan Derian ingin memberinya tes mental atau tes keberanian padanya sejauh mana dirinya serius terhadap hubungannya pada Angel, mengingat dulu dirinya waktu kecil sudah mengejar-ngejar Angel sampai membuatnya trauma bertemu dengannya.
Dion menghela nafas panjang dan berat. Dia terpaksa mempersiapkan diri untuk menemui tuan Derian, semoga saja dia tidak pulang hanya tinggal nama. Tapi, tak mungkin dia akan membunuhnya toh bukan kesalahan yang sangat fatal dilakukannya.
Biarpun dia berpacaran dengan Angel, tapi mereka baru sebatas berciuman saja belum lebih dari itu atau... jangan...jangan... ini tentang beberapa waktu lalu, kalau Angel pernah menginap di rumahnya? batin Dion menepuk jidatnya mengingat sesuatu.
Matilah aku! batin Dion. Kenapa? Bukannya bagus jika tuan Derian meminta pertanggungjawaban padanya, paling-paling mereka akan segera dinikahkan. Haha... betul pasti betul begitu. batin Dion tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya benar-benar menikahi gadis yang paling dicintainya. Bukankah itu impianku? batin Dion lagi.
Setelah bersiap-siap sekedarnya, Dion mengambil sepeda motornya dan langsung beranjak pergi menuju ke rumah Angel. Dion berusaha mengendalikan kegelisahannya. Apapun yang dihadapinya nanti dia harus berani.
__ADS_1
Dion sudah duduk di sofa ruang tamu rumah mewah tuan Derian. Dengan Derian duduk di depannya di seberang meja. Menatap Dion dengan tajam dan dingin penuh intimidasi. Dion yang mencoba berani duduk tegak menghadap langsung ke mata Derian. Meski hatinya menciut melihat tatapan dingin Derian, Dion memberanikan diri untuk terus menatap wajah yang mengintimidasinya itu.
"Ada yang mau kau katakan?" tanya Derian dengan nada datar dan dingin dengan suara bariton yang mengintimidasi.
"Boleh saya bertanya tuan?" tanya Dion balik, masih belum paham yang dibahas saat ini.
Derian menghela nafas panjang.
"Katakan!"
"Kita sedang membahas tentang apa ya tuan?" tanya Dion sopan.
"Sejak kapan kalian pacaran?"
"Eh..." wajah Dion tiba-tiba memerah kaget dengan pertanyaan Derian yang seolah sudah mengetahui hubungannya dengan Angel.
"Baru... beberapa minggu. Lebih tepatnya 2 minggu 3 hari." jawab Dion tegas.
"Berapa umurmu?" Dion semakin tak mengerti pertanyaan macam apa ini? batinnya.
"Enam belas tahun tuan."
"Dan Angel?" semakin membuat Dion bingung.
"Kau tau artinya?" tanya Derian lagi.
Dion menghela nafas, menelaah setiap pertanyaan dan perkataan Derian mengenai umur mereka.
"Apa masalahnya jika saya memang mencintai putri anda?" ucap Dion tegas balik bertanya. Derian menatap Dion lekat, menatapnya mulai dari ujung kaki dan ujung kepala.
"Aku tak mempersoalkan umur atau siapapun dirimu bahkan statusmu. Tapi, bagaimana dengan dirimu. Bahkan kau masih di bawah umur. Meski kau sudah kuliah karena loncat kelas berdasarkan prestasimu. Bagaimana mungkin putriku pacaran dengan anak di bawah umur. Kau pikir apa yang akan terjadi jika saat kalian pacaran terciduk satpol PP dan berbuat mesum meski belum sampai berhubungan intim? Bukan kau yang akan disalahkan, tapi putriku yang akan bermasalah karena berhubungan dengan anak di bawah umur dan berciuman mesra di tempat umur. Dan putriku akan dicap sebagai gadis yang tidak tau malu." jelas Derian.
Seketika wajah Dion memerah karena menyinggung tentang ciuman mereka, yang bahkan diketahui oleh tuan Derian, sungguh membuatnya malu dan kehilangan muka.
"Saya mencintainya, saya akan bertanggung jawab atas kelakuan saya." jawab Dion tegas.
"Dengan apa? Saat kalian diamankan, kau kira mereka akan percaya ucapan siapa? Anak dibawah umur?" sindir Derian tegas. Dion balas menatap wajah Derian.
"Saya mencintainya dengan seluruh hidup saya dan saya hanya butuh anda merestui hubungan kami. Selebihnya saya akan menjaganya walau nyawa taruhannya." ucap Dion tegas.
"Begini saja. Kenapa kalian tak konsentrasi untuk kuliah kalian lulus dulu?" ucap Derian memberikan jalan tengah.
__ADS_1
"Maaf... saya akan melakukan keduanya dengan seimbang." jawab Dion masih teguh pada pendiriannya.
"Maksudmu kau tetap tak akan menyerah dengan hubungan kalian?" tanya Derian yang diangguki yakin oleh Dion.
"Kalau begitu buktikan!" tantang Derian.
"Apa? Eh,..." Dion spontan menutup mulutnya.
"Jauhi putriku sementara waktu. Urus kuliahmu dulu sampai akhir. Jika perasaanmu masih tetap sama atau bahkan lebih besar pada putriku. Aku akan langsung menikahkan kalian." tantang Derian.
"Eh..." entah angin segar dari mana, perkataan terakhir Derian merupakan angin segar untuk restu dari calon ayah mertuanya.
"Apa saya benar-benar tak boleh bertemu dengannya sekalipun?" tawar Dion ragu.
"Apa yang mau kau katakan?"
"Mengatakan bahwa tuan merestui hubungan kami."
"Hei, apa yang kau pahami dari ucapanku?" bentak Derian membuat nyali Dion semakin menciut.
"Tuan, bagaimana jika saya merindukannya?" pinta Dion memelas.
"Kau... bukannya kau terbiasa menguntitnya?" bentaknya lagi meski tidak ada niat untuk memarahinya.
"Ah, benar... eh... Bagaimana tuan tau?" pertanyaan spontan dilontarkan oleh Dion membuat Derian semakin emosi.
"Kau mau aku melaporkanmu atas tuduhan penguntitan?"
"Tidak tuan, tidak. Maafkan saya... dan terima kasih. Saya akan buktikan nanti, kalau saya pantas berada di sisinya." jawab Dion yakin. Derian menghela nafas lelah.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.