
Vio berdiri di depan meja ruang kerja Derian. Dia berdiri tegak menghadap Derian yang sudah duduk di kursinya menatap Vio lekat dengan tatapan tajam dan dingin. Tatapannya seolah ingin menguliti Vio saja. Namun Vio hanya terdiam tak mau mengatakan apapun sebelum Derian berkata apa maksudnya memanggilnya secara pribadi ke dalam ruang kerja pribadi Derian.
Derian menghela nafas panjang, menatap Vio yang menghindari pandangannya meski tak tampak gugup dan gemetaran seperti tadi. Seolah dia tahu alasan dipanggilnya secara pribadi ke ruang kerjanya.
"Hubungi Dion, suruh dia kemari sekarang!" titah Derian sedikit emosi.
"A... apa maksud papa?" tanya Vio terbata-bata.
"Papa tak mau berteriak padamu, papa hanya ingin kejujurannya." jawab Derian berdiri dari kursinya memasukkan kedua tangannya ke dalam masing-masing saku celananya mendekati Vio.
"Ku... kurasa ini bukan waktu yang tepat pa." elak vio gugup.
"Kau mengenal papa? Kalau papa bilang sekarang artinya apa?"
"I...itu, dia sedang meeting pa, bagaimana kalau..."
"Violeta..." ucap Derian yang artinya tidak mau dibantah lagi. Vio segera menghubungi Dion dengan ponselnya dengan tatapan intimidasi dari papanya.
"..."
"Ha... halo..." jawab Vio gugup.
"..."
"Bisakah kau kesini sebentar?"
"..."
"Papa ingin bertemu denganmu." jawab Vio sambil mengatap Derian yang juga sedang menatapnya lekat. Vio segera mengalihkan pandangannya begitu Derian juga menatapnya.
"..."
"Aku juga." Vio menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Dia sedang kesini pa." ucap Vio mencoba menyingkirkan kegugupannya.
"Vio..." panggil Derian lembut menurunkan sedikit nada suaranya.
Vio yang terbiasa dipanggil dengan nada lembut sedari kecil tanpa sadar hatinya trenyuh dan merasa menyesal karena telah membuat Derian sedih. Tatapannya sekarang terlihat lebih lembut dan penuh kerinduan seorang ayah terhadap putri kesayangannya.
"Maaf pa... maafkan Vio..." lirih Vio memeluk tubuh Derian intens.
Dia sungguh merasa sangat bersalah pada Derian, Derian sejak kecil terlalu lebih menyayanginya sedari kecil. Melebihi saudari-saudari yang lainnya, tapi itu tak membuatnya berbesar kepala karena mendapatkan kasih sayang lebih dari Derian. Vio tetap selalu menjaga diri dari kecemburuan saudari-saudarinya.
"Apa kau tak mempercayai papamu lagi nak? Kenapa kau menyembunyikannya dari papa?" lirih Derian sambil memeluk putri kecilnya.
"Maaf pa, bukan maksud Vio mau menyembunyikan dari papa, Vio menunggu waktu yang tepat pa, Vio tak mau membebani dengan masalah lagi disaat papa juga sedang terbebani masalah kak Angel." ucap Vio masih berderai air mata di dalam pelukan Derian.
"Kau tahu kalau papamu ini tak pernah tidak tahu tentang anak-anaknya, seharusnya kalian menunggu papa." ucap Derian mengelus punggung putrinya.
"Maaf pa, maafkan kami."
"Sayang..." panggil Dion yang mendapat tatapan tajam dan dingin dari Derian. Tatapan dinginnya seolah ingin menguliti tubuh Dion.
"Papa janji tak akan berbuat kasar padanya?" tanya Vio menatap Derian masih berderai air mata.
"Entahlah!" Derian menjawab tanpa menatap wajah putrinya, dia tak akan bisa berjanji dengan benar jika sambil menatap putrinya yang matanya penuh permohonan.
"Pa..." pinta Vio memelas.
"Pergilah ke kamarmu!" perintah Derian memalingkan muka menatap sekeliling ruangannya.
Dion meraih bahu istrinya hingga istrinya berbalik menatapnya. Dion menggeleng menghibur istrinya dengan tatapan mata seolah mengatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Bag bug bag bug
Pukulan bertubi-tubi diberikan Derian pada Dion begitu diperkirakan Vio sudah sampai di kamarnya. Dion hanya diam menerima segala pukulan dari ayah mertuanya, dia tak melawan karena merasa bersalah dan dia memang pantas dihukum dengan pukulan sebanyak apapun, itu tetap tak akan bisa meredakan kekecewaan seorang ayah yang begitu menyayangi putrinya.
__ADS_1
Tapi Dion malah bersyukur atas pukulan ayah mertuanya, dengan begitu tak ada halangan lagi untuk ayah mertuanya yang mau tidak mau terpaksa merestui pernikahannya.
Dion terkapar tak berdaya di lantai ruang kerja Derian. Derian terlihat ngos-ngosan setelah puas menumpahkan segala kekesalan dan kemarahannya padanya. Nafasnya memburu, wajahnya sudah kembali datar melihat menantu malingnya yang sudah terkapar tak berdaya.
"Kau pantas mendapatkannya." desis Derian.
Tok tok tok
"Masuk!" seru Derian mendengar pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.
Dia menghubungi ponsel bi Ani tadi setelah menuntaskan kemarahannya pada Dion.
"Obati dia, jangan biarkan istriku mengetahui luka itu! Bawa ke kamar Vio." perintahnya, Derian berlalu meninggalkan ruang kerjanya, amarahnya masih belum sepenuhnya reda, tapi dirinya sudah tak tega memberikan hukuman lebih pada pemuda yang dicintai putrinya.
Dia ingin menemui istrinya yang bisa mengendalikan amarahnya saat ini. Bi Ani dan seorang pelayan pria yang diajaknya menemui panggilan majikannya tersentak kaget menutup mulutnya melihat pemuda itu terkapar tak berdaya di lantai ruang kerja majikannya. Mereka tak berani berbicara atau berkomentar apapun selain menuruti perintah majikannya.
"Baik tuan." jawab bi Ani memapah tubuh Dion yang sudah tak berdaya, membawa ke kamar Vio. Vio tersentak melihat wajah Dion yang sudah babak belur tak berbentuk, dengan darah yang sudah diobati tadi oleh bi Ani sebelum dibawa ke kamarnya.
"Mas..." jerit Vio ketakutan. Bi Ani dan pelayan yang memapah tadi membaringkan tubuh Dion di ranjangnya.
"Kenapa bisa begini bi? Papa kejam." kesal Vio sambil menangis menyentuh tubuh Dion yang terluka.
"Maaf non. Bibi permisi." ucap bi Ani pergi meninggalkan kamar Vio diikuti pelayan yang memapahnya tadi.
"Mas... kau tak apa?" bisik Vio lirih dengan derai air mata yang tak henti-hentinya.
TBC
.
.
.
__ADS_1