
Derian membuka matanya perlahan, menatap sekeliling. Rumah sakit lagi, batinnya.Tapi suasana hatinya terlihat membaik,saat ingat apa yang diimpikannya tadi.Derian tersenyum penuh arti, membuat Noah tertegun heran menatap tuannya yang tersenyum setelah sadar dari pingsannya keesokan paginya.
"Apa ada hal yang membuat anda bahagia tuan?"tanya Noah membuyarkan lamunan Derian, menatap Noah tak suka, membuatnya berpikir lama untuk menceritakan tentang mimpinya atau tidak kepada sekretarisnya itu.
"Kau membawa baju gantiku?"ucap Derian tak membalas pertanyaan Noah.Noah hanya menghela nafas meletakkan baju ganti tuannya yang dibawa dari apartemen tuannya.
"Kata dokter tuan harus lebih banyak istirahat tuan?"ucap Noah mencegah tuannya agar tidak memaksakan diri.
"Dimana mobilku?Aku akan berangkat sendiri ke kantor,kau tak perlu mengantarku."ucap Derian tegas dan lagi-lagi mengabaikan ucapan Noah.
"Tuan... "seru Noah menahan kunci mobil tuannya.Derian memaksa mengambil kunci mobilnya.
"Sudah kukatakan aku tak apa?Aku bukan orang pesakitan.Aku sudah sehat."ucap Derian tersenyum menepuk-nepuk bahu Noah.Noah menghela nafasnya lagi, percuma membujuk tuannya lagi.Tapi dilihat dari senyum tuannya seperti ada hal yang menyenangkan yang terjadi pada tuannya, entah apa itu.Asal tuannya senang,Noah tak masalah, apapun itu.
Derian mengendarai mobilnya dengan penuh semangat, senyuman di wajahnya tak pernah luntur dari wajahnya.Dikemudikan mobilnya membelah jalanan ibukota.
Derian menghentikan mobilnya, agak jauh dari tempat berhentinya sebuah mobil berhenti tepat didepannya.Derian menatap mobil itu, seperti mengenali sosok wanita yang keluar dari mobil sebelah penumpang dan juga pria yang membukakan pintu mobil itu.
Rahangnya mengeras, tangannya mengepal erat, wajahnya berubah dingin dan tajam.Saat mengenali siapa pria dan wanita yang baru turun dari mobil di depannya itu membuat Derian marah,dia adalah Karina dan suaminya Reno, Derian sudah mengingat Karina kembali,saat dirinya jatuh pingsan dihadapan Karina kemarin.
Itulah sebabnya sejak pagi saat terbangun dari pingsannya kemarin dalam ingatannya ada Karina yang membantunya membawanya ke rumah sakit dengan wajah cemas.Derian tersenyum senang melihat kecemasan di wajah Karina tentang keadaannya, yang artinya Karina masih sangat mencintainya juga.Dan pagi ini dirinya ingin menyapa Karina lagi dengan mengejutkannya bahwa dirinya sudah mengingat kembali tentang Karina.Tapi bukannya dirinya yang membuat kejutan tapi dirinya yang terkejut.
Tontonan mesra pasangan suami istri di depannya membuat Derian urung untuk mengejutkan Karina.Bahkan sekarang Derian tak yakin tentang perasaan Karina padanya.
"Hahaha...haha..."Derian tertawa dingin di dalam mobilnya,dia merasa seperti seorang pecundang yang begitu mencintai seseorang tapi hanya bertepuk sebelah tangan. Ah, seharusnya aku sadar, selama berhubungan dengan Karina,dia tak pernah mengatakan kalau dirinya juga mencintaiku, walau dia menerima perlakuanku tanpa bantahan,batin Derian tersenyum miris.Ingatan tentang Karina yang memutuskan hubungan kembali muncul, Derian menunduk memukul setir mobilnya, mencengkeram erat setir itu, menyalurkan kekesalannya.
__ADS_1
**
"Aku akan mengantarmu?"pinta Reno pagi itu saat melihat Karina sudah bersiap berangkat kerja mengambil ponselnya hendak memesan ojol.
"Aku... "
"Kumohon?"pinta Reno memelas.Karina hanya mengangguk mengiyakan.Reno tersenyum senang segera mengambil jasnya bersiap untuk berangkat juga.
Saat mobil terparkir apik di depan tempat kerjanya,tak disangka Reno memperlakukannya dengan manis, seperti membukakan pintu mobil untuknya.
"Kalau kau sudah pulang, hubungi aku,aku akan menjemputmu?"basa-basi Reno setelah keluar dari mobilnya.Karina hanya mengangguk tersenyum.
Saat mobil Reno meninggalkan tempat kerjanya, sekilas juga terlihat mobil Lamborghini merah hati di belakang mobil Reno yang juga meninggalkan tempat Karina kerja, refleks Karina menatap mobil yang sangat dikenalinya.Karina menatap mobil itu melaju kencang,Karina hanya tersenyum getir.
Mungkinkah itu tadi Derian?Apa dia sudah sembuh?batin Karina, segera masuk ke kantor tempatnya bekerja.
Noah menghela nafas panjang, mendekati tuannya.Mencoba menjelaskan duduk permasalahan tentang meeting hari itu. Derian mencoba mengendalikan emosinya,rasa sakit yang dialaminya dulu hingga membuatnya koma membuatnya sedikit trauma dan Derian tak mau hal itu terjadi lagi.Meeting kembali dimulai dengan penjelasan Noah, Derian menyerahkan semua pada sekretarisnya itu.Sedang Derian mencoba mengendalikan emosinya.
**
Pulang kerja Karina duduk menunggu di cafe dekat tempatnya bekerja, menunggu seseorang yang membuatnya gugup.Saat pintu cafe terbuka Karina berdiri saat orang ditunggunya muncul, semakin menambah kegugupannya.
"Apa kabar Bu?"sapa Karina yang ternyata sedang menunggu Hesti,ibu mertuanya. Karina meraih tangan Hesti untuk berjabat tangan tapi ditolak Hesti yang segera duduk di kursi depan meja yang sudah dipesan Karina.Hesti menghubunginya saat dia di tempat kerjanya, untuk bertemu.Entah kenapa Hesti tak memintanya untuk datang ke rumahnya malah mengajaknya bertemu di luar.
Sudah lebih dari sebulan sejak Karina dihina dan diusir secara halus oleh Hesti dari rumahnya saat itu. Karina pun sudah berusaha melupakannya dan menerima dirinya bahwa terlalu banyak kekurangan yang dimilikinya sebagai seorang istri dan wanita.Bahkan Karina sudah tak terlalu peduli apa yang dilakukan Reno yang semakin sering pulang terlambat,Karina sungguh tak mau tau,dia ingin fokus pada dirinya sendiri, jika terlalu ikut campur urusan yang membuatnya sakit hati, dirinyalah yang akan rugi.
__ADS_1
"Langsung saja!"ucap Hesti masih ketus seperti terakhir mereka bertemu.Sambil menyerahkan sebuah amplop coklat pada Karina.
"Ini.... apa?"tanya Karina ragu menerima amplop coklat itu.
"Lihatlah!"perintah Hesti dengan mata menunjuk pada amplop coklat itu.Karina membuka amplop coklat itu perlahan, dadanya berdebar kencang merasakan firasat buruk akan amplop itu, perlahan dirinya membuka amplop itu meski tak yakin.
Matanya membelalak saat membaca isi amplop coklat itu, membaca ke bawah dengan detail, seolah tau maksut Hesti tanpa bertanya tapi dia tetap bertanya.
"Ini... maksudnya apa Bu?"tanya Karina ragu.
"Apa perlu dijelaskan lagi? Kurasa mungkin Reno tak akan pernah sanggup untuk melepasmu,entah karena masih mencintaimu atau karena merasa kasihan padamu.Karena dia juga sudah bahagia dengan istrinya yang lain dan anaknya, seharusnya kamulah yang harus tahu diri untuk pergi darinya."
Kata-kata Hesti bagai hujaman senjata tajam pada hati Karina,Karina membelalak tak percaya atas semua perkataan Hesti, orang yang paling dihormati setelah suaminya dulu, kini dirinya begitu tak berharga di matanya hanya karena tak bisa memberinya seorang keturunan.
"Ajukan gugatan itu!Aku akan memberikan kompensasi yang cukup.Tinggalkan Reno! Biarkan dia bahagia dengan anak dan istrinya."ucap Hesti lagi semakin menambah luka untuk Karina.Karina hanya terdiam shock mendengar perkataan Hesti.Hesti langsung pergi meninggalkan Karina seorang diri yang masih diam merenung di mejanya.
TBC
Mohon like dan vote nya,,, sarannya juga..
Makasih🙏🙏
.
.
__ADS_1
.