
Karina berjalan menuju bangku sekolah dasar tempat anak-anaknya menuntut ilmu. Setelah menjemput si kembar di taman kanak-kanak, Karina melajukan mobilnya menuju sekolah dasar Angel dan Putri menuntut ilmu.
Karina sudah diizinkan oleh suaminya untuk membawa mobil sendiri. Sudah lebih dari 3 bulan dirinya keluar dari rumah sakit, Karina merengek pada suaminya untuk diizinkan membawa mobilnya sendiri untuk menjemput anak-anak ke sekolahnya. Dengan deretan pesan yang disampaikan suaminya, Karina hanya mengangguk mengiyakan meski entah apa peringatan suaminya tadi tak semua diingatnya, intinya suaminya menyuruhnya untuk berhati-hati.
Dan kini dirinya duduk di bangku taman sekolah dengan si kembar sedang bermain-main di dekat taman itu.
"Karina..."sapa seseorang menghampiri Karina yang Karina sedikit lupa dan mencoba mengingat-ingatnya.
"Mas Reno?"balas Karina yang ternyata Reno yang menyapanya.
"Apa yang mas Reno lakukan disini?"tanya Karina lagi.
"Aku... menjemput Dion, dia sekolah disini baru kelas 2."jawab Reno ikut duduk di depan bangku taman depan Karina.
"Kau sendiri...?"tanya Reno balik.
"Ah, aku menjemput anak-anakku juga."jawab Karina.
"Mama, lihat... aku menangkap kupu-kupu?" ucap Vio si kembar perempuan sambil memegang kupu-kupu di tangannya tersenyum senang.
"Iya kah sayang?"jawab Karina antusias tersenyum menatap kupu-kupu di tangan Vio.
Putrinya tersenyum bangga dan Arthur putranya ikut mendekat melihat kupu-kupu yang dipegang kakaknya.
"Tapi kasihan sayang? Dia tak bisa hidup bebas lagi?"lirih Karina menyesal.
"Begitukah ma?" Karina mengangguk.
"Kita lepaskan ya?" bujuk Karina.
Putrinya mengangguk dan melepaskan kupu-kupu itu dan dia terbang bebas lagi di angkasa.
"Mereka...."Reno yang sejak tadi menyimak mereka ikut tersenyum dan tak meneruskan pertanyaannya.
"Mereka anak-anakku. Anak-anak kandungku." jawab Karina hati-hati tak ingin menyinggung perasaan Reno, tapi hati kecil Reno mencelos melihat putra putri kandung Karina yang benar-benar lahir dari rahim Karina.
__ADS_1
Entah kenapa Reno menjadi merasa bersalah. Dulu dirinya yang memperlakukan buruk pada Karina seolah sekarang malu.
"Beri salam sama om Reno!"ucap Karina pada anak-anaknya.
"Salam kenal om!"ucap kedua anak Karina bersamaan menundukkan kepala dan maju satu persatu menyalami tangan Reno dan mencium punggung tangan Reno.
Reno merasa terharu, semakin dirinya merasa bersalah pada Karina dan menyesal dengan perlakuan buruknya pada Karina dulu.
"Mama..."seru Putri menghambur memeluk Karina.
"Ma...Mama..." Angel berlari ke belakang tubuh Karina seolah menghindari seseorang yang sedang mengejarnya.
"Dion..."seru Reno saat Reno melihat Dion berlari mengejar Angel dan berlari menghampiri gadis yang bersembunyi di balik tubuh Karina.
"Papa..."seru balik pria kecil berumur sekitar 7 tahunan langsung berbelok menuju Reno.
Angel terheran menatap Dion dan menghela nafas lega karena Dion tak mengejarnya lagi.
"Sayang... kau kenapa?"tanya Karina melihat gelagat putri kecilnya tadi ketakutan hingga bersembunyi di balik tubuhnya dan sesaat kemudian dia bernafas lega.
"Papa, aku mau main ke rumahnya!"ucap Dion menunjuk pada Angel. Angel langsung membelalak.
"NGGAK!!"teriak Angel membuat semua orang disitu terkejut termasuk Karina menatap Angel.
"Sayang..."Karina menghibur dengan mensejajarkan tubuhnya dengan Angel.
"Jangan ma...jangan boleh... kita pulang sekarang!" rengek Angel.
Reno yang juga ikut terkejut dengan teriakan Angel beralih menatap Angel yang batal menjawab pertanyaan Dion.
"Aku mau pulang sekarang ma... sekarang..." rengek Angel yang tak dibuat-buat, dia menangis ketakutan, bukan ketakutan tapi keengganan untuk lebih tepatnya, seolah jijik pada Dion dan tak mau dekat-dekat dengannya apalagi berurusan dengannya.
"Baiklah mas, kami pulang dulu?"pamit Karina terpaksa menuruti keinginan putrinya yang membuatnya kasihan.
"I..iya Rin!"jawab Reno gelagapan merasa bersalah karena tangisan gadis kecil itu yang mungkin karena Dion putranya.
__ADS_1
Di perjalanan menuju rumah, Angel hanya diam tak bergeming. Sebanyak apapun Karina bertanya Angel tetap tak mau buka mulut tentang alasannya tadi. Karina hanya menghela nafas kasar mengalah untuk tak bertanya lagi.
Bahkan ketiga anaknya Putri, Vio dan Arthur terlihat sedang senang sendiri dengan kesibukan mereka bercerita kejadian yang mereka alami tadi di sekolah. Angel yang duduk di depan sebelahnya hanya diam menatap luar jendela mobil dengan tampang masih cemberut.
**
"Sayang, apa kau nakal pada kak Angel?"tanya Reno saat mereka tiba di rumah.
"Tidak."jawab Dion singkat sambil tersenyum senang menuju kamarnya, Reno melihat itu dan mengikuti langkah Dion menuju kamar.
"Kenapa dia tadi berteriak? Kau pasti melakukan kesalahan padanya?"pancing Reno lagi.
"Tentu tidak! Kenapa?"jawab Dion masa bodoh sambil melepas seragamnya dibantu bibi pengasuhnya.
"Papa akan marah padamu jika kau ketahuan nakal."tegas Reno yang melihat putranya enggan untuk jujur.
"Bukan seperti itu pa!"jawab Dion lagi, Reno masih diam belum menjawab menunggu penjelasan lebih lanjut dari putranya.
"Aku...aku... menyukainya.."jawab Dion lagi lirih diakhir katanya dengan wajah yang tersipu malu.
Reno melongo mendengar perkataan putranya, diapun tertawa terbahak-bahak, hingga memegangi perutnya yang tak bisa menahan rasa gelinya.
"Apa kau memaksanya untuk menyukaimu juga?" tanya Reno lagi penasaran memancing anaknya, dia tau betul watak putranya itu. Jika menginginkan sesuatu dia akan mendapatkannya, apapun caranya.
"Bagaimana papa tau?"Dion menoleh menatap papanya sambil mengancingkan baju gantinya, lebih sebal lagi sejak papanya menertawakannya.
"Kau salah sayang, bukan seperti itu menyukai seseorang. Lagipula kau lebih pantas menjadi adiknya."ucap Reno tertawa lagi meski tidak sekeras tadi. Dion semakin cemberut mendengar perkataan papanya dan melengos kesal.
Mohon dukungannya untuk naik level lagi🙏🙏
.
.
.
__ADS_1