Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 62


__ADS_3

Reno bergerak mondar-mandir di depan kamar Hesti, menunggu dokter keluarganya memeriksa keadaan mamanya.


"Oma kenapa pa?Oma sakit?"tanya Dion polos.


"Oma tak apa sayang."jawab Reno menenangkan putranya.


Dokter berdiri dan Reno segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan mama dok?" tanya Reno tak sabaran.


"Penyakit lama... ibu anda mempunyai diabetes dan kolesterol, untung jantungnya tak masalah. Dia hanya shock dengan kabar yang mungkin mengejutkannya."jelas dokter itu mengedikkan kedua bahunya.


"Terima kasih dok!"ucap Reno, dokter pamit setelah memberikan resep pada PRT rumah itu. Reno mendekati ranjang Hesti melihatnya sudah siuman.


"Mama tak apa?"Hesti hanya menatap wajah Reno sendu.


"Maafkan mama..."bisik Hesti lirih. Reno hanya menggeleng.


"Pasti sangat berat untukmu."ucap Hesti lagi dengan tatapan sendu menatap Reno mengelus punggung tangan Reno yang menggenggam tangannya.


Beralih menatap Dion yang memegang erat baju Reno takut melihat neneknya yang biasanya menatap penuh kebencian.


"Kemarilah nak!"lambai Hesti pada Dion, Hesti mencoba bangun dan duduk dibantu Reno. Dion mendekat meski dengan takut-takut sambil menatap Reno.Reno menganggukkan kepalanya,


"Maafkan Oma?"kata Hesti memeluk tubuh Dion, Dion tersenyum senang melihat neneknya tak memperlakukan buruk seperti kemarin-kemarin.


"Oma sakit?"tanya Dion polos.


"Oma tak apa."jawab Hesti mengecup kening Dion.


***


"Bagaimana keadaan anak-anak kami dok?"tanya Karina antusias saat dokter memeriksa kondisinya setelah seminggu operasi.

__ADS_1


"Anak-anak anda sudah dipindahkan ke ranjang bayi. Berat badannya sudah normal. Mungkin sebentar lagi akan diantar kemari." jelas dokter itu.


"Terima kasih dok?"sahut Karina tersenyum senang.


"Sama-sama, permisi."pamit dokter itu.


Perawat masuk ke ruangan Karina dengan membawa kedua putra dan putrinya. Karina menyambutnya dengan antusias dan gembira. Dirinya yang lukanya sudah mulai baik-baik saja menggendong putra laki-lakinya yang terlihat kehausan dengan mulut yang terbuka. Karina menyusui bayi laki-lakinya.


"Sayang..."seru Derian protes dengan kelakuan spontan Karina.


"Ya?"tanya Karina yang tak mengerti keluhan Derian.


"Mengapa kau tak memberikan susu formula saja?"tawarnya.


"Akan lebih baik bayi diberi ASI sayang?Dari awal aku hanya memberi mereka ASI, meski dengan memompanya sebentar."jelas Karina.


"Kalau begitu lakukan itu!"


"Lakukan apa?"


"Memberikan ASI kan?"


"Tidak. Setelahnya?"


"Apa?"


"Yang kau katakan tadi?"ucap Derian tegas sambil menggendong bayi perempuannya yang dibantu perawat untuk mengangkatnya.


"Katakan dengan jelas keinginanmu jangan berbelit-belit."seru Karina tak sabaran, entah kenapa Derian menjadi posesif padanya.


"Dia tak mau kau menyusuinya langsung." jawab bu Siti yang tiba-tiba muncul dari pintu ruang rawatnya. Karina langsung menoleh ke arah suara.


"Bu Siti. Kapan datang?"seru Karina tersenyum senang. Bu Siti menghampiri Karina yang masih duduk sambil memangku si bungsu.

__ADS_1


Putra Karina memang keluar terakhir, jadi mereka menyebutnya sang adik, sedang kakaknya perempuan. Derian yang sudah diceritakan tentang bu Siti ikut mendekati mereka dan mencium punggung tangan bu Siti. Sama halnya seperti Karina. Karina sudah menganggap bu Siti sebagai ibunya, karena bu Siti lah yang menolongnya saat pertama kali tiba di desanya.


"Kenapa kau egois sekali tak mau berbagi dengan anak-anakmu?"seru Karina saat sudah mengerti maksud keinginan suaminya.


"Karena itu memang milikku, tidak semua hal kita harus berbagi semua hal itu pada anak kan?" jawab Derian membela diri sambil menimang putrinya.


"Itu egois, kau tak seharusnya bersikap seperti itu pada anak-anak!"ucap Karina juga tak mau kalah.


"Kalau begitu beri mereka susu formula!" tegas Derian marah meletakkan putrinya kembali ke box bayi yang disediakan oleh pihak klinik. Dan berjalan ke luar ruangan meninggalkan Karina dan bu Siti berdua.


Apa dia tak mengerti? Meskipun mereka anak-anakku, aku juga tak mau berbagi dirimu pada siapapun termasuk 'bagian itu' hanya aku yang boleh melakukannya. batin Derian, berpisah dengan Karina dalam waktu yang tak singkat membuat Derian posesif dan tak rela jika dirinya harus berbagi dengan siapapun meski itu anak-anaknya.


Derian menghubungi Noah menanyakan kesiapan rumah baru mereka di kota. Setelah dokter mengizinkan mereka pulang, Derian akan langsung memboyong Karina dan kedua anaknya ke rumah barunya. Derian juga akan mencari pengasuh untuk membantu mengurus bayi mereka.


"Bu, bu Siti lihat dia, kenapa dia sangat egois?Dia terlihat kekanak-kanakan sekali. Mereka kan anak-anaknya juga, apa harus bersikap seposesif itu?"seru Karina tak suka. Meski apa perkataan suaminya diturutinya, dirinya tengah memompa ASI untuk kedua anaknya.


"Itu karena dia sangat mencintaimu?Kau tak lihat di matanya, dia sangat cemburu, karena kau terlihat hanya memperhatikan anak -


anakmu. Bagaimanapun juga kau telah meninggalkannya dalam waktu tidak sebentar. Dan saat bertemu lagi, anak - anakmu memonopolinya lagi."jelas bu Siti merasa mengerti keinginan Derian yang lumrah, karena diapun pernah mengalami saat memiliki putra pertama mereka dan entah kenapa sikap Derian seperti suaminya dulu.


"Apa aku keterlaluan?"tanya Karina setelah memikirkan perkataan bu Siti. Bu Siti mengangguk.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2