Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 93


__ADS_3

"Apa dia sudah makan?" tanya Alena pada pelayan rumahnya saat dia makan malam di meja makan.


"Sudah nona, meski sedikit." jawab pelayan itu.


"Dia makan?" tanya Alena tak percaya.


"Iya nona, tuan bahkan makan sendiri dan tak pernah menjatuhkan barang-barang apapun." jawab pelayan itu.


"Benarkah?" Alena agak terkejut, biasanya Al tak mau makan meski dipaksa, dia akan terpaksa makan jika lapar dan dia tak mengamuk dengan melempar barang-barang di dekatnya.


Alena mengerutkan alisnya berpikir. Apa karena ucapanku kemarin? Apa dia merasa bersalah? batin Alena hanya diam saja meneruskan makannya.


"Dan...itu..." pelayan bicara lagi tapi seolah ragu tak meneruskan ucapannya. Alena menatap pelayan itu mengisyaratkan untuk meneruskan ucapannya.


"Sudah tiga hari ini tuan selalu mengajak keluar rumah walau hanya satu jam saat pagi dan sore hari." jelas pelayan itu takut-takut.


Pasalnya Al memaksa pelayan itu untuk membawanya keluar rumah sedang dia belum izin atau mendengar perintah dari majikannya Alena.


"Benarkah? Apa yang dilakukanya di luar rumah?" tanya Alena penasaran.


"Tuan minta tolong pak Maman untuk membantunya keluar rumah dan membantunya duduk di bangku taman." jelas pelayan itu, pak Maman adalah tukang kebun rumah itu. Alena terdiam, dia bingung ingin mengatakan apa, entah kenapa dia bibirnya tersungging senyuman yang membuatnya menghangat.


Alena menuju ruang kerjanya di rumahnya. Dia melewati kamar Al, dan menoleh ke dalam kamar melihat Al yang sedang ingin berbaring di ranjangnya tapi sangat kesulitan. Alena segera mendekat dan menangkap tubuh Al yang hendak terjatuh ke lantai.


"Kau tak apa?" tanya Alena menatap Al dengan raut wajah kecemasan.


Al menatap Alena yang sudah menangkapnya saat hendak terjatuh. Dan tak sengaja mereka berpelukan intens. Sesaat mereka saling menatap dalam satu sama lain.

__ADS_1


"Terima kasih." jawab Al memecah keheningan dan kecanggungan diantara mereka.


"Ah tentu." jawab Alena yang seketika gugup dan wajahnya memerah entah karena apa.


Pasti tadi dadaku menempel di dadanya. batin Alena. Kini Al sudah berbaring di ranjangnya.


"Panggil saja jika kau butuh bantuan, siapapun akan senang membantumu." ucap Alena berdiri di sisi ranjang menatap Al.


"Terima kasih." Alena mengangguk dan hendak berbalik namun dia kembali membalikkan tubuhnya menatap Al yang juga sedang menatapnya.


"Aku... minta maaf atas ucapanku tempo hari. Aku... pasti sangat keterlaluan. Maaf." ucap Alena...


"Tidak, kau tak perlu minta maaf karena yang kau ucapkan itu semua adalah benar. Tak seharusnya aku putus asa dengan keadaanku, seharusnya aku bersyukur dengan keadaanku meski cacat dan aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Dan itu artinya Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu telah banyak merepotkanmu. Maaf dan terima kasih." ucap Al tulus menatap Alena tersenyum. Alena ikut tersenyum.


"Aku juga minta maaf, aku menyesal karena keadaanmu ini karena kesalahan dan kecerobohanku. Maaf, tapi aku berjanji akan membantumu sampai kau benar-benar sembuh." janji Alena tersenyum menatap Al.


"Terima kasih."


"Terima kasih." jawab Al yang sudah mulai mau tersenyum dan menyapa Alena dengan benar.


"Oh iya namaku Alena." ucap Alena mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Aku Al..." Al menerima uluran tangan Alena yang tentu saja dengan tangan kirinya yang bisa digerakkan.


"Maaf... tangan kiri..." ucap Al mengedikkan kedua bahunya.


"Ah, tentu saja tak apa. Dan nama depan kita hampir sama. Apa aku boleh tahu tentang kamu?" tanya Alena ragu.

__ADS_1


"Untuk saat ini cukup itu saja yang ingin kuberi tahu. Dan semoga kau tak keberatan jika aku akan sedikit lebih lama lagi merepotkanmu." ucap Al ragu.


"Tentu, kau bisa merepotkanku dalam banyak hal, bagaimanapun juga aku bertanggungjawab atas dirimu dan keadaanmu." ucap Alena.


"Terima kasih, tapi untuk sekarang jangan bertanya siapa aku. Suatu saat aku pasti akan menceritakan semuanya tentang diriku. Untuk sekarang aku ingin fokus sembuh dulu. Aku malu menghadapi keluargaku tentang keadaan burukku." jelas Al.


"Ok... tentu, aku mengerti itu. Jangan sungkan jika kau membutuhkan bantuanku. Aku hanya bisa mendukungmu, semangat." ucap Alena sambil mengepalkan tangannya ke atas tanda memberi semangat pada Al.


Keduanya pun tertawa bersama, Alena sempat tertegun tak percaya melihat tawa lepas Al yang sungguh bahagia. Alena segera memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.


Apa aku sakit jantung? Kenapa dadaku berdebar-debar. batin Alena setelah sampai di kamarnya. Dia mengurungkan niatnya untuk ke ruang kerjanya karena merasa dadanya sedang tak baik-baik saja. Entahlah.


**


Pagi hari, tim dokter sudah sampai atas perintah Alena untuk melanjutkan kembali pemeriksaan serta terapi untuk pengobatan Al. Setelah Al selesai sarapan, tim dokter segera memeriksa kondisi seluruh tubuh Al. Dengan teliti dan seksama tanpa terlewatkan satu pun.


Al menuruti segala macam perkataan tim dokter itu tanpa bantahan sedikit pun. Al mengangguk-angguk dan mengiyakan apapun ucapan dokter yang memberinya saran agar cepat sembuh. Al mencoba dan mencoba lagi sesuai perintah tim dokter.


Meski sangat sulit pada awalnya, Al harus terus berusaha agar dirinya segera sembuh. Al hampir menyerah namun saat mengingat istrinya yang mungkin sedang menunggunya pulang, semoga.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2